Tampilkan postingan dengan label Kisah Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Sahabat di Balik Layar
Assalamu'alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Siang ini saya berjumpa dengan salah
satu sahabat yang sudah beberapa saat lamanya tidak bertemu karena
aktivitas masing-masing. Bahkan niatan untuk bertandang yang sudah di
kepala pun belum sempat saya lakukan. Heemmmm... semoga kita terhindar
sifat manusia yang terkadang hanya akan datang disaat butuh dan pergi
saat sudah merasa cukup...
Sahabat pembaca yang baik hatinya, layaknya seorang sahabat yang lama tak bersua, kami pun berbincang renyah dan saling cerita satu sama lain. Sayangnya, waktu untuk kami berbincang pun tak cukup lama, karena aktivitas berikutnya yang harus kami kerjakan masing-masing.
Namun, ada sebuah bagian dalam obrolan kami yang membuat saya tercengang, kaget, terharu, merasa sangat diperhatikan dan perasaan-perasaan yang lain turut bercampur disana. Pasalnya, ditengah-tengah obrolan kami, ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan teman saya itu,
Sahabat :"Bro, aku copas tulisan-tulisan mu lho...mau tak masukin ke blog."
Saya :"Ya copas aja... emangnya mau dimasukkin blog mana?"
Sahabat :"Aku buat blog, trus tulisan yang kamu update tiap dua kali sepekan itu aku copas trus aku masukin, tapi belum dipublish, nunggu ijin darimu dulu."
Saya :"Halah, pake ijin segala. Bayar kalo gitu. hahahaha....trus?" (sekedar menaggapi dan saya berpikir itu untuk blog pribadinya.)
Sahabat :"Hahaha... Aku juga udah buatin emailnya juga, tinggal dipublis aja kalo kamu setuju, trus diupdate terus. Lumayan, itu nanti bisa buat porto polio kamu sendiri. Kamu kan selain ditempat kerja sekarang juga kadang nDongeng kan? Nanti bisa dibuat nama Kak Wall gitu. Jadi nanti photo-photomu bisa dimasukkin juga. trus, misal ada yang mau kenalan tinggal kamu kasih alamat blogmu itu..."
Saya :"&%^&^&????" (terdiam, bingung dan baru saya menyadari, ternyata sahabat saya mumbuatkan blog itu untuk saya). Begitu penggalan percakapan kami yang ingin saya sampaikan ke sahabat pembaca semuanya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, alangkah indahnya ukhuwah diantara kita dengan sahabat-sahabat kita jika yang kita lakukan bukan hanya ketika dekat dengan mereka. Melainkan, disaat jauh dan jarang bertemu pun kita masih sempat untuk memberikan apa yang dapat kita berikan untuk mereka. Mendo'akan, mungkin itu yang saat ini sering kita lakukan untuk sahabat-sahabat kita yang berbeda jauh dari hadapan kita. Yah, memang itu menjadi salah satu hal yang layaknya kita lakukan. Namun, Jika kita mampu untuk melakukan lebih dari itu, alangkah semakin beruntungnya orang-orang yang sempat mengenal diri kita. Karena "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk manusia yang lain..."
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, layaknya seorang sahabat yang lama tak bersua, kami pun berbincang renyah dan saling cerita satu sama lain. Sayangnya, waktu untuk kami berbincang pun tak cukup lama, karena aktivitas berikutnya yang harus kami kerjakan masing-masing.
Namun, ada sebuah bagian dalam obrolan kami yang membuat saya tercengang, kaget, terharu, merasa sangat diperhatikan dan perasaan-perasaan yang lain turut bercampur disana. Pasalnya, ditengah-tengah obrolan kami, ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan teman saya itu,
Sahabat :"Bro, aku copas tulisan-tulisan mu lho...mau tak masukin ke blog."
Saya :"Ya copas aja... emangnya mau dimasukkin blog mana?"
Sahabat :"Aku buat blog, trus tulisan yang kamu update tiap dua kali sepekan itu aku copas trus aku masukin, tapi belum dipublish, nunggu ijin darimu dulu."
Saya :"Halah, pake ijin segala. Bayar kalo gitu. hahahaha....trus?" (sekedar menaggapi dan saya berpikir itu untuk blog pribadinya.)
Sahabat :"Hahaha... Aku juga udah buatin emailnya juga, tinggal dipublis aja kalo kamu setuju, trus diupdate terus. Lumayan, itu nanti bisa buat porto polio kamu sendiri. Kamu kan selain ditempat kerja sekarang juga kadang nDongeng kan? Nanti bisa dibuat nama Kak Wall gitu. Jadi nanti photo-photomu bisa dimasukkin juga. trus, misal ada yang mau kenalan tinggal kamu kasih alamat blogmu itu..."
Saya :"&%^&^&????" (terdiam, bingung dan baru saya menyadari, ternyata sahabat saya mumbuatkan blog itu untuk saya). Begitu penggalan percakapan kami yang ingin saya sampaikan ke sahabat pembaca semuanya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, alangkah indahnya ukhuwah diantara kita dengan sahabat-sahabat kita jika yang kita lakukan bukan hanya ketika dekat dengan mereka. Melainkan, disaat jauh dan jarang bertemu pun kita masih sempat untuk memberikan apa yang dapat kita berikan untuk mereka. Mendo'akan, mungkin itu yang saat ini sering kita lakukan untuk sahabat-sahabat kita yang berbeda jauh dari hadapan kita. Yah, memang itu menjadi salah satu hal yang layaknya kita lakukan. Namun, Jika kita mampu untuk melakukan lebih dari itu, alangkah semakin beruntungnya orang-orang yang sempat mengenal diri kita. Karena "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk manusia yang lain..."
Saya : 100% Kak Wall
The Hot is Not Public
Assalamu'alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, seperti biasanya dalam keseharian
saya, mulai dari pagi sampai siang bahkan terkadang sore lebih sering
saya habiskan di jalanan dan berkeliling untuk silaturrahim ke berbagai
tempat. Bertemu dengan saudara baru maupun untuk kembali menyapa rekan
yang sudah sering ketemu atau pun yang lama tak bersua.Yah, itulah
pekerjaan yang saya cintai sampai saat ini.
Akhir-akhir ini saya rasakan udara diluar yang cukup tinggi suhunya dan ditambah terik yang kadang menyengat. Sauasana seperti itu bagi orang yang berada di lapangan (kerja luar rumah/kantor) sering menghadirkan rasa lelah yang sangat, mengantuk dan terkadang sampai mengeluh. Apa yang dikeluhkan? Yupz, seperti judul di atas, The Hot Is Not Public. Itu adalah bahasa Inggris salah paham, meskipun salah, banyak yang paham. Plesetan maksudnya. Hehehe Dari bahasa jawa "Panase ra umum" alias panas banget.
Begitupun saya, dalam kondisi panas yang menyengat dan membuat kulit saya yang tadinya hitam menjadi gelap, terkadang saya harus menyempatkan diri untuk terkapar di serambi masjid sejenak untuk mengembalikan tenaga.
Siang ini, seperti biasa, jalanan kota hingga pelosok saya lewati. menembus ramainya lalu lintas kota hingga membelah bukit menuju sebuah tempat yang berada tepat di lerang Pegunungan selatan. Sekembali dari tujuan, dalam perjalanan, saya terhenti beberapa saat di sebuah perempatan kota, persimpangan jalan tanpa lampu lalu lintas mengharuskan bagi para penyeberang harus super sabar menunggu kendaraan dari arah yang lain melintas semua. Tapi sedikit berbeda siang ini di tempat itu. Seorang bapak-bapak paruh baya berdiri ditengah jalan lengkap dengan peluit membantu mengatur lalu lintas. Alhasil, menyeberang pun menjadi lebih cepat dan mudah, dengan bantuan bapak-bapak tadi. Siapakah beliau? awalnya, saya kira seorang petugas yang berwenang, ternyata, setelah saya perhatikan dengan seksama, jauh dari kata "Petugas" yang awalnya saya pikirkan. Dari penampilan, memang terlihat hanya orang biasa, hanya saja mengenakan Rompi layaknya seorang petugas. Lalu saya sebut sebagai Pahlawan Jalan Raya.
Pernah bertanya dalam benak saya "Siapa yang bayar ya?" Kemudian muncul dalam ingatan waktu yang telah lampau tentang obrolan saya dengan seorang teman. Teman saya ini tinggal di Kota Gudeg dan mengatakan "Kalau disini banyak orang-orang yang seperti itu, dan mereka tidak ada yang bayar secara tetap, hanya pengguna jalan yang merasa terbantu dan mengikhlaskan barang seribu atau dua ribu untuk mereka kumpulkan. Tentu saja hasilnya ndak pasti.Kadang juga ada yang memberikan sebatang rokok."
Sahabat pembaca yang baik hatinya, Luar biasa. Ada sebuah sikap yang mungkin bisa kita jadikan Ibrah (pelajaran), yaitu bagaimana orang-orang ini mengikhlaskan waktunya untuk membantu orang lain, berpanas-panasan di tengah jalan, tanpa tau orang-orang yang dibantu akan memperhatikan mereka ataupun tidak. Dan tentunya yakin bahwa Allah lah yang akan memberikan balasan dari kebaikan yang mereka lakukan, bisa jadi melalui tangan-tangan mereka yang melintas ataupun dari jalan yang lainnya.
Saya : 100% Kak Wall
Akhir-akhir ini saya rasakan udara diluar yang cukup tinggi suhunya dan ditambah terik yang kadang menyengat. Sauasana seperti itu bagi orang yang berada di lapangan (kerja luar rumah/kantor) sering menghadirkan rasa lelah yang sangat, mengantuk dan terkadang sampai mengeluh. Apa yang dikeluhkan? Yupz, seperti judul di atas, The Hot Is Not Public. Itu adalah bahasa Inggris salah paham, meskipun salah, banyak yang paham. Plesetan maksudnya. Hehehe Dari bahasa jawa "Panase ra umum" alias panas banget.
Begitupun saya, dalam kondisi panas yang menyengat dan membuat kulit saya yang tadinya hitam menjadi gelap, terkadang saya harus menyempatkan diri untuk terkapar di serambi masjid sejenak untuk mengembalikan tenaga.
Siang ini, seperti biasa, jalanan kota hingga pelosok saya lewati. menembus ramainya lalu lintas kota hingga membelah bukit menuju sebuah tempat yang berada tepat di lerang Pegunungan selatan. Sekembali dari tujuan, dalam perjalanan, saya terhenti beberapa saat di sebuah perempatan kota, persimpangan jalan tanpa lampu lalu lintas mengharuskan bagi para penyeberang harus super sabar menunggu kendaraan dari arah yang lain melintas semua. Tapi sedikit berbeda siang ini di tempat itu. Seorang bapak-bapak paruh baya berdiri ditengah jalan lengkap dengan peluit membantu mengatur lalu lintas. Alhasil, menyeberang pun menjadi lebih cepat dan mudah, dengan bantuan bapak-bapak tadi. Siapakah beliau? awalnya, saya kira seorang petugas yang berwenang, ternyata, setelah saya perhatikan dengan seksama, jauh dari kata "Petugas" yang awalnya saya pikirkan. Dari penampilan, memang terlihat hanya orang biasa, hanya saja mengenakan Rompi layaknya seorang petugas. Lalu saya sebut sebagai Pahlawan Jalan Raya.
Pernah bertanya dalam benak saya "Siapa yang bayar ya?" Kemudian muncul dalam ingatan waktu yang telah lampau tentang obrolan saya dengan seorang teman. Teman saya ini tinggal di Kota Gudeg dan mengatakan "Kalau disini banyak orang-orang yang seperti itu, dan mereka tidak ada yang bayar secara tetap, hanya pengguna jalan yang merasa terbantu dan mengikhlaskan barang seribu atau dua ribu untuk mereka kumpulkan. Tentu saja hasilnya ndak pasti.Kadang juga ada yang memberikan sebatang rokok."
Sahabat pembaca yang baik hatinya, Luar biasa. Ada sebuah sikap yang mungkin bisa kita jadikan Ibrah (pelajaran), yaitu bagaimana orang-orang ini mengikhlaskan waktunya untuk membantu orang lain, berpanas-panasan di tengah jalan, tanpa tau orang-orang yang dibantu akan memperhatikan mereka ataupun tidak. Dan tentunya yakin bahwa Allah lah yang akan memberikan balasan dari kebaikan yang mereka lakukan, bisa jadi melalui tangan-tangan mereka yang melintas ataupun dari jalan yang lainnya.
Saya : 100% Kak Wall
Tips Menyimpan Ide Brilian
Sedikit saya mulai dengan cerita sahabat. Akhir-akhir ini saya sering menyaksikan siaran Televisi yang menampilkan kompetisi menjadi Komik (Stand Up komedian) di salah satu stasiun televisi swasta. Bahkan kadang saya kuat-kuatkan untuk begadang sampai tengah malam hanya untuk melihat siap yang masih bertahan dan siapa yang harus Close Mic (Istilah untuk peserta yang tereliminasi). Tapi saya tidak akan bercerita tentang siapa jagoan saya ataupun siapa yang saat ini masih bertahan dalam kompetisi itu, tetapi saya hanya akan menyampaikan sedikit bagian dari tayangan itu.
Pada sebuah edisi dimana siaran itu tayang, saya teringat tentang sebuah komentar yang disampaikan oleh salah satu juri dalam kompetisi itu. Kurang lebih seperti ini "Materi yang baik itu terkadang muncul dari keresahan-keresahan yang kamu alami. Jadi ketika kamu mengalami sesuatu kejadian yang bisa kamu angkat jadi sebuah materi, maksimalkan itu. Kapanpun dan dimanapun, ketika bisa kamu tulis, kamu tulis itu jadi set up yang bisa kamu pertontonkan nantinya."
