Nama Yang Baik Untuk Do'a Yang Baik
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, senang rasanya ketika bisa kembali
menyapa sahabat melalui siratan kata-kata yang penuh harap membawa
hikmah dan manfaat nantinya. Aamiin.
Sahabat pembaca yang baik hatinya bolehkah saya bertanya “Siapakah nama sahabat?” Kenapa saya bertanya nama? Yupz, pagi ini saya disibukkan oleh sebuah buku yang menarik dan mempengaruhi saya untuk membaca sebuah Bab di dalamnya, yaitu tentang hak seorang anak atas orang tuanya. Nah salah satunya adalah tentang do’a orang tua untuk anak. Trus apa hubungannya dengan nama? Baik, sedikit saya akan mengingatkan penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti di Jepang yang bernama Dr. Masaru Emoto yang menyimpulkan bahwa kristal air mampu mendengar dan merespon apa yang didengarkannya, baik akan berubah menjadi Kristal air yang sangat indah ataupun sebaliknya. Padahal, secara teori lebih dari 70% dari tubuh manusia terdiri dari cairan, maka apa yang sering didengar oleh setiap manusia akan mempengaruhi Kristal air di dalam dirinya.
Masih belum nyambung juga dengan nama? Baik, kita lanjutkan. Nama adalah salah satu kata yang paling sering diucapkan orang tua ke anak? Tentunya karena dengan nama itulah orang tua memanggil anak. Dan tentunya tidak berhenti di orang tua kan? Siapapun juga akan memanggil dengan nama itu. Nah, kesimpulannya jika orang tua memberikan nama yang baik, maka anak akan mendengarkan kata-kata panggilan yang baik ketika setiap orang memanggilnya, dan tentunya sebaliknya. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, nama adalah sebuah do’a, maka, memberikan nama yang baik untuk anak sama artinya dengan mendoakan kebaikan untuk anak disetiap harinya.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya bolehkah saya bertanya “Siapakah nama sahabat?” Kenapa saya bertanya nama? Yupz, pagi ini saya disibukkan oleh sebuah buku yang menarik dan mempengaruhi saya untuk membaca sebuah Bab di dalamnya, yaitu tentang hak seorang anak atas orang tuanya. Nah salah satunya adalah tentang do’a orang tua untuk anak. Trus apa hubungannya dengan nama? Baik, sedikit saya akan mengingatkan penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti di Jepang yang bernama Dr. Masaru Emoto yang menyimpulkan bahwa kristal air mampu mendengar dan merespon apa yang didengarkannya, baik akan berubah menjadi Kristal air yang sangat indah ataupun sebaliknya. Padahal, secara teori lebih dari 70% dari tubuh manusia terdiri dari cairan, maka apa yang sering didengar oleh setiap manusia akan mempengaruhi Kristal air di dalam dirinya.
Masih belum nyambung juga dengan nama? Baik, kita lanjutkan. Nama adalah salah satu kata yang paling sering diucapkan orang tua ke anak? Tentunya karena dengan nama itulah orang tua memanggil anak. Dan tentunya tidak berhenti di orang tua kan? Siapapun juga akan memanggil dengan nama itu. Nah, kesimpulannya jika orang tua memberikan nama yang baik, maka anak akan mendengarkan kata-kata panggilan yang baik ketika setiap orang memanggilnya, dan tentunya sebaliknya. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, nama adalah sebuah do’a, maka, memberikan nama yang baik untuk anak sama artinya dengan mendoakan kebaikan untuk anak disetiap harinya.
Saya : 100% Kak Wall
Perhatikan Istilah Dalam Mendidik Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, hari ini saya baru saja selesai
menjadi anggota tim kegiatan Out Bond. Dan saya berkesempatan memandu
sebuah permainan yang cukup menarik. Dalam permainan itu saya
menginstruksikan peserta untuk menjatuhkan sasaran sebanyak mungkin
dengan cara menggulirkan/ menggelindingkan bola sampai mengenai sasaran
dengan jarak yang saya tentukan
sebelumnya.
