Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Berita TV
Assalamu'alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Belakangan ini marak diperbincangkan
di media tentang kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi pada anak.
Seperti fenomena Gunung Es, terlihat kecil dari permukaan, namun begitu
banyak kasus-kasus yang tak sempat disorot media. Nanum, ketika yang
kecil itu terungkap, yang lain pun ikut mencair dan terkuak ke
permukaan.
Irinos memang. Entah siapa yang mulanya menjadi pemicu, entah para pelaku yang memang mengalami gangguan mental alias sudah gila, sehingga sudah tidak mampu menggunakan akal sehatnya. Atau justru dari para korban yang mungkin memiliki daya tarik tersendiri, yang barang kali menyebabkan ketika setan lewat di depan orang yang tak pernah punya niatan atau kecenderungan ke sana pun akhirnya tergiur. Atau mungkin bisa jadi kedua-duanya? Entahlah. Yang jelas, itu adalah kenyataan yang ada.
Sahabat pembaca yang baik hatinya. Kurang layak jika kita acuh dengan permasalahan-permasalahan tersebut semisal dengan mengatakan "Halah, itu cuma di Tipi-Tipi". Pasalnya, bukan tidak mungkin kasus serupa ternyata sudah ada di dekat kita dan hanya belum kita sadari. Sahabat pembaca yang baik hatinya, kira-kira bagaimana perasaan sahabat ketika salah satu nama korban yang disebut dalam sebuah kasus itu nama anak-anak sahabat? Hancur berkeping-keping? Remuk tak berbentuk? Saya rasa itu.
Nah, coba kita kaji sebenarnya dimana akar permasalahannya. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang bisa saja memicu terjadinya hal-hal tersebut. Pertama mari kita tilik dari pelaku. Dalam hal ini, saya yakin setiap pelaku yang tengah beraksi tentu saja kehilangan Imannya. Karena jelas mereka tidak bisa berpikir layaknya orang beriman. Sedangkan dari segi korban yang dalam hal ini anak-anak, bisa jadi karena memang belum sampainya ilmu mereka.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang tua? Yupz, tentunya kita memang harus membentengi anak-anak kita dengan kita didik tentang syariat Islam sejak dini. Contohnya dengan kita ajarkan anak-anak kita untuk menutup aurat dengan benar atau mengajarkan cara bergaul yang baik. Selain itu sahabat, ada hal-hal yang lain yang bisa kita lakukan misalnya dengan hal-hal berikut ini ; memilihkan sekolah yang disana kita bisa ikut berperan aktif dalam mengawasi dan mendidik anak kita, bukan berarti kita harus setiap saat kita berada di sekolah itu lho... Hal yang lain misalnya dengan kita mengawasi pergaulan anak-anak kita, juga termasuk tontonan-tontonan mereka di televisi. Dan masih banyak hal baik lainnya yang bisa kita lakukan untuk membentengi anak-anak kita dari tindakan kekarasan pada anak seperti kejahatan seksual seperti yang kita bicarakan sedari tadi. Sekian...
Saya : 100% Kak Wall
Irinos memang. Entah siapa yang mulanya menjadi pemicu, entah para pelaku yang memang mengalami gangguan mental alias sudah gila, sehingga sudah tidak mampu menggunakan akal sehatnya. Atau justru dari para korban yang mungkin memiliki daya tarik tersendiri, yang barang kali menyebabkan ketika setan lewat di depan orang yang tak pernah punya niatan atau kecenderungan ke sana pun akhirnya tergiur. Atau mungkin bisa jadi kedua-duanya? Entahlah. Yang jelas, itu adalah kenyataan yang ada.
Sahabat pembaca yang baik hatinya. Kurang layak jika kita acuh dengan permasalahan-permasalahan tersebut semisal dengan mengatakan "Halah, itu cuma di Tipi-Tipi". Pasalnya, bukan tidak mungkin kasus serupa ternyata sudah ada di dekat kita dan hanya belum kita sadari. Sahabat pembaca yang baik hatinya, kira-kira bagaimana perasaan sahabat ketika salah satu nama korban yang disebut dalam sebuah kasus itu nama anak-anak sahabat? Hancur berkeping-keping? Remuk tak berbentuk? Saya rasa itu.
Nah, coba kita kaji sebenarnya dimana akar permasalahannya. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang bisa saja memicu terjadinya hal-hal tersebut. Pertama mari kita tilik dari pelaku. Dalam hal ini, saya yakin setiap pelaku yang tengah beraksi tentu saja kehilangan Imannya. Karena jelas mereka tidak bisa berpikir layaknya orang beriman. Sedangkan dari segi korban yang dalam hal ini anak-anak, bisa jadi karena memang belum sampainya ilmu mereka.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang tua? Yupz, tentunya kita memang harus membentengi anak-anak kita dengan kita didik tentang syariat Islam sejak dini. Contohnya dengan kita ajarkan anak-anak kita untuk menutup aurat dengan benar atau mengajarkan cara bergaul yang baik. Selain itu sahabat, ada hal-hal yang lain yang bisa kita lakukan misalnya dengan hal-hal berikut ini ; memilihkan sekolah yang disana kita bisa ikut berperan aktif dalam mengawasi dan mendidik anak kita, bukan berarti kita harus setiap saat kita berada di sekolah itu lho... Hal yang lain misalnya dengan kita mengawasi pergaulan anak-anak kita, juga termasuk tontonan-tontonan mereka di televisi. Dan masih banyak hal baik lainnya yang bisa kita lakukan untuk membentengi anak-anak kita dari tindakan kekarasan pada anak seperti kejahatan seksual seperti yang kita bicarakan sedari tadi. Sekian...
Saya : 100% Kak Wall
Memilihkan Fasilitas
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat hari ini?
Adakah yang sedang berbunga-bunga seperti yang saya rasakan? Atau
mungkin lebih dari itu? Berbunga-bunga, berdaun-daun, berpohon-pohon
sekalian akar-akarnya? (Ngomongin apaan sih?)
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pagi ini, saya baru saja berkunjung ke sebuah kantor yang ada di Kota Susu. Kota susu tahu kan? Yupz, Boyolali yang dalam bahasa Inggrisnya Crocodile Forget (yang ini ngawur tingkat tinggi.hehehe), maksud saya Kota yang punya Slogan Tersenyum. Kedatangan saya ke kantor itu bermaksud untuk menemui seorang petinggi di kantor itu. Maklum, yang namanya ketemu dengan orang yang berkesibukan tinggi tentunya bukan hal yang mudah, terlebih kalau belum janjian dan akhirnya saya pun harus menunggu cukup lama. Oleh salah seorang karyawan yang ada di kantor itu, saya diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu tamu yang cukup mewah lengkap dengan fasilitas yang cukup bagus. Sambil menunggu, di ruangan itu diputarkan sebuah video kajian untuk para orang tua di layar LCD TV yang lumayan besar. Saya pun menunggu ditemani ceramah oleh seorang ustadz dalam TV itu.
Nah, dalam kajian itu sang ustadz memberikan ceramah tentang fasilitas apa yang baik dan yang kurang baik untuk perkembangan anak. Sang ustadz mengawali dengan bertanya pada audiens “Ibu-ibu, pertemuan sebelumnya saya memberikan PR pada ibu-ibu untuk menanyai atau meminta nak-anak ibu menyebutkan 5 tokoh yang terkenal. Sekarang jawabannya apa bu? Lebih banyak yang menyebutkan Superman, Batman dan teman-temannya atau Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dan shahabat-shahabatnya?”. Peserta kajian pun menjawab dengan jujur agak malu-lamu dengan jawaban yang senada satu sama lain, yaitu tokoh-tokoh superhero. Kemudian sang ustadz mengatakan “Itulah hasil dari yang sudah kita lakukan selama ini.” Namun, ada seorang ibu dalam kajian itu sedikit mengelak dengan mengatakan “Tapi saya tidak pernah mengajarkan itu tadz.” Dengan bijak sang ustadz mengatakan “Ibu yang saya hormati, dalam kita mendidik anak, tentu kita harus pahami dulu bahwa pendidikan itu tidak hanya dalam keluarga saja, melainkan ada factor besar yang lainnya, sekolah dan lingkungan misalnya. Jika semua itu lepas dari control kita, tentu juga bisa membahayakan, terlebih jika kita tidak membentengi anak-anak kita dengan ilmu agama yang cukup, akan sangat mudah pengaruh-pengaruh negative masuk dalam diri anak kita. Nah, terkhusus kasus yang tadi, bagaimana anak-anak kita lebih hafal superhero daripada tokoh-tokoh Muslim, coba saya tanya pada ibu-ibu semuanya, Apakah ada diantara ibu-ibu di rumah ada yang tidak mempunyai TV?” Serentak ibu-ibu yang hadir sepakat mengatakan bahwa mereka semua mempunyai televisi. Kemudian ustadz pun melanjutkan “Nah, itulah ibu-ibu sekalian, barangkali itu yang belum kita sadari, kita memang tidak mengajarkan secara langsung, tapi kita memberikan fasilitas untuk anak-anak kita mengenal tokoh-tokoh itu. Dan mungkin yang belum kita lakukan adalah memberikan fasilitas juga bagi anak-anak kita untuk lebih mudah belajar tentang agama islam kita ini.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita bandingkan dengan kondisi di keluarga kita sahabat. Bagaimana anak-anak kita menikmati fasilitas yang kita berikan? Lebih banyak mana? Fasilitas yang mengarahkan anak-anak kita pada kebaikan (Islam) atau justru sebaliknya? So, sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita sudah terlanjur mengikuti tuntutan jaman dengan memberikan fasilitas seperti yang tercontoh di atas, ada baiknya kita juga membangunkan benteng pendidikan agama bagi anak-anak kita dengan porsi yang jauh lebih besar daripada saat-saat mereka bisa menikmati fasilitas-fasilitas itu.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pagi ini, saya baru saja berkunjung ke sebuah kantor yang ada di Kota Susu. Kota susu tahu kan? Yupz, Boyolali yang dalam bahasa Inggrisnya Crocodile Forget (yang ini ngawur tingkat tinggi.hehehe), maksud saya Kota yang punya Slogan Tersenyum. Kedatangan saya ke kantor itu bermaksud untuk menemui seorang petinggi di kantor itu. Maklum, yang namanya ketemu dengan orang yang berkesibukan tinggi tentunya bukan hal yang mudah, terlebih kalau belum janjian dan akhirnya saya pun harus menunggu cukup lama. Oleh salah seorang karyawan yang ada di kantor itu, saya diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu tamu yang cukup mewah lengkap dengan fasilitas yang cukup bagus. Sambil menunggu, di ruangan itu diputarkan sebuah video kajian untuk para orang tua di layar LCD TV yang lumayan besar. Saya pun menunggu ditemani ceramah oleh seorang ustadz dalam TV itu.
Nah, dalam kajian itu sang ustadz memberikan ceramah tentang fasilitas apa yang baik dan yang kurang baik untuk perkembangan anak. Sang ustadz mengawali dengan bertanya pada audiens “Ibu-ibu, pertemuan sebelumnya saya memberikan PR pada ibu-ibu untuk menanyai atau meminta nak-anak ibu menyebutkan 5 tokoh yang terkenal. Sekarang jawabannya apa bu? Lebih banyak yang menyebutkan Superman, Batman dan teman-temannya atau Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dan shahabat-shahabatnya?”. Peserta kajian pun menjawab dengan jujur agak malu-lamu dengan jawaban yang senada satu sama lain, yaitu tokoh-tokoh superhero. Kemudian sang ustadz mengatakan “Itulah hasil dari yang sudah kita lakukan selama ini.” Namun, ada seorang ibu dalam kajian itu sedikit mengelak dengan mengatakan “Tapi saya tidak pernah mengajarkan itu tadz.” Dengan bijak sang ustadz mengatakan “Ibu yang saya hormati, dalam kita mendidik anak, tentu kita harus pahami dulu bahwa pendidikan itu tidak hanya dalam keluarga saja, melainkan ada factor besar yang lainnya, sekolah dan lingkungan misalnya. Jika semua itu lepas dari control kita, tentu juga bisa membahayakan, terlebih jika kita tidak membentengi anak-anak kita dengan ilmu agama yang cukup, akan sangat mudah pengaruh-pengaruh negative masuk dalam diri anak kita. Nah, terkhusus kasus yang tadi, bagaimana anak-anak kita lebih hafal superhero daripada tokoh-tokoh Muslim, coba saya tanya pada ibu-ibu semuanya, Apakah ada diantara ibu-ibu di rumah ada yang tidak mempunyai TV?” Serentak ibu-ibu yang hadir sepakat mengatakan bahwa mereka semua mempunyai televisi. Kemudian ustadz pun melanjutkan “Nah, itulah ibu-ibu sekalian, barangkali itu yang belum kita sadari, kita memang tidak mengajarkan secara langsung, tapi kita memberikan fasilitas untuk anak-anak kita mengenal tokoh-tokoh itu. Dan mungkin yang belum kita lakukan adalah memberikan fasilitas juga bagi anak-anak kita untuk lebih mudah belajar tentang agama islam kita ini.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita bandingkan dengan kondisi di keluarga kita sahabat. Bagaimana anak-anak kita menikmati fasilitas yang kita berikan? Lebih banyak mana? Fasilitas yang mengarahkan anak-anak kita pada kebaikan (Islam) atau justru sebaliknya? So, sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita sudah terlanjur mengikuti tuntutan jaman dengan memberikan fasilitas seperti yang tercontoh di atas, ada baiknya kita juga membangunkan benteng pendidikan agama bagi anak-anak kita dengan porsi yang jauh lebih besar daripada saat-saat mereka bisa menikmati fasilitas-fasilitas itu.
Saya : 100% Kak Wall
Senin, 28 April 2014
Posted by Kak Wall
Emansipasi di Negeri Kapital
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Hampir saja hari ini saya lupa
menyapa sahabat lewat tulisan ini…waaaaahhhh bisa-bisa ada yang kangen
nih (pede dikit boleh kaannn? Hehehe)
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya menyaksikan siaran televisi yang sebenarnya acara humor. Lebih tepatnya dialog humor gitu lah. Kali itu tema yang diangkat tentang emansipasi wanita “Wanita karir atau Ibu rumah Tangga?” kurang lebih seperti itu judul pembahasannya. Entah memang sudah disetting atau benar-benar asli tanpa rekayasa, disana terjadi perdebatan yang cukup menarik. Salah seorang narasumber yang dia ini merupakan wanita yang boleh dibilang lebih sukses daripada suaminya secara materi, begitu ‘ngotot’ mengatakan bahwa wanita di jaman sekarang ini jangan mau kalah dengan laki-laki, wanita harus berkarir, toh buktinya hasilnya (materi) juga bisa lebih besar. Dia berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga saja merupakan pengekangan, lagi pula mengurus rumah tangga itu bukan tugas istri semata, tapi juga suami dan gampangnya sekarang bisa menggunakan jasa pembantu untuk mengurusi urusan rumah termasuk anak-anak.
