Orang Tua Sibuk, Anak Lupa Ayah Ibu
Assalamu’alaikum, sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaiman kabar sahabat hari ini? Tetap sehat? Tetap semangat? Salam Olah Raga. (Lho…hehehe)
Kalo lihat judulnya serem yah? Wuis,,,apa-apaan itu judul??? Eits, tunggu dulu, barang kali perlu disimak dulu ilustrasi yang akan saya sampaikan dalam cerita singkat berikut ini.
”Ada sebuah keluarga dimana di dalamnya terdapat sepasang orang tua dan seorang anak laki-laki dan juga seorang pembantu. Sepasang orang tua dalam keluarga itu masing-masing adalah pengusaha yang sangat sibuk. Sang ayah pengusaha di luar Pulau yang hanya pulang setahun sekali. Dan sang ibu pengusaha butik yang setiap harinya bekerja sedari pagi petang dan pulang malam hari. Tak jarang sang ibu tidak pulang ke rumah karena harus mengurusi outlet-outletnya yang ada di luar kota. Sehingga si anak jarang sekali bertemu dengan kedua orang tuanya, dan kesehariannya di rumah, si anak hanya tinggal dengan seorang pembantu yang juga mengasuhnya sejak kecil. Sang ibu ketika hendak berangkat kerja hanya berpesan “Mbak, nanti tolong Kiki (nama si anak) diurusi ya? Sama tolong nanti kalo sudah saatnya siap-siap ke sekolah dibangunin” dan kalo sepulang kerja hanya kalimat “Kiki sudah tidur kan mbak?” yang sering diucapkan.
Suatu ketika, si anak sedang mengikuti pelajaran di sekolahnya. Waktu itu hari pertama masuk sekolah SD setelah sebelumnya baru saja lulus dari TK. Adalah Bu Ratna, Guru kelas itu.
Bu Ratna : “Anak-anak, sekarang ibu akan memanggil satu persatu dari kalian, dan tugas kalian di depan adalah menceritakan diri kalian dan kedua orang tua kalian. Kalian paham?”
Murid : “Ya bu,,, kami paham…”
Bu Ratna : “Baik, sekarang siapa yang namanya Andien, maju ke depan!”
Andien : “Namaku Andien, orang Pak Adi dan Bu Ayu…………” (Andien menceritakan panjang lebar tentang keluarganya)
Bu Ratna : “Bagus Sekali. Sekarang Kiki. Mana Kiki? Majulah Nak…”
Kiki : “Saya Bu.”
Bu Ratna : “Baik Silakan”
Kiki : “Namaku Radika Al Farizki, dipanggil Kiki. Kata Mbak Mimin Pembatu dirumahku, Ayahku seorang pengusaha di Kalimantan, dan Ibuku pengusaha pakaian. Nama Ayahku Tuan dan Ibuku Nyonya, itu kata Mbak Mimin Juga. Terus Mbak Mimin bilang Ayahku itu pulangnya setiap lebaran dan aku sudah lupa wajahnya dan aku juga jarang bertemu ibu, soalnya ibuku perginya pagi-pagiii sekali dan kalau pulang pasti aku sudah tidur. Aku ingiin sekali bertemu mereka, aku ingi seperti Andien tadi, diajak bermain, dipeluk, diajak jalan-jalan, pasti menyenangkan. Tapi kapan? Aku ingin sekali…(si anak ini terus bercerita sambil menangis)”
Bu Ratna : “Terimah kasih Nak…duduklah kembali. (sambil mengusap air mata) Apakah kamu sudah bisa menulis?”
Kiki : “Sudah Bu.”
Bu Ratna : “Baik, Tulislah keinginanmu-keinginanmu itu sekarang, nanti Ibu akan kirim surat ke orang tuamu.”
Kiki :”Ya Bu…”
Singkat cerita, usaha Bu Ratna ternyata berhasil, Kedua orang tua Kiki tersadar. Tapi, apa yang terjadi ketika pertama kali Ayah dan Ibu Kiki menemui Kiki secara bersamaan? “Mah, Ohm ini siapa? Suaminya Mbak Mimin ya?” Itu pertanyaan yang terlontar pertama kali. Hemmmm…
Ilustrasi di atas ironis memang, tak seperti kebanyakan anak yang pada kewajarannya sudah bisa mengenali siapa orang tuanya, bahkan anak BATITA pun sudah bisa membedakan mana orang tuanya dan mana yang bukan. Tapi tidak dengan Kiki, karena tak pernah bertemu dengan orang tua, sampai-sampai tidak mengenali siapa Ayahnya. Ayah dan Ibu Kiki ini hanya mengutamakan pekerjaan dan berprinsip “Kebutuhan keluarga (uang) harus dinomor satukan” dan terlihat akibatnya.