Sahabat pembaca yang baik hatinya, menarik menurut saya komentar yang disampaikan itu. Bahwa materi atau bahan dalam tampil diatas panggung pun bisa berawal dari keresahan atau kejadian atau apa yang kita pikirkan. Tapi ada satu kata kunci disana, Tulis. Menuliskan keresahan, kejadian, isi yang terlintas dalam benak dan sejenisnya, ketika kita menginginkan itu menjadi sebuah ide, mungkin hukumnya menjadi wajib. Kenapa? Yups, menuliskan ide meskipun hanya sebatas clue asalkan kita bisa mengerti maksud dari clue itu cukup untuk membantu kita mengembangkan saat kita sudah siap duduk tenang dan berkonsentrasi membuat sebauh karya. Baik itu karya yang berbentuk tulisan, contohnya syair, cerpen, lirik lagu atau novel. Juga yang berbentuk selain itu, misalkan ide kerajinan tangan atau ide memodifikasi kendaraan dan lain sebagainya. Menyimpan ide dalam ingatan seringkali mudah hilang karena lupa dan membuat kita harus bekerja keras mengingat kembali ketika kita membutuhkannya.
Lalu bagaimana ide itu bisa kita tulis? Bagi kita yang setiap aktivitas ditemani sebuah tas ransel ataupun tar kecil yang kita tenteng kemanapun kita pergi, mungkin kita bisa meneyelipkan sebuah Blok Note kecil yang bisa kita namai sesuka hati kita asalkan kita paham bahwa buku itu menyimpan ide-ide segar untuk kita kembangkan menjadi sebuah karya, misalnya Buku "Karya Masa Depan" atau Buku "1000 ide brilian" atau juga bisa dengan kita berikan gambar bola lampu yang menyala.
Tapi kan tidak semua orang ketika pergi bawa tas sama buku? Yupz, betul sekali. Tapi kita masih bisa kok menulisnya di HP misalkan. Atau minimal kita bisa memaksimalkan ingatan jangka pendek kita sampai kemudian kita mendapatkan media yang bisa kita pakai menuliskan ide itu.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, layak dicoba, menyimpan ide, karya ataupun ilmu dengan menulis. Karena menulis adalah salah satu cara yang cukup efektif untuk dapat membuat apa yang kita simpan itu bisa bertahan lebih lama. Selamat Mencoba...
Saya : 100% Kak Wall
Selalu Ada Karya
Assalamu'alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Bagaimana kabar sahabat hari ini?
Tetap sehat, Tetap semangat, Allahu Akbar...!!!
Ketika tulisan ini saya buat sahabat, entah kemana perginya suara saya yang sebagian dan hanya menyisakan sebagian yang lain sehingga terdengar "Serak-serak kemresek". Jadi mohon maaf jika tulisan ini nanti tidak bisa terdengar jelas.
Pikiran A : "Eh mas Bro, yang namanya tulisan itu buat dibaca, bukan didengar..."
Pikiran B : "Oiya-ya?"
(Begitulah kiranya perbincangan dalam benak saya)
Selain itu, rasa pusing di kepala dan sedikit meriang juga ikut mampir ke badan ini. Setelah saya kalkulasi gejala-gejala itu, maka saya simpulkan bahwa saya sedang kurang enak badan alias sakit. Nah, tidak berhenti disitu sahabat, sempat muncul rasa malas hanya untuk sekedar menyapa sahabat lewat tulisan seperti biasanya. Ya termasuk tulisan ini. Lantaran kadang merasa tidak bisa mengeluarkan ide disaat seperti ini.
Pikiran A :"He Mas Bro, kalo buat kerjaan yang memerlukan kekuatan
fisik mungkin layak kalo males, misalnya angkat sak semen atau nyangkul
di sawah, lha ini kan cuma nulis di depan komputer..."
Pikiran B :"Ya tapi kan ide jadi jarang muncul."
Pikiran A :"Itu yang membuat ide jarang muncul."
Pikiran B :"Maksudnya?"
Pikiran A :"Menutup diri, menutup pikiran. Bukankah semua yang kita lihat, yang kita dengar dan kita rasakan bisa jadi sebuah ide? Tidak harus yang berat kan?"
Pikiran B :"Oiya ya?"
Pikiran A :"Nah, coba lihat diluar sana, masih banyak orang yang secara fisik mungkin sakit, bahkan setiap harinya sakit. Tapi mereka tetap berkarya. Dengan penuh semangat, tak jarang karya yang mereka hasilkan itu sebuah karya yang besar."
Pikiran B :"Baik, kalau begitu aku akan semangat untuk membuat karya kecil sekedar untuk menyapa sahabat-sahabat pembaca di luar sana."
(Begitu dalam benak kembali bekecamuk memperdebatkan masalah fisik yang menghalangi semangat)
Sahabat pembaca yang baik hatinya, nikmat sakit boleh jadi datang sebagai ujian, atau cobaan, atau mungkin peringatan agar kita selalu bersyukur atas nikmat sehat yang kita terima. Bersabar adalah salah satu sikap yang harusnya kita lakukan jika nikmat itu datang. Mengeluh, menggerutu, berubah menjadi pemalas adalah sikap yang tak layak kita lakukan. Dan istirahat termasuk salah satu upaya yang bisa kita lakukan. Tapi, istirahatpun harus sesuai porsi sakit yang kita terima. Rasaya kurang pantas jika hanya terserang flu ringan kemudian tidur seharian tanpa melakukan aktivitas yang lain layaknya orang yang sedang koma. Dan, jika kita masih mampu berkarya dengan kondisi kita, kenapa tidak? Berkarya dalam arti luas, bisa untuk kita sendiri atau untuk orang lain. Misalnya, menulis seperti ini, atau menghafal Al Qur'an sambil istirahat atau pun yang lainnya yang tidak terlalu berat tapi bermanfaat. Selain untuk mengisi waktu istirahat dan mengalihkan rasa sakit dengan aktivitas ringan itu, tentu juga bisa sebagai wujud rasa syukur kita dengan kita menunjukkan meskipun didalam kondisi tertentu, kita tetap masih bisa menjadi insan yang bermanfaat, minimal untuk diri kita sendiri.
Saya : 100% Kak Wall
Ketika tulisan ini saya buat sahabat, entah kemana perginya suara saya yang sebagian dan hanya menyisakan sebagian yang lain sehingga terdengar "Serak-serak kemresek". Jadi mohon maaf jika tulisan ini nanti tidak bisa terdengar jelas.
Pikiran A : "Eh mas Bro, yang namanya tulisan itu buat dibaca, bukan didengar..."
Pikiran B : "Oiya-ya?"
(Begitulah kiranya perbincangan dalam benak saya)
Selain itu, rasa pusing di kepala dan sedikit meriang juga ikut mampir ke badan ini. Setelah saya kalkulasi gejala-gejala itu, maka saya simpulkan bahwa saya sedang kurang enak badan alias sakit. Nah, tidak berhenti disitu sahabat, sempat muncul rasa malas hanya untuk sekedar menyapa sahabat lewat tulisan seperti biasanya. Ya termasuk tulisan ini. Lantaran kadang merasa tidak bisa mengeluarkan ide disaat seperti ini.
Pikiran B :"Ya tapi kan ide jadi jarang muncul."
Pikiran A :"Itu yang membuat ide jarang muncul."
Pikiran B :"Maksudnya?"
Pikiran A :"Menutup diri, menutup pikiran. Bukankah semua yang kita lihat, yang kita dengar dan kita rasakan bisa jadi sebuah ide? Tidak harus yang berat kan?"
Pikiran B :"Oiya ya?"
Pikiran A :"Nah, coba lihat diluar sana, masih banyak orang yang secara fisik mungkin sakit, bahkan setiap harinya sakit. Tapi mereka tetap berkarya. Dengan penuh semangat, tak jarang karya yang mereka hasilkan itu sebuah karya yang besar."
Pikiran B :"Baik, kalau begitu aku akan semangat untuk membuat karya kecil sekedar untuk menyapa sahabat-sahabat pembaca di luar sana."
(Begitu dalam benak kembali bekecamuk memperdebatkan masalah fisik yang menghalangi semangat)
Sahabat pembaca yang baik hatinya, nikmat sakit boleh jadi datang sebagai ujian, atau cobaan, atau mungkin peringatan agar kita selalu bersyukur atas nikmat sehat yang kita terima. Bersabar adalah salah satu sikap yang harusnya kita lakukan jika nikmat itu datang. Mengeluh, menggerutu, berubah menjadi pemalas adalah sikap yang tak layak kita lakukan. Dan istirahat termasuk salah satu upaya yang bisa kita lakukan. Tapi, istirahatpun harus sesuai porsi sakit yang kita terima. Rasaya kurang pantas jika hanya terserang flu ringan kemudian tidur seharian tanpa melakukan aktivitas yang lain layaknya orang yang sedang koma. Dan, jika kita masih mampu berkarya dengan kondisi kita, kenapa tidak? Berkarya dalam arti luas, bisa untuk kita sendiri atau untuk orang lain. Misalnya, menulis seperti ini, atau menghafal Al Qur'an sambil istirahat atau pun yang lainnya yang tidak terlalu berat tapi bermanfaat. Selain untuk mengisi waktu istirahat dan mengalihkan rasa sakit dengan aktivitas ringan itu, tentu juga bisa sebagai wujud rasa syukur kita dengan kita menunjukkan meskipun didalam kondisi tertentu, kita tetap masih bisa menjadi insan yang bermanfaat, minimal untuk diri kita sendiri.
Saya : 100% Kak Wall
Kisah Sahabat
“… Bersama sabahat kita lalui semua cerita
melukis masa muda yang lebih bermakna,
Mencoba mencari arti sebuah cinta sejati
Mengukir kisah sbagai sahabat sejati…”
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya. Setiap kita tentunya memiliki kisah-kisah yang kita kenang ketika masih muda atau anak-anak dulu. Cerita dimana kita masih punya banyak waktu untuk bermain bersama-sama dengan teman-teman dan juga sahabat-sahabat kita tanpa terpikir masalah-masalah berarti dalam hidup kita. Masa dimana kadang kita bisa sangat dekat dengan teman-teman kita, namun tak jarang kita harus bertengkar “ala anak-anak” yang meskipun begitu keesokan harinya kita sudah lupa dan kembali bermain bersama. Masa dimana kita dididik oleh lingkungan untuk gemar bersosialisasi dengan lingkungan, peka dengan kondisi teman dan juga dididik untuk membuat sesuatu yang sangat sederhana menjadi sesuatu yang dapat mendatangkan kebahagiaan yang lebih. Emmm…itulah masa anak-anak.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, adakah sahabat pernah berkumpul kembali dengan teman-teman kecil sahabat? Pernakah disaat sahabat bertemu dengan mereka lalu dengan semangat saling bertutur tentang kejadian ataupun cerita-cerita masa SD dulu? Cerita yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal dengan mengingat keusilan masa kecil kita, samapai cerita yang kadang bisa menitikkan air mata karena keharuannya. Yupz, ibarat pelangi masa-masa itu. Begitu indah dengan warna-warni kisah-kisahnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, barangkali kisah-kisah itu sudah kita lalui sepuluh bahkan dua puluh tahun yang lalu. Tapi, akan tetap hangat jika kita ceritakan kembali bersama sahabat-sahabat masa kecil kita disaat sekarang ini. Mengunjungi sahabat-sahabat kecil yang mungkin sudah sekian lama terpisah lantaran aktivitas masing-masing akan menjadi hal yang sangat luar biasa untuk kita lakukan. Dari sekedar menyambung kembali tali silaturrahim sampai untuk kita tahu bagaimana kondisi sahabat-sahabat kecil kita yang dulu begitu peduli dengan diri kita. Selamat mencoba.
“Dulu, mereka mengisi hari-hari kita. Dulu, mereka menemani kita menemukan kebahagiaan kecil bersamanya. Dulu, mereka berteriak-teriak didepan pagar rumah kita mengajak kita bermain bersama. Dulu, mereka yang membantu kita membetulkan sepeda saat rusak di jalan pulang sekolah. Dan Dulu, mereka begitu peduli dengan diri kita…
Kini, adakah kita peduli pada mereka? Sedikit meluangkan waktu untuk sekedar bertanya “Apa kabarmu?”. Sahabat, mengingatkan kita pada indahnya saling berbagi…”
Saya : 100% Kak Wall
melukis masa muda yang lebih bermakna,
Mencoba mencari arti sebuah cinta sejati
Mengukir kisah sbagai sahabat sejati…”
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya. Setiap kita tentunya memiliki kisah-kisah yang kita kenang ketika masih muda atau anak-anak dulu. Cerita dimana kita masih punya banyak waktu untuk bermain bersama-sama dengan teman-teman dan juga sahabat-sahabat kita tanpa terpikir masalah-masalah berarti dalam hidup kita. Masa dimana kadang kita bisa sangat dekat dengan teman-teman kita, namun tak jarang kita harus bertengkar “ala anak-anak” yang meskipun begitu keesokan harinya kita sudah lupa dan kembali bermain bersama. Masa dimana kita dididik oleh lingkungan untuk gemar bersosialisasi dengan lingkungan, peka dengan kondisi teman dan juga dididik untuk membuat sesuatu yang sangat sederhana menjadi sesuatu yang dapat mendatangkan kebahagiaan yang lebih. Emmm…itulah masa anak-anak.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, adakah sahabat pernah berkumpul kembali dengan teman-teman kecil sahabat? Pernakah disaat sahabat bertemu dengan mereka lalu dengan semangat saling bertutur tentang kejadian ataupun cerita-cerita masa SD dulu? Cerita yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal dengan mengingat keusilan masa kecil kita, samapai cerita yang kadang bisa menitikkan air mata karena keharuannya. Yupz, ibarat pelangi masa-masa itu. Begitu indah dengan warna-warni kisah-kisahnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, barangkali kisah-kisah itu sudah kita lalui sepuluh bahkan dua puluh tahun yang lalu. Tapi, akan tetap hangat jika kita ceritakan kembali bersama sahabat-sahabat masa kecil kita disaat sekarang ini. Mengunjungi sahabat-sahabat kecil yang mungkin sudah sekian lama terpisah lantaran aktivitas masing-masing akan menjadi hal yang sangat luar biasa untuk kita lakukan. Dari sekedar menyambung kembali tali silaturrahim sampai untuk kita tahu bagaimana kondisi sahabat-sahabat kecil kita yang dulu begitu peduli dengan diri kita. Selamat mencoba.