Terlepas dari scenario atau bukan, ada hal yang cukup menarik disana, karena pada kenyataannya memang banyak kasus serupa yang terjadi di kanan-kiri kita. Suami istri semua bekerja diluar dan urusan rumah diserahkan pembantu. Katanya demi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apakah itu salah? Saya tidak akan membahas benar atau salahnya disini, karena kesemuanya itu akan memiliki kelebihan dan kekeurangan masing-masing, yang barang kali sahabat semua lebih bisa menerangkannya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, terkadang ada sudut pandang yang salah dalam memaknai bekerja dalam rumah tangga. Ketika seorang suami ditanya “Istrimu aktivitasnya apa?” terkadang menjawab dengan “Cuma dirumah, ndak kerja kok, Cuma jadi ibu rumah tangga.” Meremehkan, itu barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan bagi seorang suami yang menjawab dengan mengatakan “Cuma” seperti contoh tadi. Padahal, Kalau dihitung jenis dan jumlah pekerjaan yang dilakukan, barang kali apa yang dikerjakan seorang suami hanya sekian persen saja dari yang dilakukan seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Merasa tidak terima dengan diremehkan, tak sedikit istri yang akhirnya memilih untuk berkarir diluar, mencari penghasilan secara materi. Dengan dalih demi mencukupi kebutuhan karena hasil suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pada akhirnya, ketika semua egois seperti ilustrasi di atas, sering kali anak menjadi korban. Waktu untuk interaksi dengan orang tua menjadi langka. Belaian kasih sayang ibu menjadi mahal. Karena masing-masing sibuk hanya untuk mencari materi, materi dan materi yang ketika kembali ditanya akan menjawab “ini semua juga demi anak”.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba, kita renungkan kembali, kenapa ketika mendengar kata bekerja, yang terngiang pertama kali adalah penghasilan/uang/materi? Seorang ustadz dalam sebuah kajian menasehati saya bahwa “Ketika kamu bekerja, jangan hanya mencari materi (uang), carilah Allah. Insya’ Allah akan dicukupkan bagimu apa-apa yang kamu butuhkan, bukan hanya sekedar yang kamu inginkan.” Dalam Qur’an, tak banyak pula ayat yang mengajarkan kita untuk bekerja menumpuk-numpuk dunia. Bahkan kita hanya dianjurkan agar tidak melupakan bagian kita di dunia, seperti yang tertuang dalam QS. Al Qosos (28) ayat 77. “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia….”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita memaknai emansipasi hanya sebagai bentuk kebebasan seseorang (wanita) untuk dapat melakukan hal yang sama seperti laki-laki, termasuk dalam mencari nafkah, yang ujung-ujungnya bisa memicu persaingan dalam keluarga bahkan saling menyombongkan diri dengan penghasilannya masing-masing, maka alangkah meruginya diri kita. Sah-sah saja dalam rumah tangga semua bekerja yang menghasilkan uang, hanya saja tentu porsi dan cara serta tujuannya yang harus dikontrol agar tidak menimbulkan hal-hal yang justru jauh dari kata kebaikan. So, Emansipasi bukanlah sekedar materi.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya menyaksikan siaran televisi yang sebenarnya acara humor. Lebih tepatnya dialog humor gitu lah. Kali itu tema yang diangkat tentang emansipasi wanita “Wanita karir atau Ibu rumah Tangga?” kurang lebih seperti itu judul pembahasannya. Entah memang sudah disetting atau benar-benar asli tanpa rekayasa, disana terjadi perdebatan yang cukup menarik. Salah seorang narasumber yang dia ini merupakan wanita yang boleh dibilang lebih sukses daripada suaminya secara materi, begitu ‘ngotot’ mengatakan bahwa wanita di jaman sekarang ini jangan mau kalah dengan laki-laki, wanita harus berkarir, toh buktinya hasilnya (materi) juga bisa lebih besar. Dia berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga saja merupakan pengekangan, lagi pula mengurus rumah tangga itu bukan tugas istri semata, tapi juga suami dan gampangnya sekarang bisa menggunakan jasa pembantu untuk mengurusi urusan rumah termasuk anak-anak.
Terlepas dari scenario atau bukan, ada hal yang cukup menarik disana, karena pada kenyataannya memang banyak kasus serupa yang terjadi di kanan-kiri kita. Suami istri semua bekerja diluar dan urusan rumah diserahkan pembantu. Katanya demi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apakah itu salah? Saya tidak akan membahas benar atau salahnya disini, karena kesemuanya itu akan memiliki kelebihan dan kekeurangan masing-masing, yang barang kali sahabat semua lebih bisa menerangkannya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, terkadang ada sudut pandang yang salah dalam memaknai bekerja dalam rumah tangga. Ketika seorang suami ditanya “Istrimu aktivitasnya apa?” terkadang menjawab dengan “Cuma dirumah, ndak kerja kok, Cuma jadi ibu rumah tangga.” Meremehkan, itu barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan bagi seorang suami yang menjawab dengan mengatakan “Cuma” seperti contoh tadi. Padahal, Kalau dihitung jenis dan jumlah pekerjaan yang dilakukan, barang kali apa yang dikerjakan seorang suami hanya sekian persen saja dari yang dilakukan seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Merasa tidak terima dengan diremehkan, tak sedikit istri yang akhirnya memilih untuk berkarir diluar, mencari penghasilan secara materi. Dengan dalih demi mencukupi kebutuhan karena hasil suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pada akhirnya, ketika semua egois seperti ilustrasi di atas, sering kali anak menjadi korban. Waktu untuk interaksi dengan orang tua menjadi langka. Belaian kasih sayang ibu menjadi mahal. Karena masing-masing sibuk hanya untuk mencari materi, materi dan materi yang ketika kembali ditanya akan menjawab “ini semua juga demi anak”.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba, kita renungkan kembali, kenapa ketika mendengar kata bekerja, yang terngiang pertama kali adalah penghasilan/uang/materi? Seorang ustadz dalam sebuah kajian menasehati saya bahwa “Ketika kamu bekerja, jangan hanya mencari materi (uang), carilah Allah. Insya’ Allah akan dicukupkan bagimu apa-apa yang kamu butuhkan, bukan hanya sekedar yang kamu inginkan.” Dalam Qur’an, tak banyak pula ayat yang mengajarkan kita untuk bekerja menumpuk-numpuk dunia. Bahkan kita hanya dianjurkan agar tidak melupakan bagian kita di dunia, seperti yang tertuang dalam QS. Al Qosos (28) ayat 77. “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia….”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita memaknai emansipasi hanya sebagai bentuk kebebasan seseorang (wanita) untuk dapat melakukan hal yang sama seperti laki-laki, termasuk dalam mencari nafkah, yang ujung-ujungnya bisa memicu persaingan dalam keluarga bahkan saling menyombongkan diri dengan penghasilannya masing-masing, maka alangkah meruginya diri kita. Sah-sah saja dalam rumah tangga semua bekerja yang menghasilkan uang, hanya saja tentu porsi dan cara serta tujuannya yang harus dikontrol agar tidak menimbulkan hal-hal yang justru jauh dari kata kebaikan. So, Emansipasi bukanlah sekedar materi.
Saya : 100% Kak Wall
Kartini Islam
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, alhamdulillah kali ini saya masih
diberikan Allah nikmat sehat dan sempat jadi pada hari yang berbahagia
cerah dan meriah (halah lebay ya) saya bisa sedikit membagi kembali ilmu
kepada sahabat pembaca sekalian.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, seperti yang kita ketahui bulan ke empat dalam kalender Masehi adalah bulan April. Banyak hal yang spesial berlangsung selama bulan April ini, sebagai contoh tetangga saya lahir dibulan April (mengenai nama dan tanggal serta tahun pastinya kita abaikan saja hehee). Hal yang tak kalah spesial yang selalu diperingati setiap bulan April jatuh pada tanggal 21, ada yang tahu apa? Hayooo apa? Anda penasaran? Sama saya juga?. Ya,,, saya akan memberi jawaban secara cuma-cuma, acara yang diperingati setiap tanggal 21 April adalah Hari Kartini.
Apa yang menjadikannya spesial sehingga harus diperingati setiap tanggal 21? Sebagai informasi tambahan, Hari Kartini diperingati adalah untuk mengenang pahlawan yang bernama Kartini. Sahabat tentu tahu apa saja peran dan jasa Kartini kepada bangsa Indonesia. Yup, beliau mengangkat emansipasi wanita pada masanya dahoeloe. Naah,,,yang akan saya bahas hari ini adalah sebenarnya bagaimana emansipasi itu sesungguhnya dalam islam dan bagaimana seharusnya putra-putri kita dididik mengenai hal ini.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sekedar memberi ilmu tambahan. Emansipasi berasal dari kata “emancipatio” yang asal kata sebenarnya adalah pembebasan dari tangan kekuasaan. Pada zaman Romawi kuno, emansipasi adalah sebuah tindakan pembebasan hak anak dari pengekangan orang tua mereka. Emansipasi yang dibawa oleh Kartini pada zaman dahulu adalah emansipasi yang membebaskan wanita untuk memiliki hak yang sama dengan kamu laki-laki dalam memperoleh pendidikan. Karena seperti sahabat tahu, wanita pada zaman dahulu dinilai sebelah mata terutama dalam bidang pendidikan dan peran sertanya dalam memajukan lingkungan. Namun pada masa sekarang, emansipasi kemudian diartikan sebagai persamaan derajat antara wanita dan laku-laki. Persamaan derajat yang benar-benar sejajar dan sama rata. Orang-orang dari barat membawa misi ini dengan tujuan menjadikan wanita memiliki jenjang yang sama dengan laki-laki, baik dari segi pendidikan, kekuasaan, harta benda, bahkan posisinya dalam suatu rumah tangga.
Lantas bagaimana sebenarnya islam menilai mengenai emansipasi ini? Sahabat pembaca yang baik hatinya, jauh sebelum bangsa barat memperkenalkan mengenai emansipasi ini. Islam mengangkat derajat wanita islam dalam keterpurukan kejahiliyahan.
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusu’ ... Allah telahmenyediakan kepada mereka ampunan dan pahala yang besar” (AlAhzab : 35). Menurut tafsir Imam Ibnu Katsir menyebutkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan pertanyaan para wanita “mengapa dalam Al-Qur’an disebutkan para lelaki sementara para perempuan tidak” maka kemudian turunlah ayat tersebut. Nah,,,sahabat dari ayat dan tafsir di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya Allah tidak membedakan antara hak perempuan dan laki-laki dalam hak kepada Allah dan hak pengampunan.
Dalam sebuah cerita lain disebutkan bahwa Rosulullah mengabulkan permintaan kaum wanita untuk mendapatkan pertemuan khusus bagi mereka untuk memperlajari ilmu yang sama didapatkannya oleh para kaum laki-laki. Namun kebabasan yang diberikan ini bukanlah kebebasan yang kebablasan, sehingga para kaum wanita masih tetap mengetahui bahwa tugas utamanya adalah sebagai ‘madrasatul uula’ madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Nah sahabat, mengenang jasa pahlawan merupakan salah satu cara untuk menghargai apa yang sudah beliau sumbangkan bagi kehidupan kita di masa kita sekarang ini. Tentu menanamkan ini kepada buah hati kita adalah hal yang penting. Namun, memberikan juga informasi tentang bagaimana islam mengaturnya dan hubungannya dengan Allah juga tidak kalah penting. Sehingga buah hati kita tidak hanya mendapat ilmu kosong tanpa isian ilmu aqidah.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, seperti yang kita ketahui bulan ke empat dalam kalender Masehi adalah bulan April. Banyak hal yang spesial berlangsung selama bulan April ini, sebagai contoh tetangga saya lahir dibulan April (mengenai nama dan tanggal serta tahun pastinya kita abaikan saja hehee). Hal yang tak kalah spesial yang selalu diperingati setiap bulan April jatuh pada tanggal 21, ada yang tahu apa? Hayooo apa? Anda penasaran? Sama saya juga?. Ya,,, saya akan memberi jawaban secara cuma-cuma, acara yang diperingati setiap tanggal 21 April adalah Hari Kartini.
Apa yang menjadikannya spesial sehingga harus diperingati setiap tanggal 21? Sebagai informasi tambahan, Hari Kartini diperingati adalah untuk mengenang pahlawan yang bernama Kartini. Sahabat tentu tahu apa saja peran dan jasa Kartini kepada bangsa Indonesia. Yup, beliau mengangkat emansipasi wanita pada masanya dahoeloe. Naah,,,yang akan saya bahas hari ini adalah sebenarnya bagaimana emansipasi itu sesungguhnya dalam islam dan bagaimana seharusnya putra-putri kita dididik mengenai hal ini.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sekedar memberi ilmu tambahan. Emansipasi berasal dari kata “emancipatio” yang asal kata sebenarnya adalah pembebasan dari tangan kekuasaan. Pada zaman Romawi kuno, emansipasi adalah sebuah tindakan pembebasan hak anak dari pengekangan orang tua mereka. Emansipasi yang dibawa oleh Kartini pada zaman dahulu adalah emansipasi yang membebaskan wanita untuk memiliki hak yang sama dengan kamu laki-laki dalam memperoleh pendidikan. Karena seperti sahabat tahu, wanita pada zaman dahulu dinilai sebelah mata terutama dalam bidang pendidikan dan peran sertanya dalam memajukan lingkungan. Namun pada masa sekarang, emansipasi kemudian diartikan sebagai persamaan derajat antara wanita dan laku-laki. Persamaan derajat yang benar-benar sejajar dan sama rata. Orang-orang dari barat membawa misi ini dengan tujuan menjadikan wanita memiliki jenjang yang sama dengan laki-laki, baik dari segi pendidikan, kekuasaan, harta benda, bahkan posisinya dalam suatu rumah tangga.
Lantas bagaimana sebenarnya islam menilai mengenai emansipasi ini? Sahabat pembaca yang baik hatinya, jauh sebelum bangsa barat memperkenalkan mengenai emansipasi ini. Islam mengangkat derajat wanita islam dalam keterpurukan kejahiliyahan.
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusu’ ... Allah telahmenyediakan kepada mereka ampunan dan pahala yang besar” (AlAhzab : 35). Menurut tafsir Imam Ibnu Katsir menyebutkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan pertanyaan para wanita “mengapa dalam Al-Qur’an disebutkan para lelaki sementara para perempuan tidak” maka kemudian turunlah ayat tersebut. Nah,,,sahabat dari ayat dan tafsir di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya Allah tidak membedakan antara hak perempuan dan laki-laki dalam hak kepada Allah dan hak pengampunan.
Dalam sebuah cerita lain disebutkan bahwa Rosulullah mengabulkan permintaan kaum wanita untuk mendapatkan pertemuan khusus bagi mereka untuk memperlajari ilmu yang sama didapatkannya oleh para kaum laki-laki. Namun kebabasan yang diberikan ini bukanlah kebebasan yang kebablasan, sehingga para kaum wanita masih tetap mengetahui bahwa tugas utamanya adalah sebagai ‘madrasatul uula’ madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Nah sahabat, mengenang jasa pahlawan merupakan salah satu cara untuk menghargai apa yang sudah beliau sumbangkan bagi kehidupan kita di masa kita sekarang ini. Tentu menanamkan ini kepada buah hati kita adalah hal yang penting. Namun, memberikan juga informasi tentang bagaimana islam mengaturnya dan hubungannya dengan Allah juga tidak kalah penting. Sehingga buah hati kita tidak hanya mendapat ilmu kosong tanpa isian ilmu aqidah.
Saya : 100% Kak Wall
Guru Terbaik
Assalamu'alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Hari ini saya akan menyampaikan
sebuah cerita yang saya angkat dari sebuah kejadian nyata.