Eits, tapi tidak sesederhana itu, cara menggelindingkannya tidak hanya dengan tangan lho, tapi ada yang menggunakan kaki. Nah, dari situlah mulai ada celotehan dari peserta setelah mereka mndapatkan undian dengan anggota gerak yang mana mereka akan melempar. Ada yang berkata “Aaaahhhh ko tangan kiri sih?”, “Yes, tangan kanan.” Kalau yang putra “Yes, dapat kaki kanan” mungkin sering sepak bola, tapi ada juga yang bilang “Kalau kaki kiri kan gak bisaaaa…” dan masih banyak lagi teriakan-teriakan yang mereka lontarkan.
Beberapa saat kemudian tiba giliran mereka melempatkan satu per satu mulai dari yang mendapatkan cara menggelindingkan dengan tangan kanan, tangan kiri kemudian kaki kiri sampai dengan kaki kanan… kali ini banyak kejadian yang tidak mereka duga, banyak yang gagal menggunakan anggota gerak yang mereka anggap lebih berpeluang untuk menjatuhkan sasaran, yaitu tangan dan kaki kanan. Sebaliknya, tidak sedikit yang berhasil memaksimalkan tangan dan kaki kiri mereka. Nah, celotehannya pun mulai berganti. “Wah, ternyata tangan kirimu jago ya?” atau “aduuuhhh, kenapa tendangan kananku melenceng jauh?” dan lainnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah kita mendengarkan orang tua yang menyuruh anaknya ketika makan “Hayoo, maemnya pakai tangan yang bagus…(maksudnya tangan kanan)” dari situlah ada kemungkinan muncul anggapan dari seorang anak bahwa yang bagus itu tangan kanan, sedang yang kiri tidak. Nah, makanya sampai terbawa ketika mereka beranjak dewasa seperti yang terjadi dalam cerita saya diatas.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, barangkali kita harus mulai berhati-hati memberikan istilah untuk anak-anak kita, jangan sampai contoh di atas menjadi salah satunya dan kalaupun sudah terjadi semoga itu cukup satu-satunya. Why? Yah, karena apapun yang telah Allah anugerahkan untuk kita ini semua sudah pada porsi dan kegunaannya. Ada sebuah kalimat yang menarik bahwa “Ketika kita menganggap buruk fisik kita ataupun fisik orang lain, tenyata bukan semata kita menghina bentuk ataupun kegunaan fisik itu, melainkan kita sudah menghina yang menciptakannya.” Astaghfirullah… semoga kita dijauhkan ya dari sikap-sikap seperti itu? Aamiin.
Saya : 100% Kak Wall
Eits, tapi tidak sesederhana itu, cara menggelindingkannya tidak hanya dengan tangan lho, tapi ada yang menggunakan kaki. Nah, dari situlah mulai ada celotehan dari peserta setelah mereka mndapatkan undian dengan anggota gerak yang mana mereka akan melempar. Ada yang berkata “Aaaahhhh ko tangan kiri sih?”, “Yes, tangan kanan.” Kalau yang putra “Yes, dapat kaki kanan” mungkin sering sepak bola, tapi ada juga yang bilang “Kalau kaki kiri kan gak bisaaaa…” dan masih banyak lagi teriakan-teriakan yang mereka lontarkan.
Beberapa saat kemudian tiba giliran mereka melempatkan satu per satu mulai dari yang mendapatkan cara menggelindingkan dengan tangan kanan, tangan kiri kemudian kaki kiri sampai dengan kaki kanan… kali ini banyak kejadian yang tidak mereka duga, banyak yang gagal menggunakan anggota gerak yang mereka anggap lebih berpeluang untuk menjatuhkan sasaran, yaitu tangan dan kaki kanan. Sebaliknya, tidak sedikit yang berhasil memaksimalkan tangan dan kaki kiri mereka. Nah, celotehannya pun mulai berganti. “Wah, ternyata tangan kirimu jago ya?” atau “aduuuhhh, kenapa tendangan kananku melenceng jauh?” dan lainnya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pernahkah kita mendengarkan orang tua yang menyuruh anaknya ketika makan “Hayoo, maemnya pakai tangan yang bagus…(maksudnya tangan kanan)” dari situlah ada kemungkinan muncul anggapan dari seorang anak bahwa yang bagus itu tangan kanan, sedang yang kiri tidak. Nah, makanya sampai terbawa ketika mereka beranjak dewasa seperti yang terjadi dalam cerita saya diatas.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, barangkali kita harus mulai berhati-hati memberikan istilah untuk anak-anak kita, jangan sampai contoh di atas menjadi salah satunya dan kalaupun sudah terjadi semoga itu cukup satu-satunya. Why? Yah, karena apapun yang telah Allah anugerahkan untuk kita ini semua sudah pada porsi dan kegunaannya. Ada sebuah kalimat yang menarik bahwa “Ketika kita menganggap buruk fisik kita ataupun fisik orang lain, tenyata bukan semata kita menghina bentuk ataupun kegunaan fisik itu, melainkan kita sudah menghina yang menciptakannya.” Astaghfirullah… semoga kita dijauhkan ya dari sikap-sikap seperti itu? Aamiin.