“Dulu, mereka mengisi hari-hari kita. Dulu, mereka menemani kita menemukan kebahagiaan kecil bersamanya. Dulu, mereka berteriak-teriak didepan pagar rumah kita mengajak kita bermain bersama. Dulu, mereka yang membantu kita membetulkan sepeda saat rusak di jalan pulang sekolah. Dan Dulu, mereka begitu peduli dengan diri kita…
Kini, adakah kita peduli pada mereka? Sedikit meluangkan waktu untuk sekedar bertanya “Apa kabarmu?”. Sahabat, mengingatkan kita pada indahnya saling berbagi…”
Saya : 100% Kak Wall
Permainan Lurah - Lurahan
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ada yang pernah mendengar nama permainan "Lurah-lurahan"? Yupz, ini bahasa Jawa, kalau diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia "Kepala Desa-Kepala Desa-an". Dalam Istilah Jawa, kata yang diulang dan diakhiri dengan imbuhan "an" bisa / ada yang berarti menyerupai atau menirukan. Dalam istilah permainan misalnya, ada permainan Kucing-kucingan, itu artinya ada pemain yang berperan menjadi kucing. Namun dalam permainan Lurah-lurahan tidak ada pemain yang berperan menjadi Lurah/Kepala Desa, karena ini hanya nama permainannya saja.
Kalau sedikit dideskripsikan, permainan ini kurang lebih seperti ini : "Alat yang digunakan adalah sekumpulan lidi yang dipotong pendek-pendek, mungkin bisa antara 10-15cm saja. Diantara kumpulan potongan lidi itu, ada yang dipatahkan dibentuk menyerupai cangkul, nah itu yang disebut sebagai Lurahnya. Cara bermaiinyapun cukup sederhana, secara bergantian pemain bisa menggenggam kumpulan lidi itu, kemudian ditebarka ke arena permainan. Arena permainannya pun cukup dengan lantai diberikan garis pembatas misalnya dengan ukuran 30cm persegi. Ketika melemparkan tidak boleh keluar dari garis itu atau terkena hukuman jika keluar. Nah, setelah dilempar, lidi akan saling bertumpukan, setelah itu, tugas pemain adalah mengambil lidi satu per satu, tapi tidak boleh menggerakkan lidi yang lain sedikitpun. Jika bergerak maka mati dan pemain berikutnya mendapatkan giliran. Dan lidi yang menyerupai cangkul (Lurah) boleh digunakan sebagai pengungkit untuk memudahkan mengambil lidi yang lain."
Sahabat pembaca yang baik hatinya, di hari libur kemarin, saya melihat adik-adik saya memainkan permainan itu sahabat. Nah, sayapun tertarik ikut nimbrung bermain. Itung-itung nostalgia waktu SD. hehehe Ketika kita masih kecil, mungkin kita hanya sekedar bermain saja sahabat, padahal ternyata banyak sekali pelajaran yang bisa didapat dari bermain permainan itu, antara lain :
1. Belajar Kehati-hatian
Pelajaran ini bisa didapat dari beberapa bagian, pertama ketika menebarkan tidak boleh keluar dari garis. Ke dua, ketika mengambil lidi tidak boleh menggerakkan lidi yang lainnya.
2. Melatih Konsentrasi
Meskipun hanya bermain, permainan ini memang membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. Pasalnya, ketika mengambil lidi tentu harus memperhatikikan betul susunan lidi yang ada jangan sampai mengenai lidi yang lain agar tidak bergerak.
3. Belajar Memperhitungkan Resiko
Yups, maksudnya memperhitungkan resiko kurang lebih seperti ini, sebelum mengambil lidi, pemain harus mempertimbangkan "jika ini diambil, kira-kira berpengaruh tidak dengan lidi yang lain? Jika iya, apa? Menjadi mudah diambil, atau bergerak dan saya mati?"
4. Kepemimpinan
Lurah (lidi yang berbentuk cangkul) dalam permainan itu, jika telah berhasil diambil maka bisa berguna untuk mengungkit lidi lain yang ada pada tumpukan agar mudah diambil. Artinya, jika menjadi seorang pemimpin nantinya, salah satu sikap yang patut dicontoh adalah menggunakan kekuasaannya untuk menolong rakyat-rakyatnya.
5. Sabar
Kenapa sabar? Jelas, dengan bersabar maka dalam mengambil lidi tentunya akan lebih tenang dan tidak gegabah, sehingga resiko burukpun akan lebih bisa dihindarkan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, dari permainan yang cukup sederhana ternyata ada hikmah luar biasa yang barangkali baru sebagian kecil yang saya kutipkan di atas. Memang, permainan-permainan tradisional meskipun sederhana cara dan alat yang digunakan, namun dibalik semua itu pelajaran-pelajaran hidup yang mulia banyak ditanamkan. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, gak ada salahnya sahabat bernostalgia dengan permainan-permainan masa kecil sahabat.:')
Saya : 100% Kak Wall
Memilihkan Fasilitas
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat hari ini?
Adakah yang sedang berbunga-bunga seperti yang saya rasakan? Atau
mungkin lebih dari itu? Berbunga-bunga, berdaun-daun, berpohon-pohon
sekalian akar-akarnya? (Ngomongin apaan sih?)
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pagi ini, saya baru saja berkunjung ke sebuah kantor yang ada di Kota Susu. Kota susu tahu kan? Yupz, Boyolali yang dalam bahasa Inggrisnya Crocodile Forget (yang ini ngawur tingkat tinggi.hehehe), maksud saya Kota yang punya Slogan Tersenyum. Kedatangan saya ke kantor itu bermaksud untuk menemui seorang petinggi di kantor itu. Maklum, yang namanya ketemu dengan orang yang berkesibukan tinggi tentunya bukan hal yang mudah, terlebih kalau belum janjian dan akhirnya saya pun harus menunggu cukup lama. Oleh salah seorang karyawan yang ada di kantor itu, saya diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu tamu yang cukup mewah lengkap dengan fasilitas yang cukup bagus. Sambil menunggu, di ruangan itu diputarkan sebuah video kajian untuk para orang tua di layar LCD TV yang lumayan besar. Saya pun menunggu ditemani ceramah oleh seorang ustadz dalam TV itu.
Nah, dalam kajian itu sang ustadz memberikan ceramah tentang fasilitas apa yang baik dan yang kurang baik untuk perkembangan anak. Sang ustadz mengawali dengan bertanya pada audiens “Ibu-ibu, pertemuan sebelumnya saya memberikan PR pada ibu-ibu untuk menanyai atau meminta nak-anak ibu menyebutkan 5 tokoh yang terkenal. Sekarang jawabannya apa bu? Lebih banyak yang menyebutkan Superman, Batman dan teman-temannya atau Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dan shahabat-shahabatnya?”. Peserta kajian pun menjawab dengan jujur agak malu-lamu dengan jawaban yang senada satu sama lain, yaitu tokoh-tokoh superhero. Kemudian sang ustadz mengatakan “Itulah hasil dari yang sudah kita lakukan selama ini.” Namun, ada seorang ibu dalam kajian itu sedikit mengelak dengan mengatakan “Tapi saya tidak pernah mengajarkan itu tadz.” Dengan bijak sang ustadz mengatakan “Ibu yang saya hormati, dalam kita mendidik anak, tentu kita harus pahami dulu bahwa pendidikan itu tidak hanya dalam keluarga saja, melainkan ada factor besar yang lainnya, sekolah dan lingkungan misalnya. Jika semua itu lepas dari control kita, tentu juga bisa membahayakan, terlebih jika kita tidak membentengi anak-anak kita dengan ilmu agama yang cukup, akan sangat mudah pengaruh-pengaruh negative masuk dalam diri anak kita. Nah, terkhusus kasus yang tadi, bagaimana anak-anak kita lebih hafal superhero daripada tokoh-tokoh Muslim, coba saya tanya pada ibu-ibu semuanya, Apakah ada diantara ibu-ibu di rumah ada yang tidak mempunyai TV?” Serentak ibu-ibu yang hadir sepakat mengatakan bahwa mereka semua mempunyai televisi. Kemudian ustadz pun melanjutkan “Nah, itulah ibu-ibu sekalian, barangkali itu yang belum kita sadari, kita memang tidak mengajarkan secara langsung, tapi kita memberikan fasilitas untuk anak-anak kita mengenal tokoh-tokoh itu. Dan mungkin yang belum kita lakukan adalah memberikan fasilitas juga bagi anak-anak kita untuk lebih mudah belajar tentang agama islam kita ini.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita bandingkan dengan kondisi di keluarga kita sahabat. Bagaimana anak-anak kita menikmati fasilitas yang kita berikan? Lebih banyak mana? Fasilitas yang mengarahkan anak-anak kita pada kebaikan (Islam) atau justru sebaliknya? So, sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita sudah terlanjur mengikuti tuntutan jaman dengan memberikan fasilitas seperti yang tercontoh di atas, ada baiknya kita juga membangunkan benteng pendidikan agama bagi anak-anak kita dengan porsi yang jauh lebih besar daripada saat-saat mereka bisa menikmati fasilitas-fasilitas itu.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pagi ini, saya baru saja berkunjung ke sebuah kantor yang ada di Kota Susu. Kota susu tahu kan? Yupz, Boyolali yang dalam bahasa Inggrisnya Crocodile Forget (yang ini ngawur tingkat tinggi.hehehe), maksud saya Kota yang punya Slogan Tersenyum. Kedatangan saya ke kantor itu bermaksud untuk menemui seorang petinggi di kantor itu. Maklum, yang namanya ketemu dengan orang yang berkesibukan tinggi tentunya bukan hal yang mudah, terlebih kalau belum janjian dan akhirnya saya pun harus menunggu cukup lama. Oleh salah seorang karyawan yang ada di kantor itu, saya diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu tamu yang cukup mewah lengkap dengan fasilitas yang cukup bagus. Sambil menunggu, di ruangan itu diputarkan sebuah video kajian untuk para orang tua di layar LCD TV yang lumayan besar. Saya pun menunggu ditemani ceramah oleh seorang ustadz dalam TV itu.
Nah, dalam kajian itu sang ustadz memberikan ceramah tentang fasilitas apa yang baik dan yang kurang baik untuk perkembangan anak. Sang ustadz mengawali dengan bertanya pada audiens “Ibu-ibu, pertemuan sebelumnya saya memberikan PR pada ibu-ibu untuk menanyai atau meminta nak-anak ibu menyebutkan 5 tokoh yang terkenal. Sekarang jawabannya apa bu? Lebih banyak yang menyebutkan Superman, Batman dan teman-temannya atau Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dan shahabat-shahabatnya?”. Peserta kajian pun menjawab dengan jujur agak malu-lamu dengan jawaban yang senada satu sama lain, yaitu tokoh-tokoh superhero. Kemudian sang ustadz mengatakan “Itulah hasil dari yang sudah kita lakukan selama ini.” Namun, ada seorang ibu dalam kajian itu sedikit mengelak dengan mengatakan “Tapi saya tidak pernah mengajarkan itu tadz.” Dengan bijak sang ustadz mengatakan “Ibu yang saya hormati, dalam kita mendidik anak, tentu kita harus pahami dulu bahwa pendidikan itu tidak hanya dalam keluarga saja, melainkan ada factor besar yang lainnya, sekolah dan lingkungan misalnya. Jika semua itu lepas dari control kita, tentu juga bisa membahayakan, terlebih jika kita tidak membentengi anak-anak kita dengan ilmu agama yang cukup, akan sangat mudah pengaruh-pengaruh negative masuk dalam diri anak kita. Nah, terkhusus kasus yang tadi, bagaimana anak-anak kita lebih hafal superhero daripada tokoh-tokoh Muslim, coba saya tanya pada ibu-ibu semuanya, Apakah ada diantara ibu-ibu di rumah ada yang tidak mempunyai TV?” Serentak ibu-ibu yang hadir sepakat mengatakan bahwa mereka semua mempunyai televisi. Kemudian ustadz pun melanjutkan “Nah, itulah ibu-ibu sekalian, barangkali itu yang belum kita sadari, kita memang tidak mengajarkan secara langsung, tapi kita memberikan fasilitas untuk anak-anak kita mengenal tokoh-tokoh itu. Dan mungkin yang belum kita lakukan adalah memberikan fasilitas juga bagi anak-anak kita untuk lebih mudah belajar tentang agama islam kita ini.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita bandingkan dengan kondisi di keluarga kita sahabat. Bagaimana anak-anak kita menikmati fasilitas yang kita berikan? Lebih banyak mana? Fasilitas yang mengarahkan anak-anak kita pada kebaikan (Islam) atau justru sebaliknya? So, sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita sudah terlanjur mengikuti tuntutan jaman dengan memberikan fasilitas seperti yang tercontoh di atas, ada baiknya kita juga membangunkan benteng pendidikan agama bagi anak-anak kita dengan porsi yang jauh lebih besar daripada saat-saat mereka bisa menikmati fasilitas-fasilitas itu.
Saya : 100% Kak Wall
Senin, 28 April 2014
Posted by Kak Wall
Zona Selamat Sekolah
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah sahabat melintasi jalan
raya yang disana diberikan rambu seperti judul di atas? Emmm biasanya
rambu-rambu ini berupa jalan yang berada di depan sekolah kemudian dicat
dengan warna merah lengkap dengan tulisan Zona Selamat Sekolah.