Dalam sebuah pelatihan, ketika itu saya menjadi juru kamera, ada sebuah kejadian yang bisa dibilang lucu tapi juga memalukan. Lucu bagi yang melihat tapi memalukan bagi yang mengalami. Kurang lebih seperti ini kejadiannya, seorang peserta diminta maju ke depan untuk menerima tantangan. Nah, majulah seorang anak laki-laki dari sekian banyak peserta. Pembicara pun mulai memberikan tantangan, yaitu meminta peserta tadi untuk melemparkan bola masuk ke dalam sebuah wadah dengan jarak tertentu. Lemparan pertama gagal, kemudian pembicara meminta untuk maju satu langkah. Langkah pertama biasa saja, dan belum cukup mampu membuat lemparan bolanya masuk sasaran karena jarak masih cukup jauh. Kemudian pembicara meminta untuk maju lagi satu langkah dan di langkah ke dua ini dilakukan dengan sangat semangat dan sejauh mungkin yang dia mampu lakukan.Tapi, tetap saja belum berhasil. Dan terakhir, pembicara meminta untuk maju satu langkah lagi, kali ini bukan melangkah yang ia lakukan, tapi melompat sehingga jarak menjadi sangat dekat dengan sasaran.
Tapi ada sedikit kejanggalan dari tingkah si anak ini setelah melompat tadi, seakan kurang nyaman untuk bergerak sedikitpun, dan ternyata celana si anak ini robek dibagian yang 'emmmm rasanya tidak perlu saya sebutkan'. Sontak, semua peserta langsung tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejadian itu. Dengan wajah malu, peserta tadi tetap melanjutkan tantangan dari pembicara dan akhrirnya hadiah pun diperolehnya. Setelah sedikit saya perhatikan model celana si anak ini, menurut saya memang kurang sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Yupz, kalau sahabat tau model celana pensil? yah, barangkali seperti itulah celana yang dikenakannya, mungkin ingin bergaya kali ya? :')
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ada sudut pandang lain yang coba saya pakai untuk menilai kejadian itu, yaitu dengan sebuah pertanyaan "Bagaimana kalau anak kita yang mengalami kejadian itu. Sedangkan kita menyaksikannya?" Apa jawaban sahabat? Ikut mentertawakan kah? atau tertunduk malu kah? Silakan dijawab sendiri-sendiri. Sahabat pembaca yang baik hatinya, kejadian itu memanglah kejadian yang sederhana dan boleh dikatakan sepele. Tapi, akibat yang diterima si anak mungkin akan lebih besar, entah diledek teman-temannya, atau enggan untuk mengekspresikan kemampuannya lantaran trauma dan lain sebagainya. Sekarang coba kita tarik ke belakang, apakah ada faktor dari kita sebagai orang tua? Apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk anak kita?
Mari kita jawab, pertama si anak ini tidak mematuhi perintah pembicara, karena saking semangatnya, disuruh melangkah tapi dia melompat. Tugas bagi kita untuk membuat anak-anak kita semangat dalam menjalani aktivitas-aktivitasnya, karena kita tau, dengan semangat itu pasti akan membuat segala aktivitas menjadi terasa lebih ringan untuk dilakukan. Tetapi, tugas kita pula untuk mengingatkan bahwa segala sesuatu yang telah diatur itu pasti ada tujuannya. Misalnya dalam beribada shalat, kenapa diatur sedemikian rupa waktu juga tata caranya tentu ada maksud dari semua itu. Nah, kepatuhan kepada aturan yang baik dan yang benarlah yang seharusnya kita tanamkan pada diri anak-anak kita sejak dini.
Ke dua, si anak ini mengenakan celana yang kurang pas modelnya dengan aktivitas yang dilakukannya. Tentu saja akan sangat berisiko dengan model celana sempit itu sedangkan dia melompat-lompat. Maksudnya seperti ini sahabat, kita hendaknya juga mengajarkan pada anak-anak kita untuk menempatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya. Bersikap sewajarnya dan tidak berlebih-lebihan.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita ajarkan pada anak-anak kita agar mereka mematuhi aturan-aturan yang baik dan benar dan juga bersikap yang baik serta dalam batas keajawaran, agar kelak mereka tidak pernah merasa malu dan menjadi bahan tertawaan. Tentu saja bukan hanya di hadapan manusia saja, lebih dari itu, jangan sampai anak-anak kita kelak harus tertunduk malu di hadapan Rabbnya lantaran tingkah lakunya di dunia. Tetapi, mereka bisa menjadi umat yang membanggakan lantaran prestasi-prestasi yang telah dilakukannya. Tentu saja semua itu tidak terlepas dari peran kita. Peran untuk apa? Peran untuk menjadi teladan yang baik bagi mereka.
Saya : 100% Kak Wall
Dalam sebuah pelatihan, ketika itu saya menjadi juru kamera, ada sebuah kejadian yang bisa dibilang lucu tapi juga memalukan. Lucu bagi yang melihat tapi memalukan bagi yang mengalami. Kurang lebih seperti ini kejadiannya, seorang peserta diminta maju ke depan untuk menerima tantangan. Nah, majulah seorang anak laki-laki dari sekian banyak peserta. Pembicara pun mulai memberikan tantangan, yaitu meminta peserta tadi untuk melemparkan bola masuk ke dalam sebuah wadah dengan jarak tertentu. Lemparan pertama gagal, kemudian pembicara meminta untuk maju satu langkah. Langkah pertama biasa saja, dan belum cukup mampu membuat lemparan bolanya masuk sasaran karena jarak masih cukup jauh. Kemudian pembicara meminta untuk maju lagi satu langkah dan di langkah ke dua ini dilakukan dengan sangat semangat dan sejauh mungkin yang dia mampu lakukan.Tapi, tetap saja belum berhasil. Dan terakhir, pembicara meminta untuk maju satu langkah lagi, kali ini bukan melangkah yang ia lakukan, tapi melompat sehingga jarak menjadi sangat dekat dengan sasaran.
Tapi ada sedikit kejanggalan dari tingkah si anak ini setelah melompat tadi, seakan kurang nyaman untuk bergerak sedikitpun, dan ternyata celana si anak ini robek dibagian yang 'emmmm rasanya tidak perlu saya sebutkan'. Sontak, semua peserta langsung tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejadian itu. Dengan wajah malu, peserta tadi tetap melanjutkan tantangan dari pembicara dan akhrirnya hadiah pun diperolehnya. Setelah sedikit saya perhatikan model celana si anak ini, menurut saya memang kurang sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Yupz, kalau sahabat tau model celana pensil? yah, barangkali seperti itulah celana yang dikenakannya, mungkin ingin bergaya kali ya? :')
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ada sudut pandang lain yang coba saya pakai untuk menilai kejadian itu, yaitu dengan sebuah pertanyaan "Bagaimana kalau anak kita yang mengalami kejadian itu. Sedangkan kita menyaksikannya?" Apa jawaban sahabat? Ikut mentertawakan kah? atau tertunduk malu kah? Silakan dijawab sendiri-sendiri. Sahabat pembaca yang baik hatinya, kejadian itu memanglah kejadian yang sederhana dan boleh dikatakan sepele. Tapi, akibat yang diterima si anak mungkin akan lebih besar, entah diledek teman-temannya, atau enggan untuk mengekspresikan kemampuannya lantaran trauma dan lain sebagainya. Sekarang coba kita tarik ke belakang, apakah ada faktor dari kita sebagai orang tua? Apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk anak kita?
Mari kita jawab, pertama si anak ini tidak mematuhi perintah pembicara, karena saking semangatnya, disuruh melangkah tapi dia melompat. Tugas bagi kita untuk membuat anak-anak kita semangat dalam menjalani aktivitas-aktivitasnya, karena kita tau, dengan semangat itu pasti akan membuat segala aktivitas menjadi terasa lebih ringan untuk dilakukan. Tetapi, tugas kita pula untuk mengingatkan bahwa segala sesuatu yang telah diatur itu pasti ada tujuannya. Misalnya dalam beribada shalat, kenapa diatur sedemikian rupa waktu juga tata caranya tentu ada maksud dari semua itu. Nah, kepatuhan kepada aturan yang baik dan yang benarlah yang seharusnya kita tanamkan pada diri anak-anak kita sejak dini.
Ke dua, si anak ini mengenakan celana yang kurang pas modelnya dengan aktivitas yang dilakukannya. Tentu saja akan sangat berisiko dengan model celana sempit itu sedangkan dia melompat-lompat. Maksudnya seperti ini sahabat, kita hendaknya juga mengajarkan pada anak-anak kita untuk menempatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya. Bersikap sewajarnya dan tidak berlebih-lebihan.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita ajarkan pada anak-anak kita agar mereka mematuhi aturan-aturan yang baik dan benar dan juga bersikap yang baik serta dalam batas keajawaran, agar kelak mereka tidak pernah merasa malu dan menjadi bahan tertawaan. Tentu saja bukan hanya di hadapan manusia saja, lebih dari itu, jangan sampai anak-anak kita kelak harus tertunduk malu di hadapan Rabbnya lantaran tingkah lakunya di dunia. Tetapi, mereka bisa menjadi umat yang membanggakan lantaran prestasi-prestasi yang telah dilakukannya. Tentu saja semua itu tidak terlepas dari peran kita. Peran untuk apa? Peran untuk menjadi teladan yang baik bagi mereka.
Saya : 100% Kak Wall
Siapa yang Memalukan?
Assalamu'alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya. Bagaimana kabar sahabat hari ini? Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.
Sababat pembaca yang baik hatinya, ada sebuah cerita tentang sebuah ajang perlobaan mendongeng anak-anak. Terang saja, yang namanya lomba dongeng anak-anak tentu saja pesertanya juga anak-anak. Untuk mempersiapkan lomba ini, setiap peserta diberikan waktu selama satu bulan untuk berlatih di rumah bersama orang tua sebagai pelatihnya. Nah, tentu saja mau tidak mau setiap orang tua peserta juga ikut berlatih dan belajar tentang materi yang harus disampaikan agar bisa mengajari si anak.
Ada salah seorang anak yang juga peserta, sebut saja namanya Putri. Selama satu bulan Putri juga seperti peserta yangh lain, berlatih untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Sampai tibalah hari dimana lomba itu dilaksanakan. Sesuai nomor undian, Putri mendapat giliran nomor 7. Sambil menyaksikan satu-persatu peserta lain tampil, Putri terus berusaha untuk mengingat-ingat hasil latihannya. Sampai tiba sang MC memanggil "Kita sambut peserta no 7, Puuutriiiiii..." Kemudian naiklah si Putri ke atas panggung. Tapi, entah karena apa, ditengah-tengah ia bercerita, tiba-tiba Putri terdiam seolah lupa tentang materi yang sudah dihafalkannya sebelumnya. Melihat kejadian itu, sang Ibu memberi sambutan yang kurang positif dan berteriak "Kamu ini bagaimana???!!! Mama sudah ngajarin kamu sebulan, masa' gitu aja gak bisa? mama kecewa sama kamu. Kamu ini malu-maluin Mama aja!!!" Tentu saja si anak langsung tertunduk malu dan mulai meneteskan air mata mendengar Mamanya mengatakan seperti itu di atas panggung.
Melihat kejadian itu, sang MC langsung mendekati Putri dan memeluknya kemudian berkata "Baik, hadirin sekalian, karena hari ini ternyata Putri baik hati pada Mamanya, maka kali ini Putri akan berbagi waktu pada mamanya untuk melanjutkan ceritanya. Mari, kita sambut dengan meriah, Mama Putriiii..." Setelah sempat menolak beberapa saat, akhirnya Mama Putripun mau naik ke atas panggung. Tapi apa yang terjadi sahabat? Jangankan untuk melanjutkan cerita, untuk mengucapkan sepatah katapun si Mama ini tah mampu dan akhirnya turun dari panggung dengan wajah malu penuh penyesalan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sungguh sikap yang kurang bijaksana yang dilakukan si Mama dalam cerita itu. Karena kecewa dengan penampilan si anak, si Mama langsung menghujat di depan umum seperti itu. Tapi disisi lain ia tidak mengerti bahwa ini adalah proses belajar si anak dan bukan sesuatu yang buruk ketika dalam belajar mengalami sebuah kegagalan. Mungkin si Mama bermaksud agar anak termotivasi dan melanjutkan ceritanya, tapi dalam keadaan seperti itu yang ada anak justru semakin tertekan dan barang kali akan lebih baik jika si Mama tersebut membesarkan hati si anak. Bukankan sesuatu yang semakin memalukan kalau ternyata si Mama juga tidak mampu seperti itu?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, tulisan ini akan saya tutup dengan sebuah nasehat yang sering diucapkan bapak saya (meskipun beliau bukan orang terkenal, boleh dong saya sebuuut?) kurang lebih seperti ini nasehat beliau "Jangan menasehati anak di depan orang banyak, apalagi memarahinya, karena itu hanya akan mebuat dia malu. Carilah waktu yang tepat dan ajak bicara empat mata."
Saya : 100% Kak Wall
Sababat pembaca yang baik hatinya, ada sebuah cerita tentang sebuah ajang perlobaan mendongeng anak-anak. Terang saja, yang namanya lomba dongeng anak-anak tentu saja pesertanya juga anak-anak. Untuk mempersiapkan lomba ini, setiap peserta diberikan waktu selama satu bulan untuk berlatih di rumah bersama orang tua sebagai pelatihnya. Nah, tentu saja mau tidak mau setiap orang tua peserta juga ikut berlatih dan belajar tentang materi yang harus disampaikan agar bisa mengajari si anak.
Ada salah seorang anak yang juga peserta, sebut saja namanya Putri. Selama satu bulan Putri juga seperti peserta yangh lain, berlatih untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Sampai tibalah hari dimana lomba itu dilaksanakan. Sesuai nomor undian, Putri mendapat giliran nomor 7. Sambil menyaksikan satu-persatu peserta lain tampil, Putri terus berusaha untuk mengingat-ingat hasil latihannya. Sampai tiba sang MC memanggil "Kita sambut peserta no 7, Puuutriiiiii..." Kemudian naiklah si Putri ke atas panggung. Tapi, entah karena apa, ditengah-tengah ia bercerita, tiba-tiba Putri terdiam seolah lupa tentang materi yang sudah dihafalkannya sebelumnya. Melihat kejadian itu, sang Ibu memberi sambutan yang kurang positif dan berteriak "Kamu ini bagaimana???!!! Mama sudah ngajarin kamu sebulan, masa' gitu aja gak bisa? mama kecewa sama kamu. Kamu ini malu-maluin Mama aja!!!" Tentu saja si anak langsung tertunduk malu dan mulai meneteskan air mata mendengar Mamanya mengatakan seperti itu di atas panggung.