Saya : 100% Kak Wall
Pentingnya Metode Belajar Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana suasana hari ini sahabat?
Semangat? Alhamdulillah… yang penting tetap syukur yah?
Sahabat, pernahkah bertanya pada anak kecil tentang pertanyaan-pertanyaan yang kita anggap sangat mudah? Contohnya kita bertanya pada anak yang berusia TK tentang rukun Islam dengan pertanyaan “Dik, sebutkan rukun Islam dong…bisa kan?” Yah, pertanyaannya memang sebenarnya cukup mudah tapi belum tentu mereka bisa jawab. Padahal mungkin juga mereka sebenarnya sudah hafal. Tapiiiii…dengan cara yang lain kita menanyakannya misalnya “Dik, nyanyian Rukun Islam apal kan? Coba kakak mau dengar dong…” Kalo dah gitu bukan tidak mungkin si anak langsung jawab “Rukun Islam yang limaaaa… Syahadad Shalat Puasaaa…Zakat untuk si Papa… Haji bagi yang kuasa…” intinya, bagaimana kita bertanya itu akan berpengaruh bisa dan tidaknya si anak akan menjawab.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, yang saya sebutkan tadi hanyalah salah satu contoh saja yang menggambarkan bahwa cara belajar anak membutuhkan media, yang biasanya bisa berbentuk audio ataupun visual. Nyanyian, gambar-gambar, warna, model, alat peraga, benda atau makhluk hidup dan lain sebagainya adalah contoh-contoh media yang bisa kita gunakan untuk mengajarkan sesuatu hal untuk anak. Selain menarik, anak juga akan lebih mudah memahami apa yang ingin kita sampaikan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata metode belajar dengan menggunakan media seperti itu tidak hanya efektif untuk anak-anak kecil pra sekolah / TK saja, melainkan sekarang ini sudah dikembangkan untuk anak-anak sekolah dasar dan tingkat di atasnya pun bisa menggunakan metode atau cara belajar tersebut. Pernah dengar istilah “MIND MAP” yapz, itu adalah salah satu teknik belajar mencatat yang lebih kreatif yang dimaksudkan untuk lebih mudah mengingat dan menghafalkan materi belajar. Dengan kombinasi berbagai unsur seperti garis, gambar, symbol, warna, kata-kata kunci yang menarik, membuat metode ini cukup popular dan menarik untuk di terapkan.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari, kita coba memberikan cara-cara yang lebih mudah dipahami dalam mengajarkan sesuatu untuk anak-anak kita, tidak cukup hanya mudah saja, tetapi juga menyenangkan, karena, menyenangkan adalah salah satu hal yang membuat sesuatu akan terasa menjadi lebih mudah. Sekian…
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat, pernahkah bertanya pada anak kecil tentang pertanyaan-pertanyaan yang kita anggap sangat mudah? Contohnya kita bertanya pada anak yang berusia TK tentang rukun Islam dengan pertanyaan “Dik, sebutkan rukun Islam dong…bisa kan?” Yah, pertanyaannya memang sebenarnya cukup mudah tapi belum tentu mereka bisa jawab. Padahal mungkin juga mereka sebenarnya sudah hafal. Tapiiiii…dengan cara yang lain kita menanyakannya misalnya “Dik, nyanyian Rukun Islam apal kan? Coba kakak mau dengar dong…” Kalo dah gitu bukan tidak mungkin si anak langsung jawab “Rukun Islam yang limaaaa… Syahadad Shalat Puasaaa…Zakat untuk si Papa… Haji bagi yang kuasa…” intinya, bagaimana kita bertanya itu akan berpengaruh bisa dan tidaknya si anak akan menjawab.