Rambu-rambu ini dimaksudkan agar para pengendara kendaraan bermotor
memperlambat laju kendaraannya ketika melewati jalan tersebut di
jam-jam tertentu yaitu biasanya ketikan jam berangkat dan pulang
sekolah. Tentunya dimaksudkan untuk menjaga keselamatan anak-anak yang
keluar masuk sekolah dan juga para pengguna jalan yang lainnya. Sikap ini tentu wajib dilestarikan, selain untuk mewujudkan dari tujuan
dibuatnya rambu-rambu itu sendiri, menurut saya ada sebuah filisofi
menarik yang coba akan saya bahas pada kesempatan kali ini.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, maksud dari dibuatnya rambu-rambu tersebut menurut saya adalah untuk melindungi dan mendahulukan anak-anak sekolah itu sendiri dalam menuju aktivitas sekolahnya. Artinya, siapapun yang akan melintasi jalan yang bertuliskan Zona Selamat Sekolah tersebut hendaknya mendahulukan dan memberikan kesempatan anak-anak yang mungkin akan menyeberang terlebih dahulu, tentu salah satunya agar anak-anak ini tidak terlambat masuk kelasnya. Bayangkan bila dalam kondisi jalan yang padat, kemudian semua pengendara kendaraan bermotor ‘egois’ melintas tanpa memperhatikan rambu-rambu tersebut! Bukan tidak mungkin anak-anak yang akan menyeberang menuju sekolahnya itu akan jadi terhambat dan akhirnya telat masuk kelas karena arus kendaraan yang tak pernah putus atau bahkan tidak mau untuk sekedar berjalan pelan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sering kita dengar ungkapan bahwa “Sesuatu yang besar dapat diwujudkan dari hal yang sederhana.” Menurut saya ungkapan itu cukup sesuai dengan tema tulisan saya kali ini, bagaimana hanya dengan mendahulukan anak-anak untuk segera menuju sekolahnya, dengan contoh kecil kita mentaati rambu-rambu Zona Selamat Sekolah, itu artinya kita sudah turut mempersiapkan generasi penerus yang baik untuk bangsa ini? Kok bisa? Baik, kita akan buat kronologinya. Seorang anak akan menyeberang jalan didepan sekolahnya kemudian dari kejauhan, seorang pengendara mobil akan melintas, si anakpun menunggu mobil itu melintas. Karena melihat anak tersebut, sang sopir melambatkan laju kendaraannya sampai hampir berhenti dan memberikan isyarat kepada anak tersebut untuk menyeberang. Si anak pun akhirnya berhasil menyeberang dengan selamat dan masuk ke kelasnya tepat waktu dan si anakpun dapat mengikuti pelajaran dengan tenang dari awal sampai selesai.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sekarang kita bandingkan dengan kasus yang ke dua. Seorang anak akan menyeberang jalan didepan sekolahnya kemudian dari kejauhan, seorang pengendara mobil akan melintas, si anakpun menunggu mobil itu melintas sampai mobil itupun melintas dengan kencangnya. Setelah mobil itu melintas, ternyata dibelakangnya masih ada kendaraan lainnya, si anak pun harus menunggu lagi, lagi dan lagi. Kondisi ini berjalan sekitar 30 menit dan belum juga terputus arus kendaraannya bahkan makin deras. Tiba-tiba ada sebuah kesempatan dimana jalan itu lengang dan akhrinya si anak dapat menyeberang. Tapi, ternyata si anak sudah terlambat dan tidak boleh masuk kelas sebelum mendapatkan surat dari Guru BP/BK di sekolah itu. Untuk mendapatkan surat, si anak harus menerima hukuman lari keliling halaman sekolah terlebih dahulu. Masuk kelas, anak ini masih kena marah. Dalam kondisi lelah dan tertekan tentu si anak akan berkurang daya tangkapnya terhadap pelajaran bahkan kadang sama sekali tidak bisa mengikuti pelajaran.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, peduli terhadap pendidikan (sekolah) anak tidak serta-merta kita harus menjadi guru atau pendidik di sekolah. Melakukan hal sederhana pun bisa menjadi wujud kepedulian kita, seperti yang sudah dicontohkan di atas. Dan tentunya masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan. So, mari kita katakan pada anak-anak kita “Anak-anak ku, kalian memasuki zona SELAMAT SEKOLAH, bersekolahlah dengan sungguh-sungguh dan raihlah cita-citamu serta jadilah generasi yang membanggakan.”
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, maksud dari dibuatnya rambu-rambu tersebut menurut saya adalah untuk melindungi dan mendahulukan anak-anak sekolah itu sendiri dalam menuju aktivitas sekolahnya. Artinya, siapapun yang akan melintasi jalan yang bertuliskan Zona Selamat Sekolah tersebut hendaknya mendahulukan dan memberikan kesempatan anak-anak yang mungkin akan menyeberang terlebih dahulu, tentu salah satunya agar anak-anak ini tidak terlambat masuk kelasnya. Bayangkan bila dalam kondisi jalan yang padat, kemudian semua pengendara kendaraan bermotor ‘egois’ melintas tanpa memperhatikan rambu-rambu tersebut! Bukan tidak mungkin anak-anak yang akan menyeberang menuju sekolahnya itu akan jadi terhambat dan akhirnya telat masuk kelas karena arus kendaraan yang tak pernah putus atau bahkan tidak mau untuk sekedar berjalan pelan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sering kita dengar ungkapan bahwa “Sesuatu yang besar dapat diwujudkan dari hal yang sederhana.” Menurut saya ungkapan itu cukup sesuai dengan tema tulisan saya kali ini, bagaimana hanya dengan mendahulukan anak-anak untuk segera menuju sekolahnya, dengan contoh kecil kita mentaati rambu-rambu Zona Selamat Sekolah, itu artinya kita sudah turut mempersiapkan generasi penerus yang baik untuk bangsa ini? Kok bisa? Baik, kita akan buat kronologinya. Seorang anak akan menyeberang jalan didepan sekolahnya kemudian dari kejauhan, seorang pengendara mobil akan melintas, si anakpun menunggu mobil itu melintas. Karena melihat anak tersebut, sang sopir melambatkan laju kendaraannya sampai hampir berhenti dan memberikan isyarat kepada anak tersebut untuk menyeberang. Si anak pun akhirnya berhasil menyeberang dengan selamat dan masuk ke kelasnya tepat waktu dan si anakpun dapat mengikuti pelajaran dengan tenang dari awal sampai selesai.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, sekarang kita bandingkan dengan kasus yang ke dua. Seorang anak akan menyeberang jalan didepan sekolahnya kemudian dari kejauhan, seorang pengendara mobil akan melintas, si anakpun menunggu mobil itu melintas sampai mobil itupun melintas dengan kencangnya. Setelah mobil itu melintas, ternyata dibelakangnya masih ada kendaraan lainnya, si anak pun harus menunggu lagi, lagi dan lagi. Kondisi ini berjalan sekitar 30 menit dan belum juga terputus arus kendaraannya bahkan makin deras. Tiba-tiba ada sebuah kesempatan dimana jalan itu lengang dan akhrinya si anak dapat menyeberang. Tapi, ternyata si anak sudah terlambat dan tidak boleh masuk kelas sebelum mendapatkan surat dari Guru BP/BK di sekolah itu. Untuk mendapatkan surat, si anak harus menerima hukuman lari keliling halaman sekolah terlebih dahulu. Masuk kelas, anak ini masih kena marah. Dalam kondisi lelah dan tertekan tentu si anak akan berkurang daya tangkapnya terhadap pelajaran bahkan kadang sama sekali tidak bisa mengikuti pelajaran.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, peduli terhadap pendidikan (sekolah) anak tidak serta-merta kita harus menjadi guru atau pendidik di sekolah. Melakukan hal sederhana pun bisa menjadi wujud kepedulian kita, seperti yang sudah dicontohkan di atas. Dan tentunya masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan. So, mari kita katakan pada anak-anak kita “Anak-anak ku, kalian memasuki zona SELAMAT SEKOLAH, bersekolahlah dengan sungguh-sungguh dan raihlah cita-citamu serta jadilah generasi yang membanggakan.”
Saya : 100% Kak Wall
Guru Terbaik
Assalamu'alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Hari ini saya akan menyampaikan
sebuah cerita yang saya angkat dari sebuah kejadian nyata.
Dalam sebuah pelatihan, ketika itu saya menjadi juru kamera, ada sebuah kejadian yang bisa dibilang lucu tapi juga memalukan. Lucu bagi yang melihat tapi memalukan bagi yang mengalami. Kurang lebih seperti ini kejadiannya, seorang peserta diminta maju ke depan untuk menerima tantangan. Nah, majulah seorang anak laki-laki dari sekian banyak peserta. Pembicara pun mulai memberikan tantangan, yaitu meminta peserta tadi untuk melemparkan bola masuk ke dalam sebuah wadah dengan jarak tertentu. Lemparan pertama gagal, kemudian pembicara meminta untuk maju satu langkah. Langkah pertama biasa saja, dan belum cukup mampu membuat lemparan bolanya masuk sasaran karena jarak masih cukup jauh. Kemudian pembicara meminta untuk maju lagi satu langkah dan di langkah ke dua ini dilakukan dengan sangat semangat dan sejauh mungkin yang dia mampu lakukan.Tapi, tetap saja belum berhasil. Dan terakhir, pembicara meminta untuk maju satu langkah lagi, kali ini bukan melangkah yang ia lakukan, tapi melompat sehingga jarak menjadi sangat dekat dengan sasaran.
Tapi ada sedikit kejanggalan dari tingkah si anak ini setelah melompat tadi, seakan kurang nyaman untuk bergerak sedikitpun, dan ternyata celana si anak ini robek dibagian yang 'emmmm rasanya tidak perlu saya sebutkan'. Sontak, semua peserta langsung tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejadian itu. Dengan wajah malu, peserta tadi tetap melanjutkan tantangan dari pembicara dan akhrirnya hadiah pun diperolehnya. Setelah sedikit saya perhatikan model celana si anak ini, menurut saya memang kurang sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Yupz, kalau sahabat tau model celana pensil? yah, barangkali seperti itulah celana yang dikenakannya, mungkin ingin bergaya kali ya? :')
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ada sudut pandang lain yang coba saya pakai untuk menilai kejadian itu, yaitu dengan sebuah pertanyaan "Bagaimana kalau anak kita yang mengalami kejadian itu. Sedangkan kita menyaksikannya?" Apa jawaban sahabat? Ikut mentertawakan kah? atau tertunduk malu kah? Silakan dijawab sendiri-sendiri. Sahabat pembaca yang baik hatinya, kejadian itu memanglah kejadian yang sederhana dan boleh dikatakan sepele. Tapi, akibat yang diterima si anak mungkin akan lebih besar, entah diledek teman-temannya, atau enggan untuk mengekspresikan kemampuannya lantaran trauma dan lain sebagainya. Sekarang coba kita tarik ke belakang, apakah ada faktor dari kita sebagai orang tua? Apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk anak kita?
Mari kita jawab, pertama si anak ini tidak mematuhi perintah pembicara, karena saking semangatnya, disuruh melangkah tapi dia melompat. Tugas bagi kita untuk membuat anak-anak kita semangat dalam menjalani aktivitas-aktivitasnya, karena kita tau, dengan semangat itu pasti akan membuat segala aktivitas menjadi terasa lebih ringan untuk dilakukan. Tetapi, tugas kita pula untuk mengingatkan bahwa segala sesuatu yang telah diatur itu pasti ada tujuannya. Misalnya dalam beribada shalat, kenapa diatur sedemikian rupa waktu juga tata caranya tentu ada maksud dari semua itu. Nah, kepatuhan kepada aturan yang baik dan yang benarlah yang seharusnya kita tanamkan pada diri anak-anak kita sejak dini.
Ke dua, si anak ini mengenakan celana yang kurang pas modelnya dengan aktivitas yang dilakukannya. Tentu saja akan sangat berisiko dengan model celana sempit itu sedangkan dia melompat-lompat. Maksudnya seperti ini sahabat, kita hendaknya juga mengajarkan pada anak-anak kita untuk menempatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya. Bersikap sewajarnya dan tidak berlebih-lebihan.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita ajarkan pada anak-anak kita agar mereka mematuhi aturan-aturan yang baik dan benar dan juga bersikap yang baik serta dalam batas keajawaran, agar kelak mereka tidak pernah merasa malu dan menjadi bahan tertawaan. Tentu saja bukan hanya di hadapan manusia saja, lebih dari itu, jangan sampai anak-anak kita kelak harus tertunduk malu di hadapan Rabbnya lantaran tingkah lakunya di dunia. Tetapi, mereka bisa menjadi umat yang membanggakan lantaran prestasi-prestasi yang telah dilakukannya. Tentu saja semua itu tidak terlepas dari peran kita. Peran untuk apa? Peran untuk menjadi teladan yang baik bagi mereka.
Saya : 100% Kak Wall
Dalam sebuah pelatihan, ketika itu saya menjadi juru kamera, ada sebuah kejadian yang bisa dibilang lucu tapi juga memalukan. Lucu bagi yang melihat tapi memalukan bagi yang mengalami. Kurang lebih seperti ini kejadiannya, seorang peserta diminta maju ke depan untuk menerima tantangan. Nah, majulah seorang anak laki-laki dari sekian banyak peserta. Pembicara pun mulai memberikan tantangan, yaitu meminta peserta tadi untuk melemparkan bola masuk ke dalam sebuah wadah dengan jarak tertentu. Lemparan pertama gagal, kemudian pembicara meminta untuk maju satu langkah. Langkah pertama biasa saja, dan belum cukup mampu membuat lemparan bolanya masuk sasaran karena jarak masih cukup jauh. Kemudian pembicara meminta untuk maju lagi satu langkah dan di langkah ke dua ini dilakukan dengan sangat semangat dan sejauh mungkin yang dia mampu lakukan.Tapi, tetap saja belum berhasil. Dan terakhir, pembicara meminta untuk maju satu langkah lagi, kali ini bukan melangkah yang ia lakukan, tapi melompat sehingga jarak menjadi sangat dekat dengan sasaran.
Tapi ada sedikit kejanggalan dari tingkah si anak ini setelah melompat tadi, seakan kurang nyaman untuk bergerak sedikitpun, dan ternyata celana si anak ini robek dibagian yang 'emmmm rasanya tidak perlu saya sebutkan'. Sontak, semua peserta langsung tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejadian itu. Dengan wajah malu, peserta tadi tetap melanjutkan tantangan dari pembicara dan akhrirnya hadiah pun diperolehnya. Setelah sedikit saya perhatikan model celana si anak ini, menurut saya memang kurang sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Yupz, kalau sahabat tau model celana pensil? yah, barangkali seperti itulah celana yang dikenakannya, mungkin ingin bergaya kali ya? :')
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ada sudut pandang lain yang coba saya pakai untuk menilai kejadian itu, yaitu dengan sebuah pertanyaan "Bagaimana kalau anak kita yang mengalami kejadian itu. Sedangkan kita menyaksikannya?" Apa jawaban sahabat? Ikut mentertawakan kah? atau tertunduk malu kah? Silakan dijawab sendiri-sendiri. Sahabat pembaca yang baik hatinya, kejadian itu memanglah kejadian yang sederhana dan boleh dikatakan sepele. Tapi, akibat yang diterima si anak mungkin akan lebih besar, entah diledek teman-temannya, atau enggan untuk mengekspresikan kemampuannya lantaran trauma dan lain sebagainya. Sekarang coba kita tarik ke belakang, apakah ada faktor dari kita sebagai orang tua? Apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk anak kita?