Melihat kejadian itu, sang MC langsung mendekati Putri dan memeluknya kemudian berkata "Baik, hadirin sekalian, karena hari ini ternyata Putri baik hati pada Mamanya, maka kali ini Putri akan berbagi waktu pada mamanya untuk melanjutkan ceritanya. Mari, kita sambut dengan meriah, Mama Putriiii..." Setelah sempat menolak beberapa saat, akhirnya Mama Putripun mau naik ke atas panggung. Tapi apa yang terjadi sahabat? Jangankan untuk melanjutkan cerita, untuk mengucapkan sepatah katapun si Mama ini tah mampu dan akhirnya turun dari panggung dengan wajah malu penuh penyesalan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sungguh sikap yang kurang bijaksana yang dilakukan si Mama dalam cerita itu. Karena kecewa dengan penampilan si anak, si Mama langsung menghujat di depan umum seperti itu. Tapi disisi lain ia tidak mengerti bahwa ini adalah proses belajar si anak dan bukan sesuatu yang buruk ketika dalam belajar mengalami sebuah kegagalan. Mungkin si Mama bermaksud agar anak termotivasi dan melanjutkan ceritanya, tapi dalam keadaan seperti itu yang ada anak justru semakin tertekan dan barang kali akan lebih baik jika si Mama tersebut membesarkan hati si anak. Bukankan sesuatu yang semakin memalukan kalau ternyata si Mama juga tidak mampu seperti itu?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, tulisan ini akan saya tutup dengan sebuah nasehat yang sering diucapkan bapak saya (meskipun beliau bukan orang terkenal, boleh dong saya sebuuut?) kurang lebih seperti ini nasehat beliau "Jangan menasehati anak di depan orang banyak, apalagi memarahinya, karena itu hanya akan mebuat dia malu. Carilah waktu yang tepat dan ajak bicara empat mata."
Saya : 100% Kak Wall
Mendengarkan Itu Seni
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya. Salam jumpa kembali. Kali ini saya tidak akan berkenalan, tapi bagi sahabat yang belum tau, nama saya Kak Wall. :’)
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya membaca buku tentang sebuah teknik menjual atau bahasa kerennya marketing. Dalam buku itu sahabat, ada sebuah Bab (maksudnya bagian dari buku lho, bukan Buang Air Besar) yang menjelaskan bagaimana teknik berkomunikasi dengan calon pembeli atau juga mungkin yang sudah menjadi pelanggan. Dalam buku itu salah satu teknik menyebutkan bahwa “Mendengarkan itu sebuah seni menjual”, yang ini tolong juga jangan negatif dulu lho sahabat, maksudnya seni itu teknik atau cara, jangan dikira seni itu air kecil… hihihi. Kenapa mendengar itu menjadi sebuah seni menjual? Nah, dalam buku itu disebutkan beberapa manfaatnya, antara lain ; mendengarkan adalah sebuah wujud penghargaan terhadap konsumen dan memndengarkan akan memunculkan banyak ide, karena kita jadi tahu apa yang dibutuhkan konsumen. Kurang lebih seperti itu sahabat.
Namum, pada kenyataannya, terkadang ketika kita menjual sesuatu, kita menjadi enggan mendengarkan apa-apa yang dikatakan pembeli, terlebih jika yang disampaikan pembeli itu sudah kita rasa jauh dari pokok bahasan utuma, terlebih lagi, jika kita merasa pembeli itu memberikan komentar negatif tentang produk kita dan akhirnya kita memilih untuk memotong pembicaraan calon pembeli tersebut yang terkadang bahkan sering kita lakukan dengan cara yang kurang halus. Padahal sahabat, cara seperti itu sebenarnya kurang pas kita lakukan, karena itu justru menunjukkan ketidakdewasaan kita dalam menyikapi apa-apa yang disampaikan pembeli kepada kita.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, setelah dedaunan saya bolak-balik, kemudian padang ilalang saya sibakkan, ada suatu kesamaan yang saya temukan antara teknik menjual yang saya sampaikan di atas dengan bagaimana kita mendidik anak-anak kita Lhooooooooo… Kok bisa? Ya bisa… Maksudnya, mendengarkan anak itu juga sebuah seni mendidik. Coba, sekarang kita hitung-hitung lagi, seberapa sering kita mendengarkan anak-anak kita? Lebih banyak mana dengan berapa banyak kita memotong pembicaraannya dengan mengetakan “Ah, kamu tu masih kecil, sudah ikuti ayah begini saja!” yang akhirnya menjadikan anak-anak kita menjadi enggan untuk berpendapat.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, tentunya tidak ada salahnya kita menghargai anak-anak kita, salah satunya dengan mendengarkan apa pendapat mereka, sehingga kita juga akan menjadi tahu apa-apa yang sebenarnya ada dalam benak mereka. Jangan sampai seperti cerita berikut ini :
(Setting : Sebuah rumah dengan keluarga kecil, seorang ayah, ibu dan satu orang anak. Ketika itu sang ayah baru pulang kerja dan si anak berlari mendekatinya…)
Anak : “Ayah…ayaaaaahh…cepat yah…aku mau ngomong penting.”
Ayah : “Aahh..nanti saja, ayah cape’ mau istirahat dulu..”
Anak : “Ini sangat penting Yah,,,”
Ayah : “Iya, tapi nanti saja!”
Anak : “Pokoknya sekarang…!”
Ayah : “Kamu mau jadi anak yang berbakti kan? Kalau ayah bilang nanti ya nanti!”
Anak : “Tapi yah?”
Ayah : “Sudah, gak ada tapi-tapian. Sekarang kamu panggilkan Ibumu!”
Anak : “Nah, itu dia yah.”
Ayah : “Itu dia apa?”
Anak : “Ibu Yah…”
Ayah : “Kenapa Ibumu? Dimana sekarang?”
Anak : “Mungkin sudah meninggal yah?”
Ayah : “Hah? Kok bisa?”
Anak : “Tadi waktu ayah datang ibu lari mau bukain pintu, tapi terpleset trus masuk kolam.”
Ayah : “Masuk kolam? Ibumu kan ndak bisa renang. Kenapa gak bilang dari tadi?” (Sambil menuju kolam belakang rumah)
Anak : “Ayah tadi gak kasih aku ngomong. Tu kan Yah?”
Ayah&Anak : “Ibuuuuuuuuu……….????” (Ternyata benar, sang Ibu telah tiada)
Sekian sahabat pembaca yang baik hatinya, semoga bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya membaca buku tentang sebuah teknik menjual atau bahasa kerennya marketing. Dalam buku itu sahabat, ada sebuah Bab (maksudnya bagian dari buku lho, bukan Buang Air Besar) yang menjelaskan bagaimana teknik berkomunikasi dengan calon pembeli atau juga mungkin yang sudah menjadi pelanggan. Dalam buku itu salah satu teknik menyebutkan bahwa “Mendengarkan itu sebuah seni menjual”, yang ini tolong juga jangan negatif dulu lho sahabat, maksudnya seni itu teknik atau cara, jangan dikira seni itu air kecil… hihihi. Kenapa mendengar itu menjadi sebuah seni menjual? Nah, dalam buku itu disebutkan beberapa manfaatnya, antara lain ; mendengarkan adalah sebuah wujud penghargaan terhadap konsumen dan memndengarkan akan memunculkan banyak ide, karena kita jadi tahu apa yang dibutuhkan konsumen. Kurang lebih seperti itu sahabat.
Namum, pada kenyataannya, terkadang ketika kita menjual sesuatu, kita menjadi enggan mendengarkan apa-apa yang dikatakan pembeli, terlebih jika yang disampaikan pembeli itu sudah kita rasa jauh dari pokok bahasan utuma, terlebih lagi, jika kita merasa pembeli itu memberikan komentar negatif tentang produk kita dan akhirnya kita memilih untuk memotong pembicaraan calon pembeli tersebut yang terkadang bahkan sering kita lakukan dengan cara yang kurang halus. Padahal sahabat, cara seperti itu sebenarnya kurang pas kita lakukan, karena itu justru menunjukkan ketidakdewasaan kita dalam menyikapi apa-apa yang disampaikan pembeli kepada kita.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, setelah dedaunan saya bolak-balik, kemudian padang ilalang saya sibakkan, ada suatu kesamaan yang saya temukan antara teknik menjual yang saya sampaikan di atas dengan bagaimana kita mendidik anak-anak kita Lhooooooooo… Kok bisa? Ya bisa… Maksudnya, mendengarkan anak itu juga sebuah seni mendidik. Coba, sekarang kita hitung-hitung lagi, seberapa sering kita mendengarkan anak-anak kita? Lebih banyak mana dengan berapa banyak kita memotong pembicaraannya dengan mengetakan “Ah, kamu tu masih kecil, sudah ikuti ayah begini saja!” yang akhirnya menjadikan anak-anak kita menjadi enggan untuk berpendapat.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, tentunya tidak ada salahnya kita menghargai anak-anak kita, salah satunya dengan mendengarkan apa pendapat mereka, sehingga kita juga akan menjadi tahu apa-apa yang sebenarnya ada dalam benak mereka. Jangan sampai seperti cerita berikut ini :
(Setting : Sebuah rumah dengan keluarga kecil, seorang ayah, ibu dan satu orang anak. Ketika itu sang ayah baru pulang kerja dan si anak berlari mendekatinya…)
Anak : “Ayah…ayaaaaahh…cepat yah…aku mau ngomong penting.”
Ayah : “Aahh..nanti saja, ayah cape’ mau istirahat dulu..”
Anak : “Ini sangat penting Yah,,,”
Ayah : “Iya, tapi nanti saja!”
Anak : “Pokoknya sekarang…!”
Ayah : “Kamu mau jadi anak yang berbakti kan? Kalau ayah bilang nanti ya nanti!”
Anak : “Tapi yah?”
Ayah : “Sudah, gak ada tapi-tapian. Sekarang kamu panggilkan Ibumu!”
Anak : “Nah, itu dia yah.”
Ayah : “Itu dia apa?”
Anak : “Ibu Yah…”
Ayah : “Kenapa Ibumu? Dimana sekarang?”
Anak : “Mungkin sudah meninggal yah?”
Ayah : “Hah? Kok bisa?”
Anak : “Tadi waktu ayah datang ibu lari mau bukain pintu, tapi terpleset trus masuk kolam.”
Ayah : “Masuk kolam? Ibumu kan ndak bisa renang. Kenapa gak bilang dari tadi?” (Sambil menuju kolam belakang rumah)
Anak : “Ayah tadi gak kasih aku ngomong. Tu kan Yah?”
Ayah&Anak : “Ibuuuuuuuuu……….????” (Ternyata benar, sang Ibu telah tiada)
Sekian sahabat pembaca yang baik hatinya, semoga bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall
Jangan Melampiaskan Emosi pada Anak-Anak
Assalamu'alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Bagaimana kabar sahabat hari ini?
Semoga senantiasa dijaga Allah. Aamiin... Salam jumpa kembali dengan
saya, Kak Wall, biasa dipanggil Kak Wall. (maaf b'canda)
Kali ini saya ingin bertanya terlebih dahulu pada sahabat semua, "Apakah sahabat pernah menghadapi anak-anak?" bisa jadi anak sendiri, anak tetangga atau mungkin bagi sahabat yang menjadi Guru atau juga Dosen TPA, pasti akan jawab pernah. Pertanyaan berikutnya, "Apakah sahabat pernah menghadapi anak-anak disaat sahabat sedang merasakan masalah yang besar dan berat?" Nah, kalau yang ini pasti akan banyak jawaban berbeda. Trus, "kira-kira bakalan pasang muka yang kayak apa nih kalau sahabat misalnya sedang mengajar di kelas, tapi dalam diri sahabat baru merasakan beban masalah pribadi yang berat?" Nah, ini yang akan kita bahas kali ini.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sebagai manusia, memang kita tidak lepas dari yang namanya masalah. Entah besar, kecil, berat maupun ringan.Hanya saja sahabat, dalam kita berinteraksi kepada orang banyak, tentunya kita juga dituntut untuk pandai-pandai mengelola emosi kita. Terlebih sahabat, ketika kita berinteraksi di depan anak-anak. Anak-anak dikaruniakan fitrah untuk bermain dengan cerianya, saya rasa sahabat sepakat bagian ini. Lalu "Apa jadinya ketika mereka berhadapan dengan kita, kemudian kita memasang muka lusut bak cucian habis diperas karena kita sedang menanggung sebuah masalah yang sebenarnya anak-anak ini tak pernah tau sedikitpun?" Apalagi kalau kita menjadikan meraka tempat pelampiasan dari beban kita. Misalnya dengan marah-marah, membentak dan lain sejenisnya. Tentu saja anak-anak disekeliling kita akan merasa melihat sosok yang menakutkan ketika berhadapan dengan kita bukan?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sebagai orang tua, guru, ustadz atau (kakak juga boleh), tentunya kita lebih ingin anak-anak sayang kepada kita daripada takut melihat kita. Tentu misal kita sebagai seorang ayah akan lebih ingin pulang kerja disambut anak-anak kita dengan "Ayaaaahhh" sambil berlari minta gendong dari pada anak kita bilang "Huh, ada genderuwo pulang. mending tidur." Atau kalau kita sebagai Guru, tentu tak pernah menginginkan murid-murid kita berteriak di dalam kelas "Teman-teman,,,ssssttttttttttt ,,,jangan berisik, Mak Lampir mau masuk..." (semoga semua setuju)
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita selalu berusaha memasang muka ceria di depan mereka. Seberat apapun beban yang kita tanggung, jangan sampai mereka menjadi korban dari ketidakbijaksanaan kita dalam mengontrol diri kita, sekalipun hanya sekedar masalah wajah dan sorot mata. Toh, kita semua tau kan sahabat, bahwa mendidik yang sangat efektif itu dengan keteladanan. So, mana senyum sahabat?
Saya : 100% Kak Wall
Kali ini saya ingin bertanya terlebih dahulu pada sahabat semua, "Apakah sahabat pernah menghadapi anak-anak?" bisa jadi anak sendiri, anak tetangga atau mungkin bagi sahabat yang menjadi Guru atau juga Dosen TPA, pasti akan jawab pernah. Pertanyaan berikutnya, "Apakah sahabat pernah menghadapi anak-anak disaat sahabat sedang merasakan masalah yang besar dan berat?" Nah, kalau yang ini pasti akan banyak jawaban berbeda. Trus, "kira-kira bakalan pasang muka yang kayak apa nih kalau sahabat misalnya sedang mengajar di kelas, tapi dalam diri sahabat baru merasakan beban masalah pribadi yang berat?" Nah, ini yang akan kita bahas kali ini.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sebagai manusia, memang kita tidak lepas dari yang namanya masalah. Entah besar, kecil, berat maupun ringan.Hanya saja sahabat, dalam kita berinteraksi kepada orang banyak, tentunya kita juga dituntut untuk pandai-pandai mengelola emosi kita. Terlebih sahabat, ketika kita berinteraksi di depan anak-anak. Anak-anak dikaruniakan fitrah untuk bermain dengan cerianya, saya rasa sahabat sepakat bagian ini. Lalu "Apa jadinya ketika mereka berhadapan dengan kita, kemudian kita memasang muka lusut bak cucian habis diperas karena kita sedang menanggung sebuah masalah yang sebenarnya anak-anak ini tak pernah tau sedikitpun?" Apalagi kalau kita menjadikan meraka tempat pelampiasan dari beban kita. Misalnya dengan marah-marah, membentak dan lain sejenisnya. Tentu saja anak-anak disekeliling kita akan merasa melihat sosok yang menakutkan ketika berhadapan dengan kita bukan?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sebagai orang tua, guru, ustadz atau (kakak juga boleh), tentunya kita lebih ingin anak-anak sayang kepada kita daripada takut melihat kita. Tentu misal kita sebagai seorang ayah akan lebih ingin pulang kerja disambut anak-anak kita dengan "Ayaaaahhh" sambil berlari minta gendong dari pada anak kita bilang "Huh, ada genderuwo pulang. mending tidur." Atau kalau kita sebagai Guru, tentu tak pernah menginginkan murid-murid kita berteriak di dalam kelas "Teman-teman,,,ssssttttttttttt
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita selalu berusaha memasang muka ceria di depan mereka. Seberat apapun beban yang kita tanggung, jangan sampai mereka menjadi korban dari ketidakbijaksanaan kita dalam mengontrol diri kita, sekalipun hanya sekedar masalah wajah dan sorot mata. Toh, kita semua tau kan sahabat, bahwa mendidik yang sangat efektif itu dengan keteladanan. So, mana senyum sahabat?