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, yang saya sebutkan tadi hanyalah salah satu contoh saja yang menggambarkan bahwa cara belajar anak membutuhkan media, yang biasanya bisa berbentuk audio ataupun visual. Nyanyian, gambar-gambar, warna, model, alat peraga, benda atau makhluk hidup dan lain sebagainya adalah contoh-contoh media yang bisa kita gunakan untuk mengajarkan sesuatu hal untuk anak. Selain menarik, anak juga akan lebih mudah memahami apa yang ingin kita sampaikan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata metode belajar dengan menggunakan media seperti itu tidak hanya efektif untuk anak-anak kecil pra sekolah / TK saja, melainkan sekarang ini sudah dikembangkan untuk anak-anak sekolah dasar dan tingkat di atasnya pun bisa menggunakan metode atau cara belajar tersebut. Pernah dengar istilah “MIND MAP” yapz, itu adalah salah satu teknik belajar mencatat yang lebih kreatif yang dimaksudkan untuk lebih mudah mengingat dan menghafalkan materi belajar. Dengan kombinasi berbagai unsur seperti garis, gambar, symbol, warna, kata-kata kunci yang menarik, membuat metode ini cukup popular dan menarik untuk di terapkan.
So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari, kita coba memberikan cara-cara yang lebih mudah dipahami dalam mengajarkan sesuatu untuk anak-anak kita, tidak cukup hanya mudah saja, tetapi juga menyenangkan, karena, menyenangkan adalah salah satu hal yang membuat sesuatu akan terasa menjadi lebih mudah. Sekian…
Saya : 100% Kak Wall
Pentingnya Membersamai Anak
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, siang ini saya baru saja
silaturrahim ke sebuah sekolah. Sesampainya di sekolah itu saya sedikit
terkejut karena kondisi sekolah yang sudah sangat sepi dan semua pintu
ruangan tertutup termasuk gerbang sekolah, hanya saja memang tidak
digembok…padahal sebelumnya salah seorang ustadzah mengatakan pulangnya
sore setiap harinya. Lantas saya mengira
sekolah itu libur atau pulang pagi. Sempat saya memutuskan untuk
pulang, tapi kemudian pandangan saya menyapu setiap sudut sekolah itu
dan dalam benak saya berkata “Sebentar, kalau sudah pulang kenapa itu
sepatu-sepatunya masih tertata rapi di rak depan kelas? Masa’ sepatu
ditinggal di sekolahan?” saya pun berubah pikiran dan memutuskan untuk
mencoba masuk dengan membuka gerbang yang memang tidak dikunci. Sesaat
setelah saya berhasil masuk ke halaman sekolah itu, kemudian seorang
ustadzah yang cukup saya kenal keluar dari ruangan menyambut dan menyapa
serta mempersilakan saya masuk.
Setelah duduk selanjutnya kami pun mulai berbincang dan saya bertanya,
Saya : “Ini ko sepi ust? Sudah pulang atau gimana?”
Ustadzah :”O..tidak mas, ini jam tidur…”
Saya : “O..gitu, saya kira sudah pulang atau libur tadi. Ustadzahnya berarti juga jam istirahat ya ust?”
Ustadzah :”Iya Mas, anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian Mas.”
Saya : “O.. gitu???”
Ada sebuah pernyataan ustadzah yang cukup menarik “…anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian…” Benar juga, barang kali anak-anak justru main sendiri-sendiri atau saling mengganggu satu sama lain jika tidak ditunggui sambil menemani dan mengajak tidur. Yah, maklumlah namanya juga anak-anak.
Coba, sekarang kita bandingkan saat kita menyuruh anak-anak kita belajar kemudian apa yang kita lakukan? Rasanya tidak pas ketika kita justru menonton TV bukan? Yah, minimal kita menemani sambil baca Koran (meskipun kadang korannya terbalik) untuk sekedar membuat anak kita berpikir bahwa kita juga sedang belajar sambil menunggu barangkali anak kita merasa kesulitan kemudian bertanya. Artinya, kita bukan sekedar menyuruh atau memerintah tetapi kita mengajak untuk melakukannya.