Mari kita jawab, pertama si anak ini tidak mematuhi perintah pembicara, karena saking semangatnya, disuruh melangkah tapi dia melompat. Tugas bagi kita untuk membuat anak-anak kita semangat dalam menjalani aktivitas-aktivitasnya, karena kita tau, dengan semangat itu pasti akan membuat segala aktivitas menjadi terasa lebih ringan untuk dilakukan. Tetapi, tugas kita pula untuk mengingatkan bahwa segala sesuatu yang telah diatur itu pasti ada tujuannya. Misalnya dalam beribada shalat, kenapa diatur sedemikian rupa waktu juga tata caranya tentu ada maksud dari semua itu. Nah, kepatuhan kepada aturan yang baik dan yang benarlah yang seharusnya kita tanamkan pada diri anak-anak kita sejak dini.
Ke dua, si anak ini mengenakan celana yang kurang pas modelnya dengan aktivitas yang dilakukannya. Tentu saja akan sangat berisiko dengan model celana sempit itu sedangkan dia melompat-lompat. Maksudnya seperti ini sahabat, kita hendaknya juga mengajarkan pada anak-anak kita untuk menempatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya. Bersikap sewajarnya dan tidak berlebih-lebihan.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita ajarkan pada anak-anak kita agar mereka mematuhi aturan-aturan yang baik dan benar dan juga bersikap yang baik serta dalam batas keajawaran, agar kelak mereka tidak pernah merasa malu dan menjadi bahan tertawaan. Tentu saja bukan hanya di hadapan manusia saja, lebih dari itu, jangan sampai anak-anak kita kelak harus tertunduk malu di hadapan Rabbnya lantaran tingkah lakunya di dunia. Tetapi, mereka bisa menjadi umat yang membanggakan lantaran prestasi-prestasi yang telah dilakukannya. Tentu saja semua itu tidak terlepas dari peran kita. Peran untuk apa? Peran untuk menjadi teladan yang baik bagi mereka.
Saya : 100% Kak Wall
Lembut Sikapmu Kuatkan Ukhuwah
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya,,,
Seorang sahabat berkata pada saya beberapa waktu yang lalu, “Mas, kamu tu mang dipilihin Allah untuk ketemu dan jadi sahabat ku ko ya? Mas ngrasa gitu juga kan? Mas, aku tu mang susah dibilangin, ngeyel pokoknya. Tapi coba deh mas ingat-ingat, kalo pas mas bilang biar aku gak melakukan A, pasti aku langsung protes dan kadang-kadang malah marah. Tapi to Mas, tahu gak, nasehat mas yang dulu itu biar aku gak gini gitu (edit) itu sekarang benar-benar aku tinggalin lho Mas, ya meskipun dulu kita sempat berdebat soal itu sih… Tapi emang gitu ko, dan itu bukan satu-satunya, ada hal-hal yang lain juga…”
Saya pun juga merasa demikian sahabat, kadang sahabat saya ini menasehati tentang sebuah hal, tapi saya juga kadang tidak bisa menerima dan berdebat, tapi, kami punya komitmen ketika salah satu marah yang lain jangan sampai Terpancing emosi dan sebisa mungkin mencari cara yang lain untuk menyampaikan nesehat yang kami rasa baik itu. Alhasil, kamipun menjadikan hubungan kami menjadi tempat yang cukup nyaman untuk saling berbagi.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, bersahabat, berteman, berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat dan hubungan yang lainnya, tentu tidak lepas dari yang namanya konflik. Tapi, kalau kita mau belajar dari konflik itu, justru itu menjadi sebuah sarana untuk kita mendewasakan diri kita. Menyikapi sebuah masalah dengan saling berdebat dan mengeluarkan urat saraf menurut saya hanya akan menambah masalah saja. Hanya sebuah kepuasan yang dicari disana dengan bisa mengalahkan lawan debat.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, Mengalah bukan berarti kalah,itu adalah sportifitas. Minta maaf tak selamanya berarti salah, itu adalah bentuk kedewasaan bersikap. Melembutkan sikap bukan berarti lemah, karena itulah kekuatan untuk membuat sebuah hubungan menjadi semakin erat.
Saya : 100% Kak Wall
Seorang sahabat berkata pada saya beberapa waktu yang lalu, “Mas, kamu tu mang dipilihin Allah untuk ketemu dan jadi sahabat ku ko ya? Mas ngrasa gitu juga kan? Mas, aku tu mang susah dibilangin, ngeyel pokoknya. Tapi coba deh mas ingat-ingat, kalo pas mas bilang biar aku gak melakukan A, pasti aku langsung protes dan kadang-kadang malah marah. Tapi to Mas, tahu gak, nasehat mas yang dulu itu biar aku gak gini gitu (edit) itu sekarang benar-benar aku tinggalin lho Mas, ya meskipun dulu kita sempat berdebat soal itu sih… Tapi emang gitu ko, dan itu bukan satu-satunya, ada hal-hal yang lain juga…”
Saya pun juga merasa demikian sahabat, kadang sahabat saya ini menasehati tentang sebuah hal, tapi saya juga kadang tidak bisa menerima dan berdebat, tapi, kami punya komitmen ketika salah satu marah yang lain jangan sampai Terpancing emosi dan sebisa mungkin mencari cara yang lain untuk menyampaikan nesehat yang kami rasa baik itu. Alhasil, kamipun menjadikan hubungan kami menjadi tempat yang cukup nyaman untuk saling berbagi.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, bersahabat, berteman, berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat dan hubungan yang lainnya, tentu tidak lepas dari yang namanya konflik. Tapi, kalau kita mau belajar dari konflik itu, justru itu menjadi sebuah sarana untuk kita mendewasakan diri kita. Menyikapi sebuah masalah dengan saling berdebat dan mengeluarkan urat saraf menurut saya hanya akan menambah masalah saja. Hanya sebuah kepuasan yang dicari disana dengan bisa mengalahkan lawan debat.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, Mengalah bukan berarti kalah,itu adalah sportifitas. Minta maaf tak selamanya berarti salah, itu adalah bentuk kedewasaan bersikap. Melembutkan sikap bukan berarti lemah, karena itulah kekuatan untuk membuat sebuah hubungan menjadi semakin erat.
Saya : 100% Kak Wall
Keikhlasan Seorang Ibu Menjaga Amanah
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, suasana hari ini begitu cerah,
semoga secerah suasana hati sahabat dan kita semua. Aamiin…
Pagi ini saya berkesempatan untuk bertemu dengan siswa-siswi di sebuah sekolah dasar. Di sana, saya dan beberapa rekan saya berbagi ilmu tentang bagaimana membuat belajar itu menjadi hal yang menyenangkan untuk siswa-siswi di sekolah itu dengan beberapa metode yang kami ajarkan. Di sela-sela waktu jeda sebelum masuk ke kelas berikutnya, saya bertemu dengan seorang ibu yang ternyata sedang menunggui puteranya. Tidak seperti pada umumnya memang, karena di sekolah tersebut, hanya beliau satu-satunya orang tua yang menunggui puteranya, terlebih si anak sudah kelas 4 di sekolah itu.
Kemudian kamipun mulai berbincang, ibu itu mulai bertanya “Gimana Mas, anak saya bisa ngikuti ndak ya Mas?” setelah saya jawab, beliau bercerita tentang banyak hal, salah satunya alasan kenapa beliau menunggui puteranya itu yang ternyata itu dilakukan sejak TK sampai saat ini. Dan ternyata, si anak ini kalau boleh saya menyimpulkan dia termasuk anak berkebutuhan khusus. Beliau juga menuturkan bahwa anaknya pernah di tes IQ dan hasilnya di bawah 70. “Anak saya itu kalo ndak ditungguin sering dinakali teman-temannya juga mas, dan kalau udah gitu pasti nangis. Jadi saya pilih nunggu tiap hari gini yang penting dia tetap mau bersekolah di sini, soalnya dia tidak mau di tempat yang lain.” begitu sepenggal penuturan ibu itu.
Saya cukup salut dengan semangat ibu itu yang rela menunggui puteranya agar tetap mau sekolah setiap harinya. Terlebih, di ujung obrolan kami ada sebuah kalimat yang terlontar dari bibir ibu itu yang penuh dengan keikhlasan “Saya sama bapaknya juga masih terus mencari jalan keluar supaya anak saya bisa lebih baik lagi mas belajarnya. Tapi di satu sisi kami juga pasrah atas kehendak yang Maha Kuasa. Kalaupun anak saya ndak jago matematika ndak papa, yang penting dia bisa mengekspresikan apa yang dia senangi dan sukur-sukur dia bisa berprestasi dari bidang lain.”
Mendengar cerita ibu itu, saya teringat dengan kisah tentang Hee Ah Lee yang di mata manusia terlihat tidak sempurna secara fisik. Namun, ditengah cemoohan orang-orang di sekitar, sang ibu mampu mendidiknya dan berhasil mengantarkan Hee Ah Lee menjadi Pianis Hebat Dunia dan menjadi warga kehormatan di Negaranya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, kisah ibu itu menurut saya adalah sebuah kisah yang luar biasa. Beliau mengajarkan bagaimana ikhlas, bagaimana berkorban dan bagaimana bertanggung jawab atas amanah yang dititipkan padanya. Tetapi sahabat, adakah kita sadari bahwa setiap ibu pada dasarnya memiliki sifat itu? Termasuk ibu kita. Hanya saja dalam bentuk berbeda beliau menunjukkan keikhlasan, pengorbanan dan juga tanggung jawab atas titipan Allah, yaitu diri kita.
Saya : 100% Kak Wall
Pagi ini saya berkesempatan untuk bertemu dengan siswa-siswi di sebuah sekolah dasar. Di sana, saya dan beberapa rekan saya berbagi ilmu tentang bagaimana membuat belajar itu menjadi hal yang menyenangkan untuk siswa-siswi di sekolah itu dengan beberapa metode yang kami ajarkan. Di sela-sela waktu jeda sebelum masuk ke kelas berikutnya, saya bertemu dengan seorang ibu yang ternyata sedang menunggui puteranya. Tidak seperti pada umumnya memang, karena di sekolah tersebut, hanya beliau satu-satunya orang tua yang menunggui puteranya, terlebih si anak sudah kelas 4 di sekolah itu.
Kemudian kamipun mulai berbincang, ibu itu mulai bertanya “Gimana Mas, anak saya bisa ngikuti ndak ya Mas?” setelah saya jawab, beliau bercerita tentang banyak hal, salah satunya alasan kenapa beliau menunggui puteranya itu yang ternyata itu dilakukan sejak TK sampai saat ini. Dan ternyata, si anak ini kalau boleh saya menyimpulkan dia termasuk anak berkebutuhan khusus. Beliau juga menuturkan bahwa anaknya pernah di tes IQ dan hasilnya di bawah 70. “Anak saya itu kalo ndak ditungguin sering dinakali teman-temannya juga mas, dan kalau udah gitu pasti nangis. Jadi saya pilih nunggu tiap hari gini yang penting dia tetap mau bersekolah di sini, soalnya dia tidak mau di tempat yang lain.” begitu sepenggal penuturan ibu itu.
Saya cukup salut dengan semangat ibu itu yang rela menunggui puteranya agar tetap mau sekolah setiap harinya. Terlebih, di ujung obrolan kami ada sebuah kalimat yang terlontar dari bibir ibu itu yang penuh dengan keikhlasan “Saya sama bapaknya juga masih terus mencari jalan keluar supaya anak saya bisa lebih baik lagi mas belajarnya. Tapi di satu sisi kami juga pasrah atas kehendak yang Maha Kuasa. Kalaupun anak saya ndak jago matematika ndak papa, yang penting dia bisa mengekspresikan apa yang dia senangi dan sukur-sukur dia bisa berprestasi dari bidang lain.”
Mendengar cerita ibu itu, saya teringat dengan kisah tentang Hee Ah Lee yang di mata manusia terlihat tidak sempurna secara fisik. Namun, ditengah cemoohan orang-orang di sekitar, sang ibu mampu mendidiknya dan berhasil mengantarkan Hee Ah Lee menjadi Pianis Hebat Dunia dan menjadi warga kehormatan di Negaranya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, kisah ibu itu menurut saya adalah sebuah kisah yang luar biasa. Beliau mengajarkan bagaimana ikhlas, bagaimana berkorban dan bagaimana bertanggung jawab atas amanah yang dititipkan padanya. Tetapi sahabat, adakah kita sadari bahwa setiap ibu pada dasarnya memiliki sifat itu? Termasuk ibu kita. Hanya saja dalam bentuk berbeda beliau menunjukkan keikhlasan, pengorbanan dan juga tanggung jawab atas titipan Allah, yaitu diri kita.
Saya : 100% Kak Wall
Kamis, 06 Maret 2014
Posted by Kak Wall
Buka Mata, Buka Hati dan Lakukanlah yang Terbaik
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, mengawali tulisan saya hari ini dengan sebuah motivasi yang sangat luar biasa dari seorang tokoh di Kota yang dikenal dengan Lumpia Basah juga Wingko Babadnya. Sebuah kalimat yang terlontar bukan sekedar rangkaian kata-kata indah semata, melainkan sebuah kalimat yang memiliki kesaktian, yang dapat membius para orang tua di Kota itu. Yah, Pak Ciptono namanya, sosok dengan segudang prestasi dan telah berhasil menelurkan sekian banyak talenta-talenta yang sangat-sangat luar biasa dari mereka yang bergelar Anak Berkebutuhan Khusus. Yang pada akhirnya dapat memberikan senyum lebar untuk orang tuanya yang mulanya sempat kecewa bahkan putus asa.
Pak Ciptono adalah seorang pendidik di sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang sudah sangat lama mengabdikan diri di bidangnya. Sebuah kebanggaan bagi saya bisa mendengarkan langsung motivasi dari beliau yang sudah cukup sering menghadiri acara talkshow inspiratif di televise itu. Terlepas dari perjuangan yang telah dilakukan Pak Ciptono, ada sebuah hikmah yang coba saya angkat dari sebuah pertunjukan yang disajikan anak-anak didik di sekolah itu. Anak-anak yang kebanyakan orang menganggap sebagai anak-anak yang tidak normal, anak-anak yang cacat fisik maupun mental, tetapi justru bisa memberikan dan menunjukkan berbagai kemampuan yang sangat istimewa dan luar biasa.