Saya : 100% Kak Wall
Keikhlasan Seorang Ibu Menjaga Amanah
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, suasana hari ini begitu cerah,
semoga secerah suasana hati sahabat dan kita semua. Aamiin…
Pagi ini saya berkesempatan untuk bertemu dengan siswa-siswi di sebuah sekolah dasar. Di sana, saya dan beberapa rekan saya berbagi ilmu tentang bagaimana membuat belajar itu menjadi hal yang menyenangkan untuk siswa-siswi di sekolah itu dengan beberapa metode yang kami ajarkan. Di sela-sela waktu jeda sebelum masuk ke kelas berikutnya, saya bertemu dengan seorang ibu yang ternyata sedang menunggui puteranya. Tidak seperti pada umumnya memang, karena di sekolah tersebut, hanya beliau satu-satunya orang tua yang menunggui puteranya, terlebih si anak sudah kelas 4 di sekolah itu.
Kemudian kamipun mulai berbincang, ibu itu mulai bertanya “Gimana Mas, anak saya bisa ngikuti ndak ya Mas?” setelah saya jawab, beliau bercerita tentang banyak hal, salah satunya alasan kenapa beliau menunggui puteranya itu yang ternyata itu dilakukan sejak TK sampai saat ini. Dan ternyata, si anak ini kalau boleh saya menyimpulkan dia termasuk anak berkebutuhan khusus. Beliau juga menuturkan bahwa anaknya pernah di tes IQ dan hasilnya di bawah 70. “Anak saya itu kalo ndak ditungguin sering dinakali teman-temannya juga mas, dan kalau udah gitu pasti nangis. Jadi saya pilih nunggu tiap hari gini yang penting dia tetap mau bersekolah di sini, soalnya dia tidak mau di tempat yang lain.” begitu sepenggal penuturan ibu itu.
Saya cukup salut dengan semangat ibu itu yang rela menunggui puteranya agar tetap mau sekolah setiap harinya. Terlebih, di ujung obrolan kami ada sebuah kalimat yang terlontar dari bibir ibu itu yang penuh dengan keikhlasan “Saya sama bapaknya juga masih terus mencari jalan keluar supaya anak saya bisa lebih baik lagi mas belajarnya. Tapi di satu sisi kami juga pasrah atas kehendak yang Maha Kuasa. Kalaupun anak saya ndak jago matematika ndak papa, yang penting dia bisa mengekspresikan apa yang dia senangi dan sukur-sukur dia bisa berprestasi dari bidang lain.”
Mendengar cerita ibu itu, saya teringat dengan kisah tentang Hee Ah Lee yang di mata manusia terlihat tidak sempurna secara fisik. Namun, ditengah cemoohan orang-orang di sekitar, sang ibu mampu mendidiknya dan berhasil mengantarkan Hee Ah Lee menjadi Pianis Hebat Dunia dan menjadi warga kehormatan di Negaranya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, kisah ibu itu menurut saya adalah sebuah kisah yang luar biasa. Beliau mengajarkan bagaimana ikhlas, bagaimana berkorban dan bagaimana bertanggung jawab atas amanah yang dititipkan padanya. Tetapi sahabat, adakah kita sadari bahwa setiap ibu pada dasarnya memiliki sifat itu? Termasuk ibu kita. Hanya saja dalam bentuk berbeda beliau menunjukkan keikhlasan, pengorbanan dan juga tanggung jawab atas titipan Allah, yaitu diri kita.
Saya : 100% Kak Wall
Pagi ini saya berkesempatan untuk bertemu dengan siswa-siswi di sebuah sekolah dasar. Di sana, saya dan beberapa rekan saya berbagi ilmu tentang bagaimana membuat belajar itu menjadi hal yang menyenangkan untuk siswa-siswi di sekolah itu dengan beberapa metode yang kami ajarkan. Di sela-sela waktu jeda sebelum masuk ke kelas berikutnya, saya bertemu dengan seorang ibu yang ternyata sedang menunggui puteranya. Tidak seperti pada umumnya memang, karena di sekolah tersebut, hanya beliau satu-satunya orang tua yang menunggui puteranya, terlebih si anak sudah kelas 4 di sekolah itu.
Kemudian kamipun mulai berbincang, ibu itu mulai bertanya “Gimana Mas, anak saya bisa ngikuti ndak ya Mas?” setelah saya jawab, beliau bercerita tentang banyak hal, salah satunya alasan kenapa beliau menunggui puteranya itu yang ternyata itu dilakukan sejak TK sampai saat ini. Dan ternyata, si anak ini kalau boleh saya menyimpulkan dia termasuk anak berkebutuhan khusus. Beliau juga menuturkan bahwa anaknya pernah di tes IQ dan hasilnya di bawah 70. “Anak saya itu kalo ndak ditungguin sering dinakali teman-temannya juga mas, dan kalau udah gitu pasti nangis. Jadi saya pilih nunggu tiap hari gini yang penting dia tetap mau bersekolah di sini, soalnya dia tidak mau di tempat yang lain.” begitu sepenggal penuturan ibu itu.
Saya cukup salut dengan semangat ibu itu yang rela menunggui puteranya agar tetap mau sekolah setiap harinya. Terlebih, di ujung obrolan kami ada sebuah kalimat yang terlontar dari bibir ibu itu yang penuh dengan keikhlasan “Saya sama bapaknya juga masih terus mencari jalan keluar supaya anak saya bisa lebih baik lagi mas belajarnya. Tapi di satu sisi kami juga pasrah atas kehendak yang Maha Kuasa. Kalaupun anak saya ndak jago matematika ndak papa, yang penting dia bisa mengekspresikan apa yang dia senangi dan sukur-sukur dia bisa berprestasi dari bidang lain.”
Mendengar cerita ibu itu, saya teringat dengan kisah tentang Hee Ah Lee yang di mata manusia terlihat tidak sempurna secara fisik. Namun, ditengah cemoohan orang-orang di sekitar, sang ibu mampu mendidiknya dan berhasil mengantarkan Hee Ah Lee menjadi Pianis Hebat Dunia dan menjadi warga kehormatan di Negaranya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, kisah ibu itu menurut saya adalah sebuah kisah yang luar biasa. Beliau mengajarkan bagaimana ikhlas, bagaimana berkorban dan bagaimana bertanggung jawab atas amanah yang dititipkan padanya. Tetapi sahabat, adakah kita sadari bahwa setiap ibu pada dasarnya memiliki sifat itu? Termasuk ibu kita. Hanya saja dalam bentuk berbeda beliau menunjukkan keikhlasan, pengorbanan dan juga tanggung jawab atas titipan Allah, yaitu diri kita.
Saya : 100% Kak Wall
Kamis, 06 Maret 2014
Posted by Kak Wall
Hal yang Sepele Bisa Jadi Berabe
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat hari ini? Cerah? Ceria? Yupz, semoga begitu…
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa waktu yang lalu saya sempat menegur seorang siswa yang membuang sampah sembarangan. “E…mbaakkk,,, sampahnya jangan dibuang di situ dong… nanti tempatnya kotor kan? Ayo, dibuang ditempat sampah…” lalu si anak ini menjawab “Alaaahh…dah terlanjur Kak, kan susah ambilnya lagi, Cuma dikit ko..” Memang tempanya agak sulit dijangkau karena tertutup papan, jadi agak susah untuk anak-anak mengambilnya lagi. Akhirnya pun saya biarkan begitu saja.
Hari ini, kira-kira sekitar dua pekan setelah saya menegur si anak, saya pun berniat untuk membersihkan tempat yang tadinya dipakai membuang sampah si anak. Tapi, kira-kira apa yang terjadi sahabat? Luar biasa, tempat yang tadinya hanya ada sebuah plastic bungkus snack makanan ringan seharga lima ratus rupiah, berubah menjadi lautan sampah yang setelah selesai saya kumpulkan hasilnya tidak kurang dari sekeranjang sampah penuh. Heemmmmm…
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata, hari demi hari setelah saya menegur si anak tadi, cerita membuang sampah sembarangan tadi masih terjadi, padahal sudah ada tempat sampah di dekat tempat tersebut. Dan parahnya, anak-anak yang lain juga ikut-ikutan membuang sampah di tempat yang bukan semestinya itu. Barangkali mereka juga berpikir sama “Ah, Cuma satu ko, itu juga udah ada sebelumnya… berarti kan boleh buang disini…” dan akhirnya ya seperti yang saya sampaikan tadi sahabat.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, membiarkan budaya yang kurang baik pada anak-anak sekalipun hanya sebuah hal kecil, pada hakekatnya kita telah membiarkan sebuah system yang itu adalah system yang kurang baik bagi anak-anak kita terbangun dalam perkembangan anak-anak kita. Tentu sahabat sudah bisa menjawab sendiri apa akibatnya dimasa ketika mereka dewasa kan? Yupz, Ibu kota Negara ini barangkali bisa jadi contoh yang nyata bagaimana sampah-sampah tertimbun padat di sungai-sungai, bahkan berhasil menenggelamkan waduk yang cukup luas. Luarrr biasa... Akhirnya hal sepele pun jadi berabe.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa waktu yang lalu saya sempat menegur seorang siswa yang membuang sampah sembarangan. “E…mbaakkk,,, sampahnya jangan dibuang di situ dong… nanti tempatnya kotor kan? Ayo, dibuang ditempat sampah…” lalu si anak ini menjawab “Alaaahh…dah terlanjur Kak, kan susah ambilnya lagi, Cuma dikit ko..” Memang tempanya agak sulit dijangkau karena tertutup papan, jadi agak susah untuk anak-anak mengambilnya lagi. Akhirnya pun saya biarkan begitu saja.
Hari ini, kira-kira sekitar dua pekan setelah saya menegur si anak, saya pun berniat untuk membersihkan tempat yang tadinya dipakai membuang sampah si anak. Tapi, kira-kira apa yang terjadi sahabat? Luar biasa, tempat yang tadinya hanya ada sebuah plastic bungkus snack makanan ringan seharga lima ratus rupiah, berubah menjadi lautan sampah yang setelah selesai saya kumpulkan hasilnya tidak kurang dari sekeranjang sampah penuh. Heemmmmm…
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata, hari demi hari setelah saya menegur si anak tadi, cerita membuang sampah sembarangan tadi masih terjadi, padahal sudah ada tempat sampah di dekat tempat tersebut. Dan parahnya, anak-anak yang lain juga ikut-ikutan membuang sampah di tempat yang bukan semestinya itu. Barangkali mereka juga berpikir sama “Ah, Cuma satu ko, itu juga udah ada sebelumnya… berarti kan boleh buang disini…” dan akhirnya ya seperti yang saya sampaikan tadi sahabat.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, membiarkan budaya yang kurang baik pada anak-anak sekalipun hanya sebuah hal kecil, pada hakekatnya kita telah membiarkan sebuah system yang itu adalah system yang kurang baik bagi anak-anak kita terbangun dalam perkembangan anak-anak kita. Tentu sahabat sudah bisa menjawab sendiri apa akibatnya dimasa ketika mereka dewasa kan? Yupz, Ibu kota Negara ini barangkali bisa jadi contoh yang nyata bagaimana sampah-sampah tertimbun padat di sungai-sungai, bahkan berhasil menenggelamkan waduk yang cukup luas. Luarrr biasa... Akhirnya hal sepele pun jadi berabe.
Saya : 100% Kak Wall
Nama Yang Baik Untuk Do'a Yang Baik
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, senang rasanya ketika bisa kembali
menyapa sahabat melalui siratan kata-kata yang penuh harap membawa
hikmah dan manfaat nantinya. Aamiin.
Sahabat pembaca yang baik hatinya bolehkah saya bertanya “Siapakah nama sahabat?” Kenapa saya bertanya nama? Yupz, pagi ini saya disibukkan oleh sebuah buku yang menarik dan mempengaruhi saya untuk membaca sebuah Bab di dalamnya, yaitu tentang hak seorang anak atas orang tuanya. Nah salah satunya adalah tentang do’a orang tua untuk anak. Trus apa hubungannya dengan nama? Baik, sedikit saya akan mengingatkan penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti di Jepang yang bernama Dr. Masaru Emoto yang menyimpulkan bahwa kristal air mampu mendengar dan merespon apa yang didengarkannya, baik akan berubah menjadi Kristal air yang sangat indah ataupun sebaliknya. Padahal, secara teori lebih dari 70% dari tubuh manusia terdiri dari cairan, maka apa yang sering didengar oleh setiap manusia akan mempengaruhi Kristal air di dalam dirinya.
Masih belum nyambung juga dengan nama? Baik, kita lanjutkan. Nama adalah salah satu kata yang paling sering diucapkan orang tua ke anak? Tentunya karena dengan nama itulah orang tua memanggil anak. Dan tentunya tidak berhenti di orang tua kan? Siapapun juga akan memanggil dengan nama itu. Nah, kesimpulannya jika orang tua memberikan nama yang baik, maka anak akan mendengarkan kata-kata panggilan yang baik ketika setiap orang memanggilnya, dan tentunya sebaliknya. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, nama adalah sebuah do’a, maka, memberikan nama yang baik untuk anak sama artinya dengan mendoakan kebaikan untuk anak disetiap harinya.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya bolehkah saya bertanya “Siapakah nama sahabat?” Kenapa saya bertanya nama? Yupz, pagi ini saya disibukkan oleh sebuah buku yang menarik dan mempengaruhi saya untuk membaca sebuah Bab di dalamnya, yaitu tentang hak seorang anak atas orang tuanya. Nah salah satunya adalah tentang do’a orang tua untuk anak. Trus apa hubungannya dengan nama? Baik, sedikit saya akan mengingatkan penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti di Jepang yang bernama Dr. Masaru Emoto yang menyimpulkan bahwa kristal air mampu mendengar dan merespon apa yang didengarkannya, baik akan berubah menjadi Kristal air yang sangat indah ataupun sebaliknya. Padahal, secara teori lebih dari 70% dari tubuh manusia terdiri dari cairan, maka apa yang sering didengar oleh setiap manusia akan mempengaruhi Kristal air di dalam dirinya.
Masih belum nyambung juga dengan nama? Baik, kita lanjutkan. Nama adalah salah satu kata yang paling sering diucapkan orang tua ke anak? Tentunya karena dengan nama itulah orang tua memanggil anak. Dan tentunya tidak berhenti di orang tua kan? Siapapun juga akan memanggil dengan nama itu. Nah, kesimpulannya jika orang tua memberikan nama yang baik, maka anak akan mendengarkan kata-kata panggilan yang baik ketika setiap orang memanggilnya, dan tentunya sebaliknya. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, nama adalah sebuah do’a, maka, memberikan nama yang baik untuk anak sama artinya dengan mendoakan kebaikan untuk anak disetiap harinya.