Saya : 100% Kak Wall
Setelah duduk selanjutnya kami pun mulai berbincang dan saya bertanya,
Saya : “Ini ko sepi ust? Sudah pulang atau gimana?”
Ustadzah :”O..tidak mas, ini jam tidur…”
Saya : “O..gitu, saya kira sudah pulang atau libur tadi. Ustadzahnya berarti juga jam istirahat ya ust?”
Ustadzah :”Iya Mas, anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian Mas.”
Saya : “O.. gitu???”
Ada sebuah pernyataan ustadzah yang cukup menarik “…anak-anak tu kalo ndak ditunggui sambil ikut tidur atau sekedar pura-pura tidur gitu pada lari-larian…” Benar juga, barang kali anak-anak justru main sendiri-sendiri atau saling mengganggu satu sama lain jika tidak ditunggui sambil menemani dan mengajak tidur. Yah, maklumlah namanya juga anak-anak.
Coba, sekarang kita bandingkan saat kita menyuruh anak-anak kita belajar kemudian apa yang kita lakukan? Rasanya tidak pas ketika kita justru menonton TV bukan? Yah, minimal kita menemani sambil baca Koran (meskipun kadang korannya terbalik) untuk sekedar membuat anak kita berpikir bahwa kita juga sedang belajar sambil menunggu barangkali anak kita merasa kesulitan kemudian bertanya. Artinya, kita bukan sekedar menyuruh atau memerintah tetapi kita mengajak untuk melakukannya.
Saya : 100% Kak Wall
Tips Mencari Ide Menulis
Assalamu’alaikum
wa rahmatullahi wa barakatuhu… Salam jumpa sahabat pembaca yang baik
hatinya. Adakah sama musim yang sedang sahabat nikmati ditempat sahabat
dengan musim yang ada disini? Berrrrrr… yah, menulis diiringi dengan
turunnya deras air hujan yang cukup membuat suasana bercampur aduk.
Senang ketika memikirkan petani yang mendapatkan air yang dapat meningkatkan
kesuburan tanamannya, tetapi juga sedih melihat sahabat-sahabat yang
lain yang sedang mendapatkan ujian berupa banjir. Namun bagaimanapun,
semua itu adalah nikmat yang wajib bagi kita mensyukurinya. Setuju?
Sahabat pembaca yang baik hatinya, boleh curhat dikit kan? Terkadang, muncul rasa enggan dalam diri saya untuk menyapa sahabat dengan tulisan-tulisan saya. Yah, perasaan itu muncul lantaran saya merasa kehabisan ide tentang apa yang bisa saya kutipkan untuk sahabat pembaca semua. Terlebih ketika saya sudah mencoba berpikir keras tentang tema yang akan saya angkat, tetapi belum juga menemukannya. Ada kalanya saya mencari tema tentang hal-hal yang menurut saya WOW, tetapi ketika ide tak juga kunjung datang kembali lagi rasa enggan dan malas yang muncul. Padahal, sejatinya hal-hal sederhanapun bisa menjadi sesuatu yang (kata teman saya) Awesome banget.