Adakah kita bernah berpikir dari sudut pandang yang lain sahabat? Mereka, anak-anak yang berkebutuhan khusus dapat dipoles dan menghasilkan sebuah keahlian yang dapat dilakukan orang-orang yang dianggap normal pada umumnya, tetapi sebaliknya, orang-orang normal tidak sedikit yang dibuat cacat. Coba sahabat renungkan berikut ini : Dulu, seseorang pemain piano/ keyboard dianggap mahir ketika bisa mengolah tuts alat music itu dengan mahir sehingga dapat menghasilkan paduan suara dan irama lagu yang yang baik. Tetapi sekarang sahabat, tentu sahabat sudah sangat kenal dengan istilah Organ Tunggal bukan? Di sana, pemain organ/ keyboard yang baru pemula pun dapat memainkan sebuah lagu dengan baik pula. Tetapi dibalik keindahan suara yang dihasilkan oleh pemain organ itu, sudah ada disket/ file music yang diputarkan dan si pemain hanya mengikuti beberapa bagian kecil saja, bahkan ibarat ditinggal tidurpun, music itu sudah dapat bermain sendiri.
Nah, itulah sahabat gambaran kecil dan sederhana bagaimana perkembangan zaman, perkembangan pendidikan dan juga perkembangan teknologi yang membuat cacat dan menghambat orang-orang untuk mengoptimalkan potensi yang sebenarnya bisa jauh lebih baik dan berprestasi. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita mulai membuka mata dan membuka hati bahwa perlu kita berikan kesempatan diri kita untuk berbuat lebih baik, agar kita tidak menjadi orang-orang yang gagal, Karena Allah tidak pernah gagal menciptakan makhluknya.
Saya : 100% Kak Wall
Hikmah Membangun dan Menjaga Uhuwah
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Bagaimana kabar sahabat hari ini?
Sehat? Atau kurang sehat? Alhamdulillah, apapun kondisi kita yang
terpenting adalah syukur terlebih dahulu. Bener kan?
Baik, hari ini saya akan sedikit bercerita untuk sahabat semuanya. Tentang apa? Yups, tentang sebuah kisah yang terjadi di kampung halaman. Begini sahabat :
“Beberapa hari yang lalu di masjid tempat biasa saya berjama’ah di rumah, rekan seperjuangan saya mengajak untuk kembali menghidupkan kegiatan TPA yang sempat terhenti beberapa bulan yang lalu kerena beberapa hal. Nah, karena mengingat berbagai aktivitas dari rekan-rekan saya, akhirnya kegiatan TPA itu pun kami alihkan selepas shalat Maghrib yang dulunya Ba’da ‘Asar.
Emmm…di hari-hari awal pertemuan ada sesuatu yang saya temukan di sana, yaitu ketika salah satu teman yang sebelumnya sudah cukup lama mengasuh kegiatan-kegiatan TPA memulai kegiatan itu. Apa yang saya temukan sahabat? Disana terlihat sedikit kecanggungan dari rekan saya itu dan ternyata kecanggungan itu juga dialami santri-santri yang datang. Canggung seperti apa? Emmmm…barangkali sahabat bisa membayangkan ketika sebuah kelas dengan seorang guru baru juga murid baru dan memulai kelas untuk pertama kalinya dan belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Padahal sahabat, sebelum terhenti, kegiatan TPA di tempat kami sudah cukup lama berjalan dan hubungan antara pengasuh dan santri pun sudah cukup dekat.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, singkat cerita, ketika tulisan ini saya buat sahabat, sepekan sudah perjalanan kami untuk kembali menghidupkan kegiatan TPA itu. Alhasil, ikatan antara santri-santri dan pengasuh yang sempat hilang beberapa bulan itu kembali kami temukan. Komunikasi antara santri dan pengasuhpun juga sudah mulai hangat dan akrab seperti yang pernah terjadi sebelumnya.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ada sebuah pelajaran yang coba saya petik dari kisah itu yang kurang lebih seperti ini. Membangun sebuah ikatan ukhuwah / ikatan batin / ikatan emosional dan sejenisnya itu penting, baik dengan keluarga, sahabat, murid, rekan kerja ataupun yang lain, tetapi bagaimana kita menjaga ikatan itupun juga tidak kalah penting. Karena, bagaimanapun yang terjaga akan lebih istimewa.
Saya : 100% Kak Wall
Baik, hari ini saya akan sedikit bercerita untuk sahabat semuanya. Tentang apa? Yups, tentang sebuah kisah yang terjadi di kampung halaman. Begini sahabat :
“Beberapa hari yang lalu di masjid tempat biasa saya berjama’ah di rumah, rekan seperjuangan saya mengajak untuk kembali menghidupkan kegiatan TPA yang sempat terhenti beberapa bulan yang lalu kerena beberapa hal. Nah, karena mengingat berbagai aktivitas dari rekan-rekan saya, akhirnya kegiatan TPA itu pun kami alihkan selepas shalat Maghrib yang dulunya Ba’da ‘Asar.
Emmm…di hari-hari awal pertemuan ada sesuatu yang saya temukan di sana, yaitu ketika salah satu teman yang sebelumnya sudah cukup lama mengasuh kegiatan-kegiatan TPA memulai kegiatan itu. Apa yang saya temukan sahabat? Disana terlihat sedikit kecanggungan dari rekan saya itu dan ternyata kecanggungan itu juga dialami santri-santri yang datang. Canggung seperti apa? Emmmm…barangkali sahabat bisa membayangkan ketika sebuah kelas dengan seorang guru baru juga murid baru dan memulai kelas untuk pertama kalinya dan belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Padahal sahabat, sebelum terhenti, kegiatan TPA di tempat kami sudah cukup lama berjalan dan hubungan antara pengasuh dan santri pun sudah cukup dekat.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, singkat cerita, ketika tulisan ini saya buat sahabat, sepekan sudah perjalanan kami untuk kembali menghidupkan kegiatan TPA itu. Alhasil, ikatan antara santri-santri dan pengasuh yang sempat hilang beberapa bulan itu kembali kami temukan. Komunikasi antara santri dan pengasuhpun juga sudah mulai hangat dan akrab seperti yang pernah terjadi sebelumnya.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ada sebuah pelajaran yang coba saya petik dari kisah itu yang kurang lebih seperti ini. Membangun sebuah ikatan ukhuwah / ikatan batin / ikatan emosional dan sejenisnya itu penting, baik dengan keluarga, sahabat, murid, rekan kerja ataupun yang lain, tetapi bagaimana kita menjaga ikatan itupun juga tidak kalah penting. Karena, bagaimanapun yang terjaga akan lebih istimewa.
Saya : 100% Kak Wall
Hal yang Sepele Bisa Jadi Berabe
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat hari ini? Cerah? Ceria? Yupz, semoga begitu…
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa waktu yang lalu saya sempat menegur seorang siswa yang membuang sampah sembarangan. “E…mbaakkk,,, sampahnya jangan dibuang di situ dong… nanti tempatnya kotor kan? Ayo, dibuang ditempat sampah…” lalu si anak ini menjawab “Alaaahh…dah terlanjur Kak, kan susah ambilnya lagi, Cuma dikit ko..” Memang tempanya agak sulit dijangkau karena tertutup papan, jadi agak susah untuk anak-anak mengambilnya lagi. Akhirnya pun saya biarkan begitu saja.
Hari ini, kira-kira sekitar dua pekan setelah saya menegur si anak, saya pun berniat untuk membersihkan tempat yang tadinya dipakai membuang sampah si anak. Tapi, kira-kira apa yang terjadi sahabat? Luar biasa, tempat yang tadinya hanya ada sebuah plastic bungkus snack makanan ringan seharga lima ratus rupiah, berubah menjadi lautan sampah yang setelah selesai saya kumpulkan hasilnya tidak kurang dari sekeranjang sampah penuh. Heemmmmm…
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata, hari demi hari setelah saya menegur si anak tadi, cerita membuang sampah sembarangan tadi masih terjadi, padahal sudah ada tempat sampah di dekat tempat tersebut. Dan parahnya, anak-anak yang lain juga ikut-ikutan membuang sampah di tempat yang bukan semestinya itu. Barangkali mereka juga berpikir sama “Ah, Cuma satu ko, itu juga udah ada sebelumnya… berarti kan boleh buang disini…” dan akhirnya ya seperti yang saya sampaikan tadi sahabat.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, membiarkan budaya yang kurang baik pada anak-anak sekalipun hanya sebuah hal kecil, pada hakekatnya kita telah membiarkan sebuah system yang itu adalah system yang kurang baik bagi anak-anak kita terbangun dalam perkembangan anak-anak kita. Tentu sahabat sudah bisa menjawab sendiri apa akibatnya dimasa ketika mereka dewasa kan? Yupz, Ibu kota Negara ini barangkali bisa jadi contoh yang nyata bagaimana sampah-sampah tertimbun padat di sungai-sungai, bahkan berhasil menenggelamkan waduk yang cukup luas. Luarrr biasa... Akhirnya hal sepele pun jadi berabe.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa waktu yang lalu saya sempat menegur seorang siswa yang membuang sampah sembarangan. “E…mbaakkk,,, sampahnya jangan dibuang di situ dong… nanti tempatnya kotor kan? Ayo, dibuang ditempat sampah…” lalu si anak ini menjawab “Alaaahh…dah terlanjur Kak, kan susah ambilnya lagi, Cuma dikit ko..” Memang tempanya agak sulit dijangkau karena tertutup papan, jadi agak susah untuk anak-anak mengambilnya lagi. Akhirnya pun saya biarkan begitu saja.
Hari ini, kira-kira sekitar dua pekan setelah saya menegur si anak, saya pun berniat untuk membersihkan tempat yang tadinya dipakai membuang sampah si anak. Tapi, kira-kira apa yang terjadi sahabat? Luar biasa, tempat yang tadinya hanya ada sebuah plastic bungkus snack makanan ringan seharga lima ratus rupiah, berubah menjadi lautan sampah yang setelah selesai saya kumpulkan hasilnya tidak kurang dari sekeranjang sampah penuh. Heemmmmm…
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata, hari demi hari setelah saya menegur si anak tadi, cerita membuang sampah sembarangan tadi masih terjadi, padahal sudah ada tempat sampah di dekat tempat tersebut. Dan parahnya, anak-anak yang lain juga ikut-ikutan membuang sampah di tempat yang bukan semestinya itu. Barangkali mereka juga berpikir sama “Ah, Cuma satu ko, itu juga udah ada sebelumnya… berarti kan boleh buang disini…” dan akhirnya ya seperti yang saya sampaikan tadi sahabat.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, membiarkan budaya yang kurang baik pada anak-anak sekalipun hanya sebuah hal kecil, pada hakekatnya kita telah membiarkan sebuah system yang itu adalah system yang kurang baik bagi anak-anak kita terbangun dalam perkembangan anak-anak kita. Tentu sahabat sudah bisa menjawab sendiri apa akibatnya dimasa ketika mereka dewasa kan? Yupz, Ibu kota Negara ini barangkali bisa jadi contoh yang nyata bagaimana sampah-sampah tertimbun padat di sungai-sungai, bahkan berhasil menenggelamkan waduk yang cukup luas. Luarrr biasa... Akhirnya hal sepele pun jadi berabe.
Saya : 100% Kak Wall
Perhatikan Istilah Dalam Mendidik Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, hari ini saya baru saja selesai
menjadi anggota tim kegiatan Out Bond. Dan saya berkesempatan memandu
sebuah permainan yang cukup menarik. Dalam permainan itu saya
menginstruksikan peserta untuk menjatuhkan sasaran sebanyak mungkin
dengan cara menggulirkan/ menggelindingkan bola sampai mengenai sasaran
dengan jarak yang saya tentukan
sebelumnya.
Eits, tapi tidak sesederhana itu, cara menggelindingkannya tidak hanya dengan tangan lho, tapi ada yang menggunakan kaki. Nah, dari situlah mulai ada celotehan dari peserta setelah mereka mndapatkan undian dengan anggota gerak yang mana mereka akan melempar. Ada yang berkata “Aaaahhhh ko tangan kiri sih?”, “Yes, tangan kanan.” Kalau yang putra “Yes, dapat kaki kanan” mungkin sering sepak bola, tapi ada juga yang bilang “Kalau kaki kiri kan gak bisaaaa…” dan masih banyak lagi teriakan-teriakan yang mereka lontarkan.
Beberapa saat kemudian tiba giliran mereka melempatkan satu per satu mulai dari yang mendapatkan cara menggelindingkan dengan tangan kanan, tangan kiri kemudian kaki kiri sampai dengan kaki kanan… kali ini banyak kejadian yang tidak mereka duga, banyak yang gagal menggunakan anggota gerak yang mereka anggap lebih berpeluang untuk menjatuhkan sasaran, yaitu tangan dan kaki kanan. Sebaliknya, tidak sedikit yang berhasil memaksimalkan tangan dan kaki kiri mereka. Nah, celotehannya pun mulai berganti. “Wah, ternyata tangan kirimu jago ya?” atau “aduuuhhh, kenapa tendangan kananku melenceng jauh?” dan lainnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah kita mendengarkan orang tua yang menyuruh anaknya ketika makan “Hayoo, maemnya pakai tangan yang bagus…(maksudnya tangan kanan)” dari situlah ada kemungkinan muncul anggapan dari seorang anak bahwa yang bagus itu tangan kanan, sedang yang kiri tidak. Nah, makanya sampai terbawa ketika mereka beranjak dewasa seperti yang terjadi dalam cerita saya diatas.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, barangkali kita harus mulai berhati-hati memberikan istilah untuk anak-anak kita, jangan sampai contoh di atas menjadi salah satunya dan kalaupun sudah terjadi semoga itu cukup satu-satunya. Why? Yah, karena apapun yang telah Allah anugerahkan untuk kita ini semua sudah pada porsi dan kegunaannya. Ada sebuah kalimat yang menarik bahwa “Ketika kita menganggap buruk fisik kita ataupun fisik orang lain, tenyata bukan semata kita menghina bentuk ataupun kegunaan fisik itu, melainkan kita sudah menghina yang menciptakannya.” Astaghfirullah… semoga kita dijauhkan ya dari sikap-sikap seperti itu? Aamiin.