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin di sekeliling kita atau bahkan diri kita sendiri mempunyai permasalahan yang hampir sama, meskipun tak seekstrim itu. Tapi pada dasarnya, kesibukan duniawi yang kita jalani terkadang bahkan sering merampas hak-hak anak kita. Tak jarang anak merasa haus kasih sayang dari orang tuanya karena kesibukan itu, yang akibatnya si anak mencari pelampiasan yang lain yang tak jarang pula ke arah yang negative dan berakibat fatal. Kalau sudah seperti itu, biasanya orang tua akan saling menyalahkan (kayak di tipi-tipi).
Nah, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, Apa kita harus menunggu sampai terjadi seperti itu? Insya’ Allah semua sepakat untuk menjawab TIDAK bukan? Yupz, sesibuk apapun kekiatan kita, amanah kita, tapi jangan sampai kita melupakan hak-hak anak, terlebih sampai anak kita kehilangan kasih sayang kita. Mau ditaruh di mana muka kita di Akhirat?
Saya : 100% Kak Wall
Tegas dan Konsisten
Assalamu’alaikum sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya. Menyapa hari yang indah ini, saya akan sedikit bercerita untuk sahabat semuanya. Begini ceritanya,
“Suatu hari seorang ayah menasehati anaknya untuk belajar. Memang kesehariannya si anak kurang senang belajar, sehingga sang bapak harus tiap hari menyuruh untuk belajar. Tak jarang sang bapak harus memarahi si anak agar mau belajar.
Bapak : “Nak, kamu itu harus rajin belajar, mau jadi apa nanti? Lihat! Bapak sering dipanggil ke sekolah sama guru kamu gara-gara nilai kamu jelek semua.”
Anak : “Iya..iya..nanti juga belajar. (dengan nada ketus)”
Bapak : “Sekarang gini, bapak akan kurangi jam nonton TVmu, mulai jam 6 sore, sudah tidak boleh lagi ada TV nyala dan kamu harus belar. Titik.”
Anak : “Iyaaaaa…(sedikit ngambeg)”
Suatu sore si anak nonton TV sejak siang pulang sekolah, lewat jam 6 sore TV masih menyala dan sang bapak yang mengetahui hanya membiarkan saja. Lewat ‘Isya’ juga masih nonton TV si anak ini, tapi lagi-lagi sang bapak tidak menegurnya, sampai sia anak ini sendiri mematikannya karena sudah mengantuk dan akan tidur. Si anak menggumam,
Anak : “O…ternyata bapak hanya menggertakku, buktinya masih bisa nonton TV sampai malam.”
Pikiran itu semakin mendorong si anak untuk semakin rajin (nonton TV), bahkan ketika sang ayah marah dan mengatakan yang lain,
Bapak : “Kalau kamu tidak mau belajar, TVnya akan bapak jual.”
Anak :”Iya… (paling Cuma gertak lagi, pikir si anak)”
Dan benar saja, larangan itu tak pernah jadi kenyataan meskipun berkali-kali si anak melanggarnya. Dan semakin hari si anak semakin kebal dengan gertakan-gertakan seperti itu tanpa pernah mengindahkan.”
Nah, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, Sebagai orang tua, kadang ketika kita merasa tidak didengar, kita sering mengeluarkan gertakan-gertakan seperti halnya cerita di atas. Apa tidak boleh? Pada dasarnya boleh saja kalau itu jalan trakhir yang harus ditempuh ketika iming-iming mainan, liburan, sepeda baru atau yang lain sudah tidak digubris lagi. Asaaaalllll, kita juga konsisten dengan gertakan itu. Kalo memang melanggar, ya seharusnya apa yang dijanjikan juga dilakukan. Misal, cerita di atas, harusnya sang bapak benar-benar menjual TVnya agar anak tidak berpikir itu hanya gertak sambal dan kebohongan semata. Tapi, dalam memberikan hal seperti itu juga haruslah hal-hal yang tidak melanggar Syar’I dan juga tidak merugikan tetapi berkesan. Misal, seperti tadi, TV benar-benar dijual. Sehingga anak akan berpikir “O…berarti kalau bapak/ibuku ngomong gitu tu beneran” kurang lebih seperti itu.
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, sering kita memberikan nasehat tegas untuk anak-anak kita, tapi, kita tidak pernah konsisten dengan teguran itu, sehingga sering menjadikan anak tidak mengindahkan lagi meskipun kita tegas menasehatinya. Maka dari itu sahabat pembaca yang baik hatinya, TEGAS saja tidak cukup KONSISTEN akan melengkapinya. Sekian semoga bermanfaat.