Saya : 100% Kak Wall
Perhatikan Istilah Dalam Mendidik Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, hari ini saya baru saja selesai
menjadi anggota tim kegiatan Out Bond. Dan saya berkesempatan memandu
sebuah permainan yang cukup menarik. Dalam permainan itu saya
menginstruksikan peserta untuk menjatuhkan sasaran sebanyak mungkin
dengan cara menggulirkan/ menggelindingkan bola sampai mengenai sasaran
dengan jarak yang saya tentukan
sebelumnya.
Eits, tapi tidak sesederhana itu, cara menggelindingkannya tidak hanya dengan tangan lho, tapi ada yang menggunakan kaki. Nah, dari situlah mulai ada celotehan dari peserta setelah mereka mndapatkan undian dengan anggota gerak yang mana mereka akan melempar. Ada yang berkata “Aaaahhhh ko tangan kiri sih?”, “Yes, tangan kanan.” Kalau yang putra “Yes, dapat kaki kanan” mungkin sering sepak bola, tapi ada juga yang bilang “Kalau kaki kiri kan gak bisaaaa…” dan masih banyak lagi teriakan-teriakan yang mereka lontarkan.
Beberapa saat kemudian tiba giliran mereka melempatkan satu per satu mulai dari yang mendapatkan cara menggelindingkan dengan tangan kanan, tangan kiri kemudian kaki kiri sampai dengan kaki kanan… kali ini banyak kejadian yang tidak mereka duga, banyak yang gagal menggunakan anggota gerak yang mereka anggap lebih berpeluang untuk menjatuhkan sasaran, yaitu tangan dan kaki kanan. Sebaliknya, tidak sedikit yang berhasil memaksimalkan tangan dan kaki kiri mereka. Nah, celotehannya pun mulai berganti. “Wah, ternyata tangan kirimu jago ya?” atau “aduuuhhh, kenapa tendangan kananku melenceng jauh?” dan lainnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah kita mendengarkan orang tua yang menyuruh anaknya ketika makan “Hayoo, maemnya pakai tangan yang bagus…(maksudnya tangan kanan)” dari situlah ada kemungkinan muncul anggapan dari seorang anak bahwa yang bagus itu tangan kanan, sedang yang kiri tidak. Nah, makanya sampai terbawa ketika mereka beranjak dewasa seperti yang terjadi dalam cerita saya diatas.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, barangkali kita harus mulai berhati-hati memberikan istilah untuk anak-anak kita, jangan sampai contoh di atas menjadi salah satunya dan kalaupun sudah terjadi semoga itu cukup satu-satunya. Why? Yah, karena apapun yang telah Allah anugerahkan untuk kita ini semua sudah pada porsi dan kegunaannya. Ada sebuah kalimat yang menarik bahwa “Ketika kita menganggap buruk fisik kita ataupun fisik orang lain, tenyata bukan semata kita menghina bentuk ataupun kegunaan fisik itu, melainkan kita sudah menghina yang menciptakannya.” Astaghfirullah… semoga kita dijauhkan ya dari sikap-sikap seperti itu? Aamiin.
Saya : 100% Kak Wall
Eits, tapi tidak sesederhana itu, cara menggelindingkannya tidak hanya dengan tangan lho, tapi ada yang menggunakan kaki. Nah, dari situlah mulai ada celotehan dari peserta setelah mereka mndapatkan undian dengan anggota gerak yang mana mereka akan melempar. Ada yang berkata “Aaaahhhh ko tangan kiri sih?”, “Yes, tangan kanan.” Kalau yang putra “Yes, dapat kaki kanan” mungkin sering sepak bola, tapi ada juga yang bilang “Kalau kaki kiri kan gak bisaaaa…” dan masih banyak lagi teriakan-teriakan yang mereka lontarkan.
Beberapa saat kemudian tiba giliran mereka melempatkan satu per satu mulai dari yang mendapatkan cara menggelindingkan dengan tangan kanan, tangan kiri kemudian kaki kiri sampai dengan kaki kanan… kali ini banyak kejadian yang tidak mereka duga, banyak yang gagal menggunakan anggota gerak yang mereka anggap lebih berpeluang untuk menjatuhkan sasaran, yaitu tangan dan kaki kanan. Sebaliknya, tidak sedikit yang berhasil memaksimalkan tangan dan kaki kiri mereka. Nah, celotehannya pun mulai berganti. “Wah, ternyata tangan kirimu jago ya?” atau “aduuuhhh, kenapa tendangan kananku melenceng jauh?” dan lainnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah kita mendengarkan orang tua yang menyuruh anaknya ketika makan “Hayoo, maemnya pakai tangan yang bagus…(maksudnya tangan kanan)” dari situlah ada kemungkinan muncul anggapan dari seorang anak bahwa yang bagus itu tangan kanan, sedang yang kiri tidak. Nah, makanya sampai terbawa ketika mereka beranjak dewasa seperti yang terjadi dalam cerita saya diatas.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, barangkali kita harus mulai berhati-hati memberikan istilah untuk anak-anak kita, jangan sampai contoh di atas menjadi salah satunya dan kalaupun sudah terjadi semoga itu cukup satu-satunya. Why? Yah, karena apapun yang telah Allah anugerahkan untuk kita ini semua sudah pada porsi dan kegunaannya. Ada sebuah kalimat yang menarik bahwa “Ketika kita menganggap buruk fisik kita ataupun fisik orang lain, tenyata bukan semata kita menghina bentuk ataupun kegunaan fisik itu, melainkan kita sudah menghina yang menciptakannya.” Astaghfirullah… semoga kita dijauhkan ya dari sikap-sikap seperti itu? Aamiin.
Saya : 100% Kak Wall
Pentingnya Metode Belajar Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana suasana hari ini sahabat?
Semangat? Alhamdulillah… yang penting tetap syukur yah?
Sahabat, pernahkah bertanya pada anak kecil tentang pertanyaan-pertanyaan yang kita anggap sangat mudah? Contohnya kita bertanya pada anak yang berusia TK tentang rukun Islam dengan pertanyaan “Dik, sebutkan rukun Islam dong…bisa kan?” Yah, pertanyaannya memang sebenarnya cukup mudah tapi belum tentu mereka bisa jawab. Padahal mungkin juga mereka sebenarnya sudah hafal. Tapiiiii…dengan cara yang lain kita menanyakannya misalnya “Dik, nyanyian Rukun Islam apal kan? Coba kakak mau dengar dong…” Kalo dah gitu bukan tidak mungkin si anak langsung jawab “Rukun Islam yang limaaaa… Syahadad Shalat Puasaaa…Zakat untuk si Papa… Haji bagi yang kuasa…” intinya, bagaimana kita bertanya itu akan berpengaruh bisa dan tidaknya si anak akan menjawab.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, yang saya sebutkan tadi hanyalah salah satu contoh saja yang menggambarkan bahwa cara belajar anak membutuhkan media, yang biasanya bisa berbentuk audio ataupun visual. Nyanyian, gambar-gambar, warna, model, alat peraga, benda atau makhluk hidup dan lain sebagainya adalah contoh-contoh media yang bisa kita gunakan untuk mengajarkan sesuatu hal untuk anak. Selain menarik, anak juga akan lebih mudah memahami apa yang ingin kita sampaikan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata metode belajar dengan menggunakan media seperti itu tidak hanya efektif untuk anak-anak kecil pra sekolah / TK saja, melainkan sekarang ini sudah dikembangkan untuk anak-anak sekolah dasar dan tingkat di atasnya pun bisa menggunakan metode atau cara belajar tersebut. Pernah dengar istilah “MIND MAP” yapz, itu adalah salah satu teknik belajar mencatat yang lebih kreatif yang dimaksudkan untuk lebih mudah mengingat dan menghafalkan materi belajar. Dengan kombinasi berbagai unsur seperti garis, gambar, symbol, warna, kata-kata kunci yang menarik, membuat metode ini cukup popular dan menarik untuk di terapkan.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari, kita coba memberikan cara-cara yang lebih mudah dipahami dalam mengajarkan sesuatu untuk anak-anak kita, tidak cukup hanya mudah saja, tetapi juga menyenangkan, karena, menyenangkan adalah salah satu hal yang membuat sesuatu akan terasa menjadi lebih mudah. Sekian…
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat, pernahkah bertanya pada anak kecil tentang pertanyaan-pertanyaan yang kita anggap sangat mudah? Contohnya kita bertanya pada anak yang berusia TK tentang rukun Islam dengan pertanyaan “Dik, sebutkan rukun Islam dong…bisa kan?” Yah, pertanyaannya memang sebenarnya cukup mudah tapi belum tentu mereka bisa jawab. Padahal mungkin juga mereka sebenarnya sudah hafal. Tapiiiii…dengan cara yang lain kita menanyakannya misalnya “Dik, nyanyian Rukun Islam apal kan? Coba kakak mau dengar dong…” Kalo dah gitu bukan tidak mungkin si anak langsung jawab “Rukun Islam yang limaaaa… Syahadad Shalat Puasaaa…Zakat untuk si Papa… Haji bagi yang kuasa…” intinya, bagaimana kita bertanya itu akan berpengaruh bisa dan tidaknya si anak akan menjawab.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, yang saya sebutkan tadi hanyalah salah satu contoh saja yang menggambarkan bahwa cara belajar anak membutuhkan media, yang biasanya bisa berbentuk audio ataupun visual. Nyanyian, gambar-gambar, warna, model, alat peraga, benda atau makhluk hidup dan lain sebagainya adalah contoh-contoh media yang bisa kita gunakan untuk mengajarkan sesuatu hal untuk anak. Selain menarik, anak juga akan lebih mudah memahami apa yang ingin kita sampaikan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata metode belajar dengan menggunakan media seperti itu tidak hanya efektif untuk anak-anak kecil pra sekolah / TK saja, melainkan sekarang ini sudah dikembangkan untuk anak-anak sekolah dasar dan tingkat di atasnya pun bisa menggunakan metode atau cara belajar tersebut. Pernah dengar istilah “MIND MAP” yapz, itu adalah salah satu teknik belajar mencatat yang lebih kreatif yang dimaksudkan untuk lebih mudah mengingat dan menghafalkan materi belajar. Dengan kombinasi berbagai unsur seperti garis, gambar, symbol, warna, kata-kata kunci yang menarik, membuat metode ini cukup popular dan menarik untuk di terapkan.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari, kita coba memberikan cara-cara yang lebih mudah dipahami dalam mengajarkan sesuatu untuk anak-anak kita, tidak cukup hanya mudah saja, tetapi juga menyenangkan, karena, menyenangkan adalah salah satu hal yang membuat sesuatu akan terasa menjadi lebih mudah. Sekian…
Saya : 100% Kak Wall
Pentingnya Membersamai Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, siang ini saya baru saja
silaturrahim ke sebuah sekolah. Sesampainya di sekolah itu saya sedikit
terkejut karena kondisi sekolah yang sudah sangat sepi dan semua pintu
ruangan tertutup termasuk gerbang sekolah, hanya saja memang tidak
digembok…padahal sebelumnya salah seorang ustadzah mengatakan pulangnya
sore setiap harinya. Lantas saya mengira
sekolah itu libur atau pulang pagi. Sempat saya memutuskan untuk
pulang, tapi kemudian pandangan saya menyapu setiap sudut sekolah itu
dan dalam benak saya berkata “Sebentar, kalau sudah pulang kenapa itu
sepatu-sepatunya masih tertata rapi di rak depan kelas? Masa’ sepatu
ditinggal di sekolahan?” saya pun berubah pikiran dan memutuskan untuk
mencoba masuk dengan membuka gerbang yang memang tidak dikunci. Sesaat
setelah saya berhasil masuk ke halaman sekolah itu, kemudian seorang
ustadzah yang cukup saya kenal keluar dari ruangan menyambut dan menyapa
serta mempersilakan saya masuk.
Setelah duduk selanjutnya kami pun mulai berbincang dan saya bertanya,
Saya : “Ini ko sepi ust? Sudah pulang atau gimana?”
Ustadzah :”O..tidak mas, ini jam tidur…”
Saya : “O..gitu, saya kira sudah pulang atau libur tadi. Ustadzahnya berarti juga jam istirahat ya ust?”
Ustadzah :”Iya Mas, anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian Mas.”
Saya : “O.. gitu???”
Ada sebuah pernyataan ustadzah yang cukup menarik “…anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian…” Benar juga, barang kali anak-anak justru main sendiri-sendiri atau saling mengganggu satu sama lain jika tidak ditunggui sambil menemani dan mengajak tidur. Yah, maklumlah namanya juga anak-anak.
Coba, sekarang kita bandingkan saat kita menyuruh anak-anak kita belajar kemudian apa yang kita lakukan? Rasanya tidak pas ketika kita justru menonton TV bukan? Yah, minimal kita menemani sambil baca Koran (meskipun kadang korannya terbalik) untuk sekedar membuat anak kita berpikir bahwa kita juga sedang belajar sambil menunggu barangkali anak kita merasa kesulitan kemudian bertanya. Artinya, kita bukan sekedar menyuruh atau memerintah tetapi kita mengajak untuk melakukannya.
Saya : 100% Kak Wall
Setelah duduk selanjutnya kami pun mulai berbincang dan saya bertanya,
Saya : “Ini ko sepi ust? Sudah pulang atau gimana?”
Ustadzah :”O..tidak mas, ini jam tidur…”
Saya : “O..gitu, saya kira sudah pulang atau libur tadi. Ustadzahnya berarti juga jam istirahat ya ust?”
Ustadzah :”Iya Mas, anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian Mas.”
Saya : “O.. gitu???”
Ada sebuah pernyataan ustadzah yang cukup menarik “…anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian…” Benar juga, barang kali anak-anak justru main sendiri-sendiri atau saling mengganggu satu sama lain jika tidak ditunggui sambil menemani dan mengajak tidur. Yah, maklumlah namanya juga anak-anak.
Coba, sekarang kita bandingkan saat kita menyuruh anak-anak kita belajar kemudian apa yang kita lakukan? Rasanya tidak pas ketika kita justru menonton TV bukan? Yah, minimal kita menemani sambil baca Koran (meskipun kadang korannya terbalik) untuk sekedar membuat anak kita berpikir bahwa kita juga sedang belajar sambil menunggu barangkali anak kita merasa kesulitan kemudian bertanya. Artinya, kita bukan sekedar menyuruh atau memerintah tetapi kita mengajak untuk melakukannya.
Saya : 100% Kak Wall
Sekolah Hanya Untuk Mencari Ijazah?
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat di hari yang
begitu indah ini? Kenapa begitu indah? Yah, tentu semua sepakat bahwa
disetiap hari-hari yang kita lalui ini terdapat berbagai nikmat yang
besar dan tak terhingga jumlahnya, yang tak pernah dapat terhitung
dengan teori Matematika, tak dapat dibayangkan dalam benak manusia dan
tak cukup dituliskan andai air di lautan sebagai tintanya dan dedaunan sebagai kertasnya. Sungguh luar biasa bukan?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah sahabat ditanya tentang pelajaran sekolah oleh seorang anak SD? Bisa jadi pernah bahkan sering. Bagi seorang guru mungkin ini bukanlah menjadi soal, tapi ini pertanyaan saya tujukan bagi sahabat yang tidak berprofesi sebagai guru atau tentor dan sejenisnya. Lalu, pernahkah sahabat ditanya tentang pelajaran sekolah yang sulit yang sahabat tidak bisa menjawabnya? Kira-kira apa yang akan sahabat katakan?
a. Maaf dik, kakak udah lupa. Hehe (sambil nyengir)
b. Waduh, apa ya? Coba tanya gurumu disekolah!
c. Kakak ilmunya udah tingkat tinggi, jadi yang seperti itu udah lupa.
d. Wah, pas pelajaran itu dulu kakak gak berangkat, jadinya gak tahu deh.