Saya : 100% Kak Wall
Eits, tapi tidak sesederhana itu, cara menggelindingkannya tidak hanya dengan tangan lho, tapi ada yang menggunakan kaki. Nah, dari situlah mulai ada celotehan dari peserta setelah mereka mndapatkan undian dengan anggota gerak yang mana mereka akan melempar. Ada yang berkata “Aaaahhhh ko tangan kiri sih?”, “Yes, tangan kanan.” Kalau yang putra “Yes, dapat kaki kanan” mungkin sering sepak bola, tapi ada juga yang bilang “Kalau kaki kiri kan gak bisaaaa…” dan masih banyak lagi teriakan-teriakan yang mereka lontarkan.
Beberapa saat kemudian tiba giliran mereka melempatkan satu per satu mulai dari yang mendapatkan cara menggelindingkan dengan tangan kanan, tangan kiri kemudian kaki kiri sampai dengan kaki kanan… kali ini banyak kejadian yang tidak mereka duga, banyak yang gagal menggunakan anggota gerak yang mereka anggap lebih berpeluang untuk menjatuhkan sasaran, yaitu tangan dan kaki kanan. Sebaliknya, tidak sedikit yang berhasil memaksimalkan tangan dan kaki kiri mereka. Nah, celotehannya pun mulai berganti. “Wah, ternyata tangan kirimu jago ya?” atau “aduuuhhh, kenapa tendangan kananku melenceng jauh?” dan lainnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah kita mendengarkan orang tua yang menyuruh anaknya ketika makan “Hayoo, maemnya pakai tangan yang bagus…(maksudnya tangan kanan)” dari situlah ada kemungkinan muncul anggapan dari seorang anak bahwa yang bagus itu tangan kanan, sedang yang kiri tidak. Nah, makanya sampai terbawa ketika mereka beranjak dewasa seperti yang terjadi dalam cerita saya diatas.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, barangkali kita harus mulai berhati-hati memberikan istilah untuk anak-anak kita, jangan sampai contoh di atas menjadi salah satunya dan kalaupun sudah terjadi semoga itu cukup satu-satunya. Why? Yah, karena apapun yang telah Allah anugerahkan untuk kita ini semua sudah pada porsi dan kegunaannya. Ada sebuah kalimat yang menarik bahwa “Ketika kita menganggap buruk fisik kita ataupun fisik orang lain, tenyata bukan semata kita menghina bentuk ataupun kegunaan fisik itu, melainkan kita sudah menghina yang menciptakannya.” Astaghfirullah… semoga kita dijauhkan ya dari sikap-sikap seperti itu? Aamiin.
Saya : 100% Kak Wall
Pentingnya Membersamai Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, siang ini saya baru saja
silaturrahim ke sebuah sekolah. Sesampainya di sekolah itu saya sedikit
terkejut karena kondisi sekolah yang sudah sangat sepi dan semua pintu
ruangan tertutup termasuk gerbang sekolah, hanya saja memang tidak
digembok…padahal sebelumnya salah seorang ustadzah mengatakan pulangnya
sore setiap harinya. Lantas saya mengira
sekolah itu libur atau pulang pagi. Sempat saya memutuskan untuk
pulang, tapi kemudian pandangan saya menyapu setiap sudut sekolah itu
dan dalam benak saya berkata “Sebentar, kalau sudah pulang kenapa itu
sepatu-sepatunya masih tertata rapi di rak depan kelas? Masa’ sepatu
ditinggal di sekolahan?” saya pun berubah pikiran dan memutuskan untuk
mencoba masuk dengan membuka gerbang yang memang tidak dikunci. Sesaat
setelah saya berhasil masuk ke halaman sekolah itu, kemudian seorang
ustadzah yang cukup saya kenal keluar dari ruangan menyambut dan menyapa
serta mempersilakan saya masuk.
Setelah duduk selanjutnya kami pun mulai berbincang dan saya bertanya,
Saya : “Ini ko sepi ust? Sudah pulang atau gimana?”
Ustadzah :”O..tidak mas, ini jam tidur…”
Saya : “O..gitu, saya kira sudah pulang atau libur tadi. Ustadzahnya berarti juga jam istirahat ya ust?”
Ustadzah :”Iya Mas, anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian Mas.”
Saya : “O.. gitu???”
Ada sebuah pernyataan ustadzah yang cukup menarik “…anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian…” Benar juga, barang kali anak-anak justru main sendiri-sendiri atau saling mengganggu satu sama lain jika tidak ditunggui sambil menemani dan mengajak tidur. Yah, maklumlah namanya juga anak-anak.
Coba, sekarang kita bandingkan saat kita menyuruh anak-anak kita belajar kemudian apa yang kita lakukan? Rasanya tidak pas ketika kita justru menonton TV bukan? Yah, minimal kita menemani sambil baca Koran (meskipun kadang korannya terbalik) untuk sekedar membuat anak kita berpikir bahwa kita juga sedang belajar sambil menunggu barangkali anak kita merasa kesulitan kemudian bertanya. Artinya, kita bukan sekedar menyuruh atau memerintah tetapi kita mengajak untuk melakukannya.
Saya : 100% Kak Wall
Setelah duduk selanjutnya kami pun mulai berbincang dan saya bertanya,
Saya : “Ini ko sepi ust? Sudah pulang atau gimana?”
Ustadzah :”O..tidak mas, ini jam tidur…”
Saya : “O..gitu, saya kira sudah pulang atau libur tadi. Ustadzahnya berarti juga jam istirahat ya ust?”
Ustadzah :”Iya Mas, anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian Mas.”
Saya : “O.. gitu???”
Ada sebuah pernyataan ustadzah yang cukup menarik “…anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian…” Benar juga, barang kali anak-anak justru main sendiri-sendiri atau saling mengganggu satu sama lain jika tidak ditunggui sambil menemani dan mengajak tidur. Yah, maklumlah namanya juga anak-anak.
Coba, sekarang kita bandingkan saat kita menyuruh anak-anak kita belajar kemudian apa yang kita lakukan? Rasanya tidak pas ketika kita justru menonton TV bukan? Yah, minimal kita menemani sambil baca Koran (meskipun kadang korannya terbalik) untuk sekedar membuat anak kita berpikir bahwa kita juga sedang belajar sambil menunggu barangkali anak kita merasa kesulitan kemudian bertanya. Artinya, kita bukan sekedar menyuruh atau memerintah tetapi kita mengajak untuk melakukannya.
Saya : 100% Kak Wall
Tips Mencari Ide Menulis
Assalamu’alaikum
wa rahmatullahi wa barakatuhu… Salam jumpa sahabat pembaca yang baik
hatinya. Adakah sama musim yang sedang sahabat nikmati ditempat sahabat
dengan musim yang ada disini? Berrrrrr… yah, menulis diiringi dengan
turunnya deras air hujan yang cukup membuat suasana bercampur aduk.
Senang ketika memikirkan petani yang mendapatkan air yang dapat meningkatkan
kesuburan tanamannya, tetapi juga sedih melihat sahabat-sahabat yang
lain yang sedang mendapatkan ujian berupa banjir. Namun bagaimanapun,
semua itu adalah nikmat yang wajib bagi kita mensyukurinya. Setuju?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, boleh curhat dikit kan? Terkadang, muncul rasa enggan dalam diri saya untuk menyapa sahabat dengan tulisan-tulisan saya. Yah, perasaan itu muncul lantaran saya merasa kehabisan ide tentang apa yang bisa saya kutipkan untuk sahabat pembaca semua. Terlebih ketika saya sudah mencoba berpikir keras tentang tema yang akan saya angkat, tetapi belum juga menemukannya. Ada kalanya saya mencari tema tentang hal-hal yang menurut saya WOW, tetapi ketika ide tak juga kunjung datang kembali lagi rasa enggan dan malas yang muncul. Padahal, sejatinya hal-hal sederhanapun bisa menjadi sesuatu yang (kata teman saya) Awesome banget.
“Lembar Mutaba’ah Pengalamanku.” Yupz, itulah salah satu yang mengembalikan semangat saya untuk setia menyapa sahabat pembaca semua. Apa sih itu? Baik, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menjadi Tim dalam sebuah Training untuk adik-adik di sebuah Sekolah Dasar. Nah, pada kesempatan itu, salah seorang Ustadz yang juga Kepala Sekolah disana meminta tim kami untuk mengapresiasi sebuah buku yang belum selesai proses editingnya dan rencananya akan segera dicetak. Kemudian saya membuka halaman demi halaman dan saya baca sekilas. Banyak judul dan cerita yang tertulis dalam buku itu, dari yang Lucu, Inspiratif, Unik, Menggelitik dan ada pula yang Mengharukan. Dan ketika membaca buku itu seolah saya kembali ke masa-masa kecil dulu. Kira-kira siapa penulis buku itu? Yupz, tepat sekali, mereka adalah Siswa-siswi dari sekolah itu, yang dengan kreatifnya menuangkan pengalaman-pengalaman pribadi mereka dalam sebuah tulisan yang akhirnya difasilitasi Sekolah menjadi sebuah buku yang diberikan Judul “Lembar Mutaba’ah Pengalamanku.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, dari buku itulah kemudian saya menyimpulkan bahwa ternyata apa saja bisa menjadi sebuah tema untuk kita belajar menulis. Seperti dalam buku itu, ada yang menuliskan tentang : Bermain Layang-Layang, Hujan-Hujan, Memancing di Sungai, Lomba Tahfidz, Membuat CupCake saat liburan, Menyantuni Bayi kurang Gizi, Kerja Bakti, Praktek Menyembelih Ayam, Dikejar Anjing dan lain sebagainya, yang kesemuanya ada dan tak jarang kita temui di sekitar kita bahkan kita lakukan sendiri. Dan meskipun sederhana, ternyata bisa menjadi sesuatu yang WOW ketika sudah menjadi sebuah tulisan, yah seperti yang dilakukan adik-adik di SD tadi.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin menarik juga ya kalau anak-anak atau adik-adik disekitar kita, kita ajarkan untuk belajar menulis seperti Siswa-siswi di Sekolah itu? So, sembari kita belajar bisa sekalian mengajarkan.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, boleh curhat dikit kan? Terkadang, muncul rasa enggan dalam diri saya untuk menyapa sahabat dengan tulisan-tulisan saya. Yah, perasaan itu muncul lantaran saya merasa kehabisan ide tentang apa yang bisa saya kutipkan untuk sahabat pembaca semua. Terlebih ketika saya sudah mencoba berpikir keras tentang tema yang akan saya angkat, tetapi belum juga menemukannya. Ada kalanya saya mencari tema tentang hal-hal yang menurut saya WOW, tetapi ketika ide tak juga kunjung datang kembali lagi rasa enggan dan malas yang muncul. Padahal, sejatinya hal-hal sederhanapun bisa menjadi sesuatu yang (kata teman saya) Awesome banget.
“Lembar Mutaba’ah Pengalamanku.” Yupz, itulah salah satu yang mengembalikan semangat saya untuk setia menyapa sahabat pembaca semua. Apa sih itu? Baik, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menjadi Tim dalam sebuah Training untuk adik-adik di sebuah Sekolah Dasar. Nah, pada kesempatan itu, salah seorang Ustadz yang juga Kepala Sekolah disana meminta tim kami untuk mengapresiasi sebuah buku yang belum selesai proses editingnya dan rencananya akan segera dicetak. Kemudian saya membuka halaman demi halaman dan saya baca sekilas. Banyak judul dan cerita yang tertulis dalam buku itu, dari yang Lucu, Inspiratif, Unik, Menggelitik dan ada pula yang Mengharukan. Dan ketika membaca buku itu seolah saya kembali ke masa-masa kecil dulu. Kira-kira siapa penulis buku itu? Yupz, tepat sekali, mereka adalah Siswa-siswi dari sekolah itu, yang dengan kreatifnya menuangkan pengalaman-pengalaman pribadi mereka dalam sebuah tulisan yang akhirnya difasilitasi Sekolah menjadi sebuah buku yang diberikan Judul “Lembar Mutaba’ah Pengalamanku.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, dari buku itulah kemudian saya menyimpulkan bahwa ternyata apa saja bisa menjadi sebuah tema untuk kita belajar menulis. Seperti dalam buku itu, ada yang menuliskan tentang : Bermain Layang-Layang, Hujan-Hujan, Memancing di Sungai, Lomba Tahfidz, Membuat CupCake saat liburan, Menyantuni Bayi kurang Gizi, Kerja Bakti, Praktek Menyembelih Ayam, Dikejar Anjing dan lain sebagainya, yang kesemuanya ada dan tak jarang kita temui di sekitar kita bahkan kita lakukan sendiri. Dan meskipun sederhana, ternyata bisa menjadi sesuatu yang WOW ketika sudah menjadi sebuah tulisan, yah seperti yang dilakukan adik-adik di SD tadi.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin menarik juga ya kalau anak-anak atau adik-adik disekitar kita, kita ajarkan untuk belajar menulis seperti Siswa-siswi di Sekolah itu? So, sembari kita belajar bisa sekalian mengajarkan.