“Lembar Mutaba’ah Pengalamanku.” Yupz, itulah salah satu yang mengembalikan semangat saya untuk setia menyapa sahabat pembaca semua. Apa sih itu? Baik, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menjadi Tim dalam sebuah Training untuk adik-adik di sebuah Sekolah Dasar. Nah, pada kesempatan itu, salah seorang Ustadz yang juga Kepala Sekolah disana meminta tim kami untuk mengapresiasi sebuah buku yang belum selesai proses editingnya dan rencananya akan segera dicetak. Kemudian saya membuka halaman demi halaman dan saya baca sekilas. Banyak judul dan cerita yang tertulis dalam buku itu, dari yang Lucu, Inspiratif, Unik, Menggelitik dan ada pula yang Mengharukan. Dan ketika membaca buku itu seolah saya kembali ke masa-masa kecil dulu. Kira-kira siapa penulis buku itu? Yupz, tepat sekali, mereka adalah Siswa-siswi dari sekolah itu, yang dengan kreatifnya menuangkan pengalaman-pengalaman pribadi mereka dalam sebuah tulisan yang akhirnya difasilitasi Sekolah menjadi sebuah buku yang diberikan Judul “Lembar Mutaba’ah Pengalamanku.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, dari buku itulah kemudian saya menyimpulkan bahwa ternyata apa saja bisa menjadi sebuah tema untuk kita belajar menulis. Seperti dalam buku itu, ada yang menuliskan tentang : Bermain Layang-Layang, Hujan-Hujan, Memancing di Sungai, Lomba Tahfidz, Membuat CupCake saat liburan, Menyantuni Bayi kurang Gizi, Kerja Bakti, Praktek Menyembelih Ayam, Dikejar Anjing dan lain sebagainya, yang kesemuanya ada dan tak jarang kita temui di sekitar kita bahkan kita lakukan sendiri. Dan meskipun sederhana, ternyata bisa menjadi sesuatu yang WOW ketika sudah menjadi sebuah tulisan, yah seperti yang dilakukan adik-adik di SD tadi.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin menarik juga ya kalau anak-anak atau adik-adik disekitar kita, kita ajarkan untuk belajar menulis seperti Siswa-siswi di Sekolah itu? So, sembari kita belajar bisa sekalian mengajarkan.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, boleh curhat dikit kan? Terkadang, muncul rasa enggan dalam diri saya untuk menyapa sahabat dengan tulisan-tulisan saya. Yah, perasaan itu muncul lantaran saya merasa kehabisan ide tentang apa yang bisa saya kutipkan untuk sahabat pembaca semua. Terlebih ketika saya sudah mencoba berpikir keras tentang tema yang akan saya angkat, tetapi belum juga menemukannya. Ada kalanya saya mencari tema tentang hal-hal yang menurut saya WOW, tetapi ketika ide tak juga kunjung datang kembali lagi rasa enggan dan malas yang muncul. Padahal, sejatinya hal-hal sederhanapun bisa menjadi sesuatu yang (kata teman saya) Awesome banget.
“Lembar Mutaba’ah Pengalamanku.” Yupz, itulah salah satu yang mengembalikan semangat saya untuk setia menyapa sahabat pembaca semua. Apa sih itu? Baik, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menjadi Tim dalam sebuah Training untuk adik-adik di sebuah Sekolah Dasar. Nah, pada kesempatan itu, salah seorang Ustadz yang juga Kepala Sekolah disana meminta tim kami untuk mengapresiasi sebuah buku yang belum selesai proses editingnya dan rencananya akan segera dicetak. Kemudian saya membuka halaman demi halaman dan saya baca sekilas. Banyak judul dan cerita yang tertulis dalam buku itu, dari yang Lucu, Inspiratif, Unik, Menggelitik dan ada pula yang Mengharukan. Dan ketika membaca buku itu seolah saya kembali ke masa-masa kecil dulu. Kira-kira siapa penulis buku itu? Yupz, tepat sekali, mereka adalah Siswa-siswi dari sekolah itu, yang dengan kreatifnya menuangkan pengalaman-pengalaman pribadi mereka dalam sebuah tulisan yang akhirnya difasilitasi Sekolah menjadi sebuah buku yang diberikan Judul “Lembar Mutaba’ah Pengalamanku.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, dari buku itulah kemudian saya menyimpulkan bahwa ternyata apa saja bisa menjadi sebuah tema untuk kita belajar menulis. Seperti dalam buku itu, ada yang menuliskan tentang : Bermain Layang-Layang, Hujan-Hujan, Memancing di Sungai, Lomba Tahfidz, Membuat CupCake saat liburan, Menyantuni Bayi kurang Gizi, Kerja Bakti, Praktek Menyembelih Ayam, Dikejar Anjing dan lain sebagainya, yang kesemuanya ada dan tak jarang kita temui di sekitar kita bahkan kita lakukan sendiri. Dan meskipun sederhana, ternyata bisa menjadi sesuatu yang WOW ketika sudah menjadi sebuah tulisan, yah seperti yang dilakukan adik-adik di SD tadi.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin menarik juga ya kalau anak-anak atau adik-adik disekitar kita, kita ajarkan untuk belajar menulis seperti Siswa-siswi di Sekolah itu? So, sembari kita belajar bisa sekalian mengajarkan.
Saya : 100% Kak Wall