Haaduuuhhhh… yah, barangkali jawaban-jawaban seperti itu yang akan muncul dari benak kita. Sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin baru saat ini, diusia kita yang bukan lagi kita sebagai pelajar, yang menuntut ilmu di bangku sekolah, kita sadari bahwa ilmu yang kita dapatkan disekolah bukanlah sekedar ilmu untuk kita meraih nilai yang baik di raport sekolah kita. Mungkin dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik dari adik-adik atau anak-anak kita tentang Rumus Luas Lingkaran, atau teori pitagoras, atau hukum Newton dan lain sebagainya yang menyadarkan kita bahwa usaha keras sekolah kita hanya untuk selembar Ijazah yang masih kita simpan rapi dalam sebuah Map plastik yang kita harapkan dapat menjaga Ijazah itu dari serangan kutu kertas (renget-Jawa) yang dapat menghancurkannya.
Lalu, dimanakah proses itu saat ini? Adakah tak tersisa sedikitpun? Bagaimana kita bisa bercerita pada anak kita bahwa kita pernah menjadi juara lomba Matematika tingkat Provinsi sedangkan rumus luas segi tiga saja kita lupa? Yah, itulah salah satu potret pendidikan yang ada di lingkungan kita ini sahabat, yang mengedepankan hasil akhir dan melupakan proses yang sejatinya proses itulah yang akan terekam kuat dalam ingatan jika dijalankan dengan cara yang benar, bukan sekedar cara-cara instan.
Nah, pertanyaannya, adakah diantara kita yang saat ini menjadi orang tua yang juga melakukan hal yang sama? Maksudnya, kita menuntut anak kita mempunyai nilai yang bagus tanpa kita memikirkan apakah anak kita paham betul atau tidak tentang pelajaran yang didapatkannya. Mungkin kita sering mengatakan “Pokoknya kamu harus gini… Pokoknya kamu harus gitu…” dan lain sebagainya tapi kita tidak memfasilitasi si anak untuk dia memahami pelajaran-pelajaran sekolahnya. Akhirnya, cara-cara instanlah yang muncul seperti mencontek dan teman-temannya.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin kita sudah terlanjur melewatkan masa-masa proses yang kita bahas diatas. Tapi, kita masih punya kesempatan yang lain, yaitu tentunya mengajarkan pada anak-anak kita agar mereka bisa menikmati dan memahami proses belajar mereka, sehingga bukan hanya sekedar nilai yang ia dapatkan, melainkan kefahaman.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah sahabat ditanya tentang pelajaran sekolah oleh seorang anak SD? Bisa jadi pernah bahkan sering. Bagi seorang guru mungkin ini bukanlah menjadi soal, tapi ini pertanyaan saya tujukan bagi sahabat yang tidak berprofesi sebagai guru atau tentor dan sejenisnya. Lalu, pernahkah sahabat ditanya tentang pelajaran sekolah yang sulit yang sahabat tidak bisa menjawabnya? Kira-kira apa yang akan sahabat katakan?
a. Maaf dik, kakak udah lupa. Hehe (sambil nyengir)
b. Waduh, apa ya? Coba tanya gurumu disekolah!
c. Kakak ilmunya udah tingkat tinggi, jadi yang seperti itu udah lupa.
d. Wah, pas pelajaran itu dulu kakak gak berangkat, jadinya gak tahu deh.
Haaduuuhhhh… yah, barangkali jawaban-jawaban seperti itu yang akan muncul dari benak kita. Sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin baru saat ini, diusia kita yang bukan lagi kita sebagai pelajar, yang menuntut ilmu di bangku sekolah, kita sadari bahwa ilmu yang kita dapatkan disekolah bukanlah sekedar ilmu untuk kita meraih nilai yang baik di raport sekolah kita. Mungkin dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik dari adik-adik atau anak-anak kita tentang Rumus Luas Lingkaran, atau teori pitagoras, atau hukum Newton dan lain sebagainya yang menyadarkan kita bahwa usaha keras sekolah kita hanya untuk selembar Ijazah yang masih kita simpan rapi dalam sebuah Map plastik yang kita harapkan dapat menjaga Ijazah itu dari serangan kutu kertas (renget-Jawa) yang dapat menghancurkannya.
Lalu, dimanakah proses itu saat ini? Adakah tak tersisa sedikitpun? Bagaimana kita bisa bercerita pada anak kita bahwa kita pernah menjadi juara lomba Matematika tingkat Provinsi sedangkan rumus luas segi tiga saja kita lupa? Yah, itulah salah satu potret pendidikan yang ada di lingkungan kita ini sahabat, yang mengedepankan hasil akhir dan melupakan proses yang sejatinya proses itulah yang akan terekam kuat dalam ingatan jika dijalankan dengan cara yang benar, bukan sekedar cara-cara instan.
Nah, pertanyaannya, adakah diantara kita yang saat ini menjadi orang tua yang juga melakukan hal yang sama? Maksudnya, kita menuntut anak kita mempunyai nilai yang bagus tanpa kita memikirkan apakah anak kita paham betul atau tidak tentang pelajaran yang didapatkannya. Mungkin kita sering mengatakan “Pokoknya kamu harus gini… Pokoknya kamu harus gitu…” dan lain sebagainya tapi kita tidak memfasilitasi si anak untuk dia memahami pelajaran-pelajaran sekolahnya. Akhirnya, cara-cara instanlah yang muncul seperti mencontek dan teman-temannya.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin kita sudah terlanjur melewatkan masa-masa proses yang kita bahas diatas. Tapi, kita masih punya kesempatan yang lain, yaitu tentunya mengajarkan pada anak-anak kita agar mereka bisa menikmati dan memahami proses belajar mereka, sehingga bukan hanya sekedar nilai yang ia dapatkan, melainkan kefahaman.
Saya : 100% Kak Wall
Jangan Membandingkan Kemampuan Anak
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat hari ini? Semoga selalu sehat dan ceria. Aamiin...
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah sahabat membanding-bandingkan anak kita dengan anak orang lain? Entah di depan anak kita secara langsung maupun dibelakang anak kita? Disadari atau tidak, terkadang kita menganggap bahwa anak kita tidak sehebat anak orang lain disekitar kita. Daaaannnn, tak jarang kita memaksakan anak kita untuk menjadi seperti anak orang lain.
Sebenarnya tidak selalu salah ketika kita menginginkan anak kita hebat seperti anak orang lain, hanya saja terkadang keinginan kita salah dan lebih menjurus kepada hal-hal yang kurang baik. Sebagai contoh, sekarang ini sedang marak-maraknya acara televisi yang berbau Joged-Joged dan sejenisnya, ada goyang Cesar, Goyang oplosan dll. Nah, ketika kita melihat anak orang lain bisa menirukan goyang-goyang itu kita begitu bangga dan mengatakan “Waaahhh hebat ya?” tak jarang kita jadi menginginkan anak kita yang mungkin baru berusia balita untuk bisa seperti itu. Al hasil, setiap hari kita tontonkanlah anak kita pada tayangan yang dianggap menghibur itu agar anak kita bisa ikut-ikutan jogged seperti di TV itu.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, bukan bermaksud menghujat acara televisi, tapi coba kita bandingkan, kira-kira lebih baik mana anatara anak orang lain yang berusia 5 tahun yang bisa menirukan goyang oplosan dan sejenisnya yang ada di televisi, dengaaaannnn anak kita yang usianya sama dan kita sudah mampu untuk mendidiknya sehingga hafal Juz ‘Amma? Kira-kira masihkah kita menganggap anak orang lain yang bisa goyang-goyang itu lebih hebat dengan anak kita yang Insya’ Allah bisa memberikan mahkota dari permata kelak di Akhirat? Hemmm
INGAT!!! Membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain, apalagi didepannya langsung ketika ia telah bisa berpikir dan dewasa, bisa menimbulkan sakit hati pada si anak. Kalopun kita menganggap anak kita belum bisa berprestasi yang baik, bukan tepat dengan membanding-bandingkan, melainkan kita motivasi dan kita upayakan untuknya agar mampu berprestasi yang terbaik.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah sahabat membanding-bandingkan anak kita dengan anak orang lain? Entah di depan anak kita secara langsung maupun dibelakang anak kita? Disadari atau tidak, terkadang kita menganggap bahwa anak kita tidak sehebat anak orang lain disekitar kita. Daaaannnn, tak jarang kita memaksakan anak kita untuk menjadi seperti anak orang lain.
Sebenarnya tidak selalu salah ketika kita menginginkan anak kita hebat seperti anak orang lain, hanya saja terkadang keinginan kita salah dan lebih menjurus kepada hal-hal yang kurang baik. Sebagai contoh, sekarang ini sedang marak-maraknya acara televisi yang berbau Joged-Joged dan sejenisnya, ada goyang Cesar, Goyang oplosan dll. Nah, ketika kita melihat anak orang lain bisa menirukan goyang-goyang itu kita begitu bangga dan mengatakan “Waaahhh hebat ya?” tak jarang kita jadi menginginkan anak kita yang mungkin baru berusia balita untuk bisa seperti itu. Al hasil, setiap hari kita tontonkanlah anak kita pada tayangan yang dianggap menghibur itu agar anak kita bisa ikut-ikutan jogged seperti di TV itu.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, bukan bermaksud menghujat acara televisi, tapi coba kita bandingkan, kira-kira lebih baik mana anatara anak orang lain yang berusia 5 tahun yang bisa menirukan goyang oplosan dan sejenisnya yang ada di televisi, dengaaaannnn anak kita yang usianya sama dan kita sudah mampu untuk mendidiknya sehingga hafal Juz ‘Amma? Kira-kira masihkah kita menganggap anak orang lain yang bisa goyang-goyang itu lebih hebat dengan anak kita yang Insya’ Allah bisa memberikan mahkota dari permata kelak di Akhirat? Hemmm
INGAT!!! Membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain, apalagi didepannya langsung ketika ia telah bisa berpikir dan dewasa, bisa menimbulkan sakit hati pada si anak. Kalopun kita menganggap anak kita belum bisa berprestasi yang baik, bukan tepat dengan membanding-bandingkan, melainkan kita motivasi dan kita upayakan untuknya agar mampu berprestasi yang terbaik.
Saya : 100% Kak Wall
Kenali Potensi Anak Sejak Dini
Assalamu’alaikum,
sahabat pembaca yang baik hatinya, menuangkan unek-unek yang ada dalam
benak sembari diiring suasana yang begitu syahdu bersamaan dengan
guyuran air hujan yang tak kunjung reda sedari tadi, mengingatkan saya
pada sebuah kisah ketika saya mengikuti sebuah pelatihan di Kota Gudeg
bebrapa waktu yang lalu. Ketika itu, seorang trainer yang menjadi
pemateri acara itu, memaparkan tentang bagaimana cara agar peserta bisa
melejitkan karirnya.
Salah satu cara atau tips yang diberikan adalah dengan mengoptimalkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Trainer itu memberikan waktu sekitar 5 menit untuk peserta memikirkan apa kelbihan-kelebihan yang menonjol dalam dirinya yang bisa menunjang karirnya. Sampai-sampai semua peserta diinstruksikan untuk menghubungi orang-orang terdekat untuk menanyakan hal-hal yang menonjol atau kelebihan-kelebihan yang dimiliki peserta jika belum bisa menemukan sendiri. Karena (kata Trainer itu) terkadang orang-orang terdekatlah yang lebih tau tentang diri kita daripada diri kita sendiri. Kemudian Trainer itu menceritakan pengalamannya tentang sebuah kelebihan yang ia miliki dan istrinyalah yang memberitahukan kelebihan itu.
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita lihat disekitar kita, atau bahkan kita sendiri barangkali, betapa banyak orang tua yang tidak mampu mengenali potensi kelebihan yang dimiliki anak-anaknya, atau, kalaupun mampu, mereka tidak mau mengungkapkan dan menjadikan itu sebagai pemacu anaknya untuk berprestasi dan cenderung membiarkannya. Dan yang lebih parah, orang tua yang memahami kelebihan sang anak tetapi tetap memaksakan sang anak untuk mengikuti kemauan orang tuanya.
Sahabat sekalian, berangkat dari cerita saya diatas, ketika kita menjadi orang tua untuk anak-anak kita, sudah selayaknyalah bagi kita untuk mengetahui apa sih kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak-anak kita. Nah, dengan begitu lebih mudah untuk kita membantu anak-anak kita dalam mengoptimalkan kemampuan yang mereka miliki untuk mendukung prestasinya, baik prestasi akademis maupun non akademis.
Sebagai contoh, anak kita suka bercerita dan menceritakan apa saja yang dia lihat atau dia alami, dengan sedikit polesan, bisa kita arahkan anak kita menjadi seorang pencerita atau pendongeng dan sebagainya. Lagi, anak kita punya suka dengan hal-hal yang bersifat penelitian-penelitian, kita bisa mengajaknya untuk bermain eksperimen-eksperimen kecil misalnya membuat rangkaian lampu dengan batu baterai yang kabelnya dihubungkan melalui buah apel dan lampunya menyala. Atau bagaimana membuat magnet dari sebuah penggaris mika yang digosok-gosokkan pada rambut kering atau bahan lain yang bisa menarik potongan-potongan kertas kecil. Dan eksperimen-eksperimen kecil lainnya yang tujuannya kembali lagi untuk mendukung bagaimana ia bisa berprestasi, kalau dalam hal ini dalam pelajaran IPA. Dan saya rasa masih banyak contoh yang lainnya.
Nah, shabat pembaca yang baik hatinya, orang tua adalah sosok yang seharusnya menjadi orang terdekat untuk anak-anaknya, yang paling tau tentang kelebihan apa yang anak-anaknya miliki, bukan hanya dari guru sekolah anaknya ia tahu apalagi dari orang yang merasa titipi anaknya sehari-hari.
Saya : 100% Kak Wall
Salah satu cara atau tips yang diberikan adalah dengan mengoptimalkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Trainer itu memberikan waktu sekitar 5 menit untuk peserta memikirkan apa kelbihan-kelebihan yang menonjol dalam dirinya yang bisa menunjang karirnya. Sampai-sampai semua peserta diinstruksikan untuk menghubungi orang-orang terdekat untuk menanyakan hal-hal yang menonjol atau kelebihan-kelebihan yang dimiliki peserta jika belum bisa menemukan sendiri. Karena (kata Trainer itu) terkadang orang-orang terdekatlah yang lebih tau tentang diri kita daripada diri kita sendiri. Kemudian Trainer itu menceritakan pengalamannya tentang sebuah kelebihan yang ia miliki dan istrinyalah yang memberitahukan kelebihan itu.
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita lihat disekitar kita, atau bahkan kita sendiri barangkali, betapa banyak orang tua yang tidak mampu mengenali potensi kelebihan yang dimiliki anak-anaknya, atau, kalaupun mampu, mereka tidak mau mengungkapkan dan menjadikan itu sebagai pemacu anaknya untuk berprestasi dan cenderung membiarkannya. Dan yang lebih parah, orang tua yang memahami kelebihan sang anak tetapi tetap memaksakan sang anak untuk mengikuti kemauan orang tuanya.