Saya : 100% Kak Wall
Tips dan Rahasia Sukses Berbicara di Depan Orang Banyak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, Alhamdulillah saya bisa kembali
menyapa sahabat melalui tulisan sederhana yang ada harapan besar di
dalamnya untuk bisa menginspirasi khususnya untuk diri saya dan sahabat
pembaca semuanya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya dikejutkan dengan sebuah jempol (Like) yang terlontar untuk tulisan saya. Pasalnya, tulisan itu belum genap satu menit saya unggah ke social media. Padahal, menurut saya butuh 2-3 menit untuk membaca catatan itu dari awal sampai selesai. Lalu, iseng-iseng saya tanya ke sahabat yang memberikan jemponya itu, “Kok udah kasih jempol? Emang udah dibaca?” kemudian dibalaslah dengan kata-kata “Udah, depan sama belakangnya tok. hahaha”
Terlepas dari bercanda atau serius jawaban itu, namun ada sebuah hal yang cukup menarik disana. Yups, seperti ada sebuah ungkapan “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.” Dalam sebuah pelatihan mendongeng yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu, Trainer yang memberikan materi dalam forum itu bercerta tentang berbagai kasus pendongeng-pendongeng yang gagal memberikan dan menyampaikan materi yang bahkan sudah disiapkan secara rinci sebelumnya. Dan konon, sebagian besar dari kegagalan itu bermula karena sang Pendongeng tidak bisa menarik perhatian audiens di awal ia tampil, sehingga audiens pun tidak merasa ingin memperhatikan sampai di akhir ia bercerita. Trainer itu pun memberikan kesimpulan skaligus Tips bahwa ketika kita berbicara didepan umum, entah ceramah, ngajar di kelas, ngajar TPA, ataupun yang lainnya, maka 3 menit pertama itu sangat menentukan, jadi sebisa mungkin tampilkan atau berikan sesuatu yang tidak hanya cukup, tapi sangat menarik.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, hal serupa? Atau mungkin seorang guru yang kurang berwibawa dihadapan murid-muridnya? Nah, hal itu terjadi bukan tidak mungkin karena kesalahan ketika pertama kali menghadapi murid-muridnya. Bisa jadi terlalu banyak bercanda, atau tidak menghiraukan siswa yang tidak tertib dan lain sebagainya.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, merupakan hal yang wajib bagi setiap kita dalam berbicara di depan umum untuk dapat menarik perhatian audiens yang ada, dengan berbagai macam cara yang bisa dilakukan yang tentunya berkesan. Tetapi juga tidak serta merta cukup itu saja, melainkan isi yang kita sampaikan pun juga harus materi yang benar-benar kita siapkan. Sehingga, audienspun juga mendapatkan sesuatu yang berharga. Eit’s, masih ada lagi ternyata. Yups, closing. Kesan terakhir akan membuat materi yang kita sampaikan terngiang atau tidaknya dalam benak audiens. Sebagai penutup tulisan ini, ada sebuah lelucon yang sempat terlontar dalam pelatihan yang saya ceritakan di atas, “Ketika kesan pertama begitu menggoda, maka peserta akan memperhatikannya. Ketika penutupan begitu menawan, maka panitia akan kembali mengundang.” Sekian.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya dikejutkan dengan sebuah jempol (Like) yang terlontar untuk tulisan saya. Pasalnya, tulisan itu belum genap satu menit saya unggah ke social media. Padahal, menurut saya butuh 2-3 menit untuk membaca catatan itu dari awal sampai selesai. Lalu, iseng-iseng saya tanya ke sahabat yang memberikan jemponya itu, “Kok udah kasih jempol? Emang udah dibaca?” kemudian dibalaslah dengan kata-kata “Udah, depan sama belakangnya tok. hahaha”
Terlepas dari bercanda atau serius jawaban itu, namun ada sebuah hal yang cukup menarik disana. Yups, seperti ada sebuah ungkapan “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.” Dalam sebuah pelatihan mendongeng yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu, Trainer yang memberikan materi dalam forum itu bercerta tentang berbagai kasus pendongeng-pendongeng yang gagal memberikan dan menyampaikan materi yang bahkan sudah disiapkan secara rinci sebelumnya. Dan konon, sebagian besar dari kegagalan itu bermula karena sang Pendongeng tidak bisa menarik perhatian audiens di awal ia tampil, sehingga audiens pun tidak merasa ingin memperhatikan sampai di akhir ia bercerita. Trainer itu pun memberikan kesimpulan skaligus Tips bahwa ketika kita berbicara didepan umum, entah ceramah, ngajar di kelas, ngajar TPA, ataupun yang lainnya, maka 3 menit pertama itu sangat menentukan, jadi sebisa mungkin tampilkan atau berikan sesuatu yang tidak hanya cukup, tapi sangat menarik.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, hal serupa? Atau mungkin seorang guru yang kurang berwibawa dihadapan murid-muridnya? Nah, hal itu terjadi bukan tidak mungkin karena kesalahan ketika pertama kali menghadapi murid-muridnya. Bisa jadi terlalu banyak bercanda, atau tidak menghiraukan siswa yang tidak tertib dan lain sebagainya.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, merupakan hal yang wajib bagi setiap kita dalam berbicara di depan umum untuk dapat menarik perhatian audiens yang ada, dengan berbagai macam cara yang bisa dilakukan yang tentunya berkesan. Tetapi juga tidak serta merta cukup itu saja, melainkan isi yang kita sampaikan pun juga harus materi yang benar-benar kita siapkan. Sehingga, audienspun juga mendapatkan sesuatu yang berharga. Eit’s, masih ada lagi ternyata. Yups, closing. Kesan terakhir akan membuat materi yang kita sampaikan terngiang atau tidaknya dalam benak audiens. Sebagai penutup tulisan ini, ada sebuah lelucon yang sempat terlontar dalam pelatihan yang saya ceritakan di atas, “Ketika kesan pertama begitu menggoda, maka peserta akan memperhatikannya. Ketika penutupan begitu menawan, maka panitia akan kembali mengundang.” Sekian.
Saya : 100% Kak Wall
Gosip Jalanan : Mengamati Tulisan di Body Truk
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Sahabat, pernahkah sahabat
berpergian dan bertemu dengan banyak kendaraan, terutama truk dan
memperhatikannya? Yah, mungkin ketika kita memperhatikan dengan detail,
terkadang ada hal-hal lucu, unik dan juga menginspirasi dari sebuah
bagian yang ada di kendaraan-kendaraan itu.
Apa itu? Yupz, coba kita perhatikan tulisan-tulisan yang ada di sana, biasanya ada di bagian belakang kendaraan itu. Bermacam-macam pokoknya, misalnya : “Berangkat Karena Tugas, Pulang Karena Beras” atau “New Coopy (maksudnya nyukupi)” atau “Kadung Tresna wis tau Anyar (Terlanjur cinta udah pernah baru)” dan lain sebagainya.
Ada yang cukup menarik perhatian saya hari ini yaitu sebuah tulisan di bagian belakang kendaraan yang sempat terjebak macet bersama saya hari ini, kata-kata tersebut berbunyi “Pulang Malu Gak Pulang Rindu.” Yah, ini barang kali menggambarkan potret seorang kepala keluarga yang belum merasa berhasil memberikan kebahagiaan materi untuk anak-istrinya. Hemmm....
Sahabat pembaca yang baik hatinya, materi memang dibutuhkan dalam kita menjalani hidup di dunia ini. Tetapi, menjadi tidak baik ketika kurangnya hal itu menjadi penghalang bagi kita untuk menjadikan keluarga kita sebagai tempat bersandar ketika kita lelah, atau tempat mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang kita. Begitu juga sebaliknya ketika sahabat menjadi istri atau seorang anak, tidak seharusnya menganggap seorang suami atau ayah tidak berguna ketika dia tidak bisa memberikan kelapangan materi.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita tanamkan sejak dini dalam keluarga kita, bagaimana saling mengasihi, saling menghormati dan saling menghargai setiap usaha yang dilakukan dari masing-masing anggota keluarga kita, tidak ada yang tidak berguna, sekecil apapun yang dilakukan, pasti mempunyai andil yang penting. So, mari kita ganti kata-katanya “Gak Pulang Dinanti, Pulang Disayangi.” Hihihi
Saya : 100% Kak Wall
Apa itu? Yupz, coba kita perhatikan tulisan-tulisan yang ada di sana, biasanya ada di bagian belakang kendaraan itu. Bermacam-macam pokoknya, misalnya : “Berangkat Karena Tugas, Pulang Karena Beras” atau “New Coopy (maksudnya nyukupi)” atau “Kadung Tresna wis tau Anyar (Terlanjur cinta udah pernah baru)” dan lain sebagainya.
Ada yang cukup menarik perhatian saya hari ini yaitu sebuah tulisan di bagian belakang kendaraan yang sempat terjebak macet bersama saya hari ini, kata-kata tersebut berbunyi “Pulang Malu Gak Pulang Rindu.” Yah, ini barang kali menggambarkan potret seorang kepala keluarga yang belum merasa berhasil memberikan kebahagiaan materi untuk anak-istrinya. Hemmm....
Sahabat pembaca yang baik hatinya, materi memang dibutuhkan dalam kita menjalani hidup di dunia ini. Tetapi, menjadi tidak baik ketika kurangnya hal itu menjadi penghalang bagi kita untuk menjadikan keluarga kita sebagai tempat bersandar ketika kita lelah, atau tempat mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang kita. Begitu juga sebaliknya ketika sahabat menjadi istri atau seorang anak, tidak seharusnya menganggap seorang suami atau ayah tidak berguna ketika dia tidak bisa memberikan kelapangan materi.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita tanamkan sejak dini dalam keluarga kita, bagaimana saling mengasihi, saling menghormati dan saling menghargai setiap usaha yang dilakukan dari masing-masing anggota keluarga kita, tidak ada yang tidak berguna, sekecil apapun yang dilakukan, pasti mempunyai andil yang penting. So, mari kita ganti kata-katanya “Gak Pulang Dinanti, Pulang Disayangi.” Hihihi
Saya : 100% Kak Wall
Pengaruh Suasana Belajar bagi Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Beberapa hari yang lalu saya
berkunjung ke tempat saudara untuk sebuah keperluan. Setelah saya
selesai menyampaikan maksud dan tujuan utama saya, kami berbincang
tentang hal yang lain. Salah satunya kami berbincang tentang sekolah
sepupu saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar yang berada lumayan
jauh dari pusat kota tempat saudara saya tinggal.
Saudara saya ini ingin anak-anaknya maju didalam urusan agama atau pengetahuan agamanya, makanya disekolahkanlah sepupu saya itu di sekolah yang berbackground Islam. Salah satu alasan kenapa dipilihkan sekolah yang letaknya didaerah yang jauh dari kota adalah kebiasaan sepupu saya itu. Nah, kurang lebih seperti ini kata-kata saudara saya tentang anaknya itu “Jadi to mas si Mufli (Nama sepupu saya) ini, dulu pas masih TK sering diajak bapaknya pergi kemana-mana. Nah, ada perbedaan ketika dia diajak pergi ke daerah kota sama ke daerah yang melewati sawah-sawah misalnya pas mau ke tempat embahnya. Kalau dia itu diajak pergi ke daerah kota-kota gitu, pas di jalan dia Cuma diam aja, paling liat kiri kanan, kalau gak ya tidur. Tapi kalau lewatnya di daerah yang alam gitu, misalnya sawah, lihat sungai-sungai gitu atau yang lainnya dia jadi berubah, jadi aktif ngomong. Tahu gak mas apa yang diucapkannya? Dia kalau pas dijalan gitu bisa nerocos hafalin surat-surat pendek yang diajarin di sekolah mas. Makanya SDnya tak pilihkan sana (edit) dan Alhamdulillah kebiasaanya itu masih berlanjut sampai sekarang.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, saya terinspirasi dari cerita saudara saya itu, ternyata suasana belajar yang didapatkan anak itu sangat berpengaruh pada semangat dan juga kemauan anak untuk belajar. Dan menurut saya saudara saya itu cukup tanggap dengan suasana belajar yang dibutuhkan si anak yang disimpulkannya sendiri bahwa si anak ini lebih cocok belajar dengan suasana seperti di sekolanya saat ini yang cukup tenang dan suguhan yang ada disekitar sekolanya pun juga sangat menyegarkan mata dan jauh dari kebisingan suasana kota.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, alangkah bahagianya anak-anak kita ketika ia mendapatkan suasana belajar seperti yang ia butuhkan, bukan hanya bahagia tetapi juga semangatnyapun tentu akan lebih besar. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari, kita pelajari dan kita amati kebutuhan suasana belajar untuk anak-anak kita dan semaksimal mungkin kita berikan suasana itu, tentunya yang masih dalam batas kewajaran dan itu baik lho yaaa?
Saya : 100% Kak Wall
Saudara saya ini ingin anak-anaknya maju didalam urusan agama atau pengetahuan agamanya, makanya disekolahkanlah sepupu saya itu di sekolah yang berbackground Islam. Salah satu alasan kenapa dipilihkan sekolah yang letaknya didaerah yang jauh dari kota adalah kebiasaan sepupu saya itu. Nah, kurang lebih seperti ini kata-kata saudara saya tentang anaknya itu “Jadi to mas si Mufli (Nama sepupu saya) ini, dulu pas masih TK sering diajak bapaknya pergi kemana-mana. Nah, ada perbedaan ketika dia diajak pergi ke daerah kota sama ke daerah yang melewati sawah-sawah misalnya pas mau ke tempat embahnya. Kalau dia itu diajak pergi ke daerah kota-kota gitu, pas di jalan dia Cuma diam aja, paling liat kiri kanan, kalau gak ya tidur. Tapi kalau lewatnya di daerah yang alam gitu, misalnya sawah, lihat sungai-sungai gitu atau yang lainnya dia jadi berubah, jadi aktif ngomong. Tahu gak mas apa yang diucapkannya? Dia kalau pas dijalan gitu bisa nerocos hafalin surat-surat pendek yang diajarin di sekolah mas. Makanya SDnya tak pilihkan sana (edit) dan Alhamdulillah kebiasaanya itu masih berlanjut sampai sekarang.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, saya terinspirasi dari cerita saudara saya itu, ternyata suasana belajar yang didapatkan anak itu sangat berpengaruh pada semangat dan juga kemauan anak untuk belajar. Dan menurut saya saudara saya itu cukup tanggap dengan suasana belajar yang dibutuhkan si anak yang disimpulkannya sendiri bahwa si anak ini lebih cocok belajar dengan suasana seperti di sekolanya saat ini yang cukup tenang dan suguhan yang ada disekitar sekolanya pun juga sangat menyegarkan mata dan jauh dari kebisingan suasana kota.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, alangkah bahagianya anak-anak kita ketika ia mendapatkan suasana belajar seperti yang ia butuhkan, bukan hanya bahagia tetapi juga semangatnyapun tentu akan lebih besar. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari, kita pelajari dan kita amati kebutuhan suasana belajar untuk anak-anak kita dan semaksimal mungkin kita berikan suasana itu, tentunya yang masih dalam batas kewajaran dan itu baik lho yaaa?
Saya : 100% Kak Wall



