Menanamkan Ethos Pada Anak
Assalamu’alaikum, sahabat-sahabat pembaca yang baik haitinya, bagaimana kabar hari ini? Masih selalu semangat? Semoga tetap dan selalu serta senantiasa menjaga semangat dalam diri untuk terus mengoptimalkan segala anugerah potensi yang telah diberikan Allah untuk memakmurkan Bumi-Nya ini. Aamiin…
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, kenapa saya menanyakan semangat? Yupz, sesuai judul di atas, yaitu tentang Ethos. Apa sih ethos itu? Yupz, ethos bisa diartikan sebagai Spirit atau semangat dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku hidup yang khas dan unggul, seperti : rajin, semangat, teliti, tekun, kerja keras, ulet, bertanggung jawab, menghargai waktu, hemat, efisien dll.
Nah, bagaimana kita menanamkan ethos untuk anak-anak kita? Sudah sejauh apakah? Sebenarnya tulisan ini masih berkaitan erat dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, yaitu tentang Mendidik dengan Cerita. Nah, salah salah satu cara membentuk ethos atau mendidik dan menanamkan ethos pada anak yaitu dengan bercerita.
Di berbagai Negara, berkembang ethos yang sampai saat ini sangat terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia bahkan ketika istilah itu disebut, maka yang mendengar langsung dapat mengetahui Negara mana yang dimaksud. Sebagai contoh :
1. Ethos Panzer
Ethos ini mengajarkan Berpikir Ilmiah, Bertindak Rasional, Berdisiplin Tinggi, Rajin Tekun Bekerja Keras, Berorientasi Kepada Sukses Material, Tidak Umbar Kesenangan, Anti Pemborosan, Hemat Bersahaja, Menabung dan Investasi.
2. Ethos Ginseng
Ethos ini mengajarkan Rajin bekerja, Hemat, Menabung, Mandiri Berdikari, Kerjasama, Mengutamakan Pendidikan
3. Ethos Samurai
Untuk ini ada beberapa istilah, GI : Bersikap Benar dan Bertanggung Jawab, YU : Berani dan Ksatria, JIN : Murah Hati dan Mencintai, REI : Bersikap Santun dan Hormat, MAKOTO : Tulus dan Bersungguh-Sungguh, MELYO : Menjaga Martabat dan Kehormatan, CHUGO : Mengabdi dan Loyal.
Nah, itu tadi sahabat pembaca yang baik hatinya, berbagai contoh istilah ethos yang terbangun di berbagai Negara. Pertanyaannya ethos apa yang terbagun di negeri ini? Atau minimal ethos apa yang sudah kita tanamkan kepada anak-anak kita? Hemmm,,,mari kita jawab dalam diri kita masing-masing. Semoga ethos-ethos Qur’ani dan Nabawi yang sudah kita tanamkan dalan diri anak-anak kita, dan semoga terhindar dari ethos-ethos Syaithoni. Aamiin… Sekian, semoga Bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall. Salam Semangat.
Ajarkan Untuk Memilih
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar hari ini? Secerah hari ini kah? Semoga demikian. Senantiasa bergembira menunaikan amanah-amanah kita.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, hari ini saya akan sedikit melanjutkan tulisan saya tentang mendidik dengan metode cerita. Yang kemarin sudah saya sampaikan tentang relevansi metode ini ditengah perkembangan jaman dan teknologi yang ada saat ini, yang ujungnya adalah kita kembalikan kepada kitab pedoman utama hidup ini yaitu Al Qur’an.
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, di dalam Al Qur’an, kita banyak dididik dengan berbagai macam kisah yang ada di dalamnya. Nah, di dalam kisah-kisah itu, secara garis besar manusia dapat digolongkan menjadi 3 golongan. Apakah 3 golongan itu? Nah, ini dia yang akan kita bahas dalam tulisan ini. Anak-anak kita, tentunya akan menangkap apa-apa saja yang kita ajarkan kepadanya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian dari yang kita ajarkan tersebut. Termasuk disaat kita memberikan cerita kepada anak-anak kita. Dari sinilah bisa kita masukkan nilai-nilai dari ketiga golongan yang dikisahkan dalam Al Qur’an. Ketiga golongan itu adalah Pertama, Golongan orang-orang yang muttaqin. Kedua, Golongan orang Kafir dan ketiga golongan orang munafik, dengan masing-masing kisah yang bisa kita ambil dari berbagai ayat dalam Al Qur’an.