Sahabat sekalian, berangkat dari cerita saya diatas, ketika kita menjadi orang tua untuk anak-anak kita, sudah selayaknyalah bagi kita untuk mengetahui apa sih kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak-anak kita. Nah, dengan begitu lebih mudah untuk kita membantu anak-anak kita dalam mengoptimalkan kemampuan yang mereka miliki untuk mendukung prestasinya, baik prestasi akademis maupun non akademis.
Sebagai contoh, anak kita suka bercerita dan menceritakan apa saja yang dia lihat atau dia alami, dengan sedikit polesan, bisa kita arahkan anak kita menjadi seorang pencerita atau pendongeng dan sebagainya. Lagi, anak kita punya suka dengan hal-hal yang bersifat penelitian-penelitian, kita bisa mengajaknya untuk bermain eksperimen-eksperimen kecil misalnya membuat rangkaian lampu dengan batu baterai yang kabelnya dihubungkan melalui buah apel dan lampunya menyala. Atau bagaimana membuat magnet dari sebuah penggaris mika yang digosok-gosokkan pada rambut kering atau bahan lain yang bisa menarik potongan-potongan kertas kecil. Dan eksperimen-eksperimen kecil lainnya yang tujuannya kembali lagi untuk mendukung bagaimana ia bisa berprestasi, kalau dalam hal ini dalam pelajaran IPA. Dan saya rasa masih banyak contoh yang lainnya.
Nah, shabat pembaca yang baik hatinya, orang tua adalah sosok yang seharusnya menjadi orang terdekat untuk anak-anaknya, yang paling tau tentang kelebihan apa yang anak-anaknya miliki, bukan hanya dari guru sekolah anaknya ia tahu apalagi dari orang yang merasa titipi anaknya sehari-hari.
Saya : 100% Kak Wall
Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat hari ini?
Ternyata waktu begitu cepat berlalu ya? Sudah kita tinggalkan tahun 2013
dan kini kita memulai dan mengawali upaya kita untuk mengoptimalkan
potensi yang telah Allah anugerahkan untuk kita di tahun 2014 ini. Baru
tadi pagi saya mencoba membuka file-file kegiatan tahun lalu,
kegiatan-kegiatan yang saya rasa baru
berjalan beberapa saat yang lalu, ternyata sudah setahun yang lalu saya
kerjakan. Dan yang tah bisa dihindarkan tentunya semakin tua ya? Hehehe
Eit’s, jadi kita sudah semakin tua, tapi sudah dewasakah kita?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang kenakalan anak. Ada sebuah hal yang cukup menarik yang saya temukan disana. Dalam tulisan itu dibahas tentang berbagai macam problematika kenakalan anak, dari mulai membangkang, malas, suka berbohong dan lain sebagainya. Dalam tulisan itu juga disebutkan berbagai macam penyebab kenapa si anak menjadi bermasalah seperti contoh-contoh permasalahan di atas. Nah, yang cukup menarik, dari berbagai macam penyebab yang ada, ada penyebab yang melibatkan satu unsure yang sama dari setiap permasalahan, yaitu unsur dari orang tua. Sebagai contoh akan saya sebutkan setiap permasalahan dan salah satu penyebabnya, sebagai berikut :
1. Anak Memberontak, penyebabnya orang tua over protektif, tidak adil dan menuntut berlebihan.
2. Anak Berbohong, penyebabnya meniru orang tua dan orang tua tak kenal kompromi.
3. Anak Malas, penyebabnya orang tua terlalu memanjakan.
4. Anak Membangkang, penyebabnya orang tua otoriter dan tidak memahami kecenderungan anak.
5. Anak Kecanduan Nge-Game, penyebabnya orang tua terlalu cuek terhadap anak.
6. Anak Suka Merokok, penyebabnya kurang perhatian orang tua.
7. Dll
Sahabat pembaca yang baik hatinya, kurang lebih seperti itu disebutkan dalam tulisan tersebut salah satu penyebab kenakalan anak. So, sahabat pembaca sekalian sudah dapat kita simpulkan bukan bagaimana besarnya pengaruh dari sikap yang kita berikan untuk anak-anaki kita? Nah, tinggal bagaimana kita menghindarkan sikap-sikap negative seperti yang tertulis di atas agaaarrrr anak-anak kita terhindar dari perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap negative seperti yang dicontohkan di atas. Semoga bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang kenakalan anak. Ada sebuah hal yang cukup menarik yang saya temukan disana. Dalam tulisan itu dibahas tentang berbagai macam problematika kenakalan anak, dari mulai membangkang, malas, suka berbohong dan lain sebagainya. Dalam tulisan itu juga disebutkan berbagai macam penyebab kenapa si anak menjadi bermasalah seperti contoh-contoh permasalahan di atas. Nah, yang cukup menarik, dari berbagai macam penyebab yang ada, ada penyebab yang melibatkan satu unsure yang sama dari setiap permasalahan, yaitu unsur dari orang tua. Sebagai contoh akan saya sebutkan setiap permasalahan dan salah satu penyebabnya, sebagai berikut :
1. Anak Memberontak, penyebabnya orang tua over protektif, tidak adil dan menuntut berlebihan.
2. Anak Berbohong, penyebabnya meniru orang tua dan orang tua tak kenal kompromi.
3. Anak Malas, penyebabnya orang tua terlalu memanjakan.
4. Anak Membangkang, penyebabnya orang tua otoriter dan tidak memahami kecenderungan anak.
5. Anak Kecanduan Nge-Game, penyebabnya orang tua terlalu cuek terhadap anak.
6. Anak Suka Merokok, penyebabnya kurang perhatian orang tua.
7. Dll
Sahabat pembaca yang baik hatinya, kurang lebih seperti itu disebutkan dalam tulisan tersebut salah satu penyebab kenakalan anak. So, sahabat pembaca sekalian sudah dapat kita simpulkan bukan bagaimana besarnya pengaruh dari sikap yang kita berikan untuk anak-anaki kita? Nah, tinggal bagaimana kita menghindarkan sikap-sikap negative seperti yang tertulis di atas agaaarrrr anak-anak kita terhindar dari perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap negative seperti yang dicontohkan di atas. Semoga bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall
Pengaruh Suasana Belajar bagi Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Beberapa hari yang lalu saya
berkunjung ke tempat saudara untuk sebuah keperluan. Setelah saya
selesai menyampaikan maksud dan tujuan utama saya, kami berbincang
tentang hal yang lain. Salah satunya kami berbincang tentang sekolah
sepupu saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar yang berada lumayan
jauh dari pusat kota tempat saudara saya tinggal.
Saudara saya ini ingin anak-anaknya maju didalam urusan agama atau pengetahuan agamanya, makanya disekolahkanlah sepupu saya itu di sekolah yang berbackground Islam. Salah satu alasan kenapa dipilihkan sekolah yang letaknya didaerah yang jauh dari kota adalah kebiasaan sepupu saya itu. Nah, kurang lebih seperti ini kata-kata saudara saya tentang anaknya itu “Jadi to mas si Mufli (Nama sepupu saya) ini, dulu pas masih TK sering diajak bapaknya pergi kemana-mana. Nah, ada perbedaan ketika dia diajak pergi ke daerah kota sama ke daerah yang melewati sawah-sawah misalnya pas mau ke tempat embahnya. Kalau dia itu diajak pergi ke daerah kota-kota gitu, pas di jalan dia Cuma diam aja, paling liat kiri kanan, kalau gak ya tidur. Tapi kalau lewatnya di daerah yang alam gitu, misalnya sawah, lihat sungai-sungai gitu atau yang lainnya dia jadi berubah, jadi aktif ngomong. Tahu gak mas apa yang diucapkannya? Dia kalau pas dijalan gitu bisa nerocos hafalin surat-surat pendek yang diajarin di sekolah mas. Makanya SDnya tak pilihkan sana (edit) dan Alhamdulillah kebiasaanya itu masih berlanjut sampai sekarang.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, saya terinspirasi dari cerita saudara saya itu, ternyata suasana belajar yang didapatkan anak itu sangat berpengaruh pada semangat dan juga kemauan anak untuk belajar. Dan menurut saya saudara saya itu cukup tanggap dengan suasana belajar yang dibutuhkan si anak yang disimpulkannya sendiri bahwa si anak ini lebih cocok belajar dengan suasana seperti di sekolanya saat ini yang cukup tenang dan suguhan yang ada disekitar sekolanya pun juga sangat menyegarkan mata dan jauh dari kebisingan suasana kota.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, alangkah bahagianya anak-anak kita ketika ia mendapatkan suasana belajar seperti yang ia butuhkan, bukan hanya bahagia tetapi juga semangatnyapun tentu akan lebih besar. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari, kita pelajari dan kita amati kebutuhan suasana belajar untuk anak-anak kita dan semaksimal mungkin kita berikan suasana itu, tentunya yang masih dalam batas kewajaran dan itu baik lho yaaa?
Saya : 100% Kak Wall
Saudara saya ini ingin anak-anaknya maju didalam urusan agama atau pengetahuan agamanya, makanya disekolahkanlah sepupu saya itu di sekolah yang berbackground Islam. Salah satu alasan kenapa dipilihkan sekolah yang letaknya didaerah yang jauh dari kota adalah kebiasaan sepupu saya itu. Nah, kurang lebih seperti ini kata-kata saudara saya tentang anaknya itu “Jadi to mas si Mufli (Nama sepupu saya) ini, dulu pas masih TK sering diajak bapaknya pergi kemana-mana. Nah, ada perbedaan ketika dia diajak pergi ke daerah kota sama ke daerah yang melewati sawah-sawah misalnya pas mau ke tempat embahnya. Kalau dia itu diajak pergi ke daerah kota-kota gitu, pas di jalan dia Cuma diam aja, paling liat kiri kanan, kalau gak ya tidur. Tapi kalau lewatnya di daerah yang alam gitu, misalnya sawah, lihat sungai-sungai gitu atau yang lainnya dia jadi berubah, jadi aktif ngomong. Tahu gak mas apa yang diucapkannya? Dia kalau pas dijalan gitu bisa nerocos hafalin surat-surat pendek yang diajarin di sekolah mas. Makanya SDnya tak pilihkan sana (edit) dan Alhamdulillah kebiasaanya itu masih berlanjut sampai sekarang.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, saya terinspirasi dari cerita saudara saya itu, ternyata suasana belajar yang didapatkan anak itu sangat berpengaruh pada semangat dan juga kemauan anak untuk belajar. Dan menurut saya saudara saya itu cukup tanggap dengan suasana belajar yang dibutuhkan si anak yang disimpulkannya sendiri bahwa si anak ini lebih cocok belajar dengan suasana seperti di sekolanya saat ini yang cukup tenang dan suguhan yang ada disekitar sekolanya pun juga sangat menyegarkan mata dan jauh dari kebisingan suasana kota.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, alangkah bahagianya anak-anak kita ketika ia mendapatkan suasana belajar seperti yang ia butuhkan, bukan hanya bahagia tetapi juga semangatnyapun tentu akan lebih besar. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari, kita pelajari dan kita amati kebutuhan suasana belajar untuk anak-anak kita dan semaksimal mungkin kita berikan suasana itu, tentunya yang masih dalam batas kewajaran dan itu baik lho yaaa?
Saya : 100% Kak Wall
Bijaksana dalam Mengisi Liburan Sekolah
Libur tlah tiba…
Libur tlah tiba…
Hore…hore…
Hatiku gembira…
(by : Tasya)
Libur tlah tiba…
Hore…hore…
Hatiku gembira…
(by : Tasya)
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya. Bagaimana kabar hari ini? Sehat? Alhamdulillah…
Sahabat pembaca yang baik hatinya, taukah lirik lagu anak-anak di atas? Yupz, lagu yang sempat dipopulerkan oleh Tasya penyanyi cilik pada jamannya itu, yang bercerita tentang liburan sekolah.
Yah, mungkin tidak jauh berbeda dengan kondisi sebentar lagi, yaitu akan datangnya liburan semester pertama bagi anak-anak sekolah. Barangkali sudah menjadi fitrah bagi anak-anak sekolah yang akan selalu menyambut dengan sangat gembira dan antusias momen-momen liburan itu. Ada yang ingin berkunjung ke rumah kakek-nenek, ada yang ingin wisata, ada yang ingin santai di rumah dan berbagai macam kegiatan lainnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, setiap orang tua pasti mengharapkan yang dilakukan putra-putrinya adalah kegiatan yang bermanfaat. Tapi, pada kenyataanya tidak sedikit anak-anak yang melewatkan hari-hari liburannya dengan hal-hal yang kurang baik bagi perkembangan anak. Sebagai contoh, anak-anak hanya menghabiskan masa liburan merekan dengan hanya bermalas-malasan dirumah, sambil melihat Televisi, atau bermain Game Online setiap saat. Akibatnya, ketika liburan telah usai, si anak masih ingin menikmati hal yang sama disaat liburan mereka telah berakhir, masih ingin bermalas-malasan, santai dirumah dan bermain game sepuasnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata banyak penyebab kenapa anak-anak menjadi seperti itu, salah satunya orang tua yang membiarkan anak-anak mereka menikmati liburannya sendiri karena kesibukan masing-masing dari orang tua tersebut, tanpa memberikan kegiatan yang positif bagi anak-anaknya.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, liburan bisa berdampak menjadi beberapa hal yang bisa saya simpulkan disini.
Pertama, liburan menjadi obat. Maksudnya, ketika liburan dimanfaatkan atau diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan penyegaran kembali untuk anak-anak. Semisal dengan mengajak anak rihlah atau piknik ke tempat-tempat wisata, atau berkunjung silaturrahim ke tempat sanak saudara atau kerabat yang berada jauh tempat tinggalnya.
Kedua, liburan bisa menjadi racun. Apa itu? Yupz, sudah digambarkan diatas, ketika seorang anak mengisi liburan mereka hanya dengan bermalas-malasan didepan televisi atau menghabiskan waktu dengan menatap layar monitor computer untuk bermain game online dan sebagainya, itulah liburan yang menjadi racun.
Ketiga, liburan menjadi makanan. Nah, yang ini berbeda dari yang diatas tadi. Trus apa? Yups, yang ini kurang lebih seperti ini. Liburan bisa menjadi makanan ketika dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan yang positif, misalnya, dengan mengikuti jambore, atau ikut kursus music atau belajar melukis, atau ikut training jurnalistik, atau kursus fotografi dan masih banyak yang lainnya yang intinya kegiatan-kegiatan positif yang tidak atau jarang dijumpai disekolah. Tentunya yang memberikan manfaat dan juga pengalaman baru bagi anak-anak.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, itu tadi beberapa kurang lebih dampak-dampak yang bisa muncul dari kegiatan liburan anak-anak kita. Nah, sudah semestinyalah bagi setiap orang tua untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan apa saja yang boleh diikuti anak-anaknya, jangan sampai mereka melewati liburan tanpa perhatian dan pengawasa dari orang tua. Dan tentunya dengan harapan, kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak-anak kita bisa memberikan pengalaman baru untuk mereka dan memberikan semangat yang lebih besar ketika mereka kembali ke sekolah setelah liburan usai.
Saya : 100% Kak Wall



















