Jadi Teladan