Dalam setiap kita menyampaikan cerita kepada anak-anak kita, tentu kita berharap hanya sifat baik saja yang dicontoh oleh anak-anak kita. Lalu pertanyaannya, apakah kita hanya boleh bercerita tentang orang-orang yang muttaqin saja kepada anak-anak kita agar mereka meneladani tokoh-tokoh di dalamnya? Tentu saja tidak, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kita mengimani Al Qur’an sebagai kita pedoman hidup kita, maka kita juga hendaklah mengimani apa-apa yang ada di dalamnya, termasuk kisah-kisah di dalamnya. Padahal seperti yang tertulis di atas, dalam Al Qur’an ada kisah-kisah tentang 3 Golongan tadi. “Sampaikan walau satu ayat!” Sering mendengar ini bukan? Naaa,,, dari situ bisa kita ambil pelajaran bahwa tidak ada batasan hanya boleh menceritakan tentang golongan muttaqin saja, melainkan tentang kemunafikan dan juga kekafiran hendaklah diceritakan juga, justru dari sanalah anak kita ajarkan untuk memilah dan memilih sifat-sifat mana yang harus diteladani dan mana yang harus dihindari. Sekian Semoga bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall. Salam Cerita, Salam Ceria.
Hari Gini Mendidik Dengan Cerita? Why Not?
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat hari ini? Semoga senantiasa ceria selalu. Lho, kenapa harus ceria? Yupz, dengan ceria, Insya’ Allah jadi makin semangat kita menjalankan amanah-amanah kita di muka bumi ini. Dan tentunya, siapapun yang kita temui juga akan senang dengan ekspresi ceria kita kan?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, kemarin saya sempat menjadi narasumber dalam sebuah acara dialog di sebuah stasiun radio, dalam acara itu saya membawakan tema tentang mendidik dengan bercerita. Nah, dalam acara tersebut ada seorang bapak yang bertanya “Di tengah perkembangan teknologi yang makin maju seperti saat ini, apakah masih Relevan mendidik dengan metode Cerita? Padahal anak-anak sekarang mainannya sudah GadGet, Laptop, Android, game On Line dll.” Bagi saya pertanyaan ini cukup menarik, karena bisa jadi ini memang mewakili pertanyaan pertanyaan mayoritas dari kita.
Sahabat pemabaca yang baik hatinya, seperti yang kita ketahui perkembangan teknologi saat ini memang sangat pesat adanya. Yang siapa saja dapat menikmati, tidak pandang dari anak-anak sampai dewasa. Maka, wajar saja kalau orang tua ataupun pendidik mempertanyakan “Apakan masih relevan mendidik dengan cerita dikala mereka harus bersaing dengan berbagai macam benda-benda yang hebat dan menarik untuk anak?” Sahabat pembaca yang baik hatinya, satu sisi perkembangan yang pesat tentang teknologi memang sangat menguntungkan, tapi disisi lain akan menimbulkan dampak yang negative disaat kurang tepat menggunakannya. Untuk masalah ini tentu sudah banyak kita ketahui.
Kembali ke pokok pembahasan kita tentang relevansi cerita untuk jaman sekarang ini. Ada sebuah jawaban sederhan untuk menjawab pertanyaan itu. Bagi seorang Muslim, sudah sebuah keharusan untuk megimani Al Qur’an, bahkan itu merupakan salah satu dari pada Rukun Iman. Nah, kalau kita beriman kepada Al Qur’an, tentu saja kita juga harus beriman dengan apa-apa saja yang ada dan terkandung di dalamnya bukan? Padahal menurut para ahli ada kurang lebih 300 ayat dalam Al Qur’an yang berisi kisah atau cerita. Pertanyaannya sekarang “Apakah Al Qur’an pernah kehilangan Relevansi dalam pendidikan atau dalam kehidupan ini?” Tentu saja semua sepakat untuk menjawab TIDAK. Karena memang Al Qur’an dari setelah diturunkan hingga saat ini merupakan Kitab Terbaik untuk mendidik dan Insya’Allah hingga akhir Jaman nantinya.
Nah, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, jadi kesimpulannya mendidik dengan cerita akan sangat relevan ditengah perkembangan jaman/ teknologi saat ini. Terlebih jika kita menghayati tentang manfaat ataupun kekuatan dari bercerita itu sendiri (seperti di tulisan saya sebelumnya). Dan sebenarnya, teknologi yang ada saat ini jika kita mau kreatif, justru bisa kita manfaatkan dalam pendidikan melalui media cerita itu sendiri. Tetapi ada satu PR bagi kita yaitu bagaimana kita mengkreasiakan cerita-cerita yang kita gunakan untuk media pendidikan itu menjadi sesuatu yang lebih menarik dibandingkan dengan aneka benda-benda elektronik yang semakin canggih saat ini. Semoga bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall. Salam Ceria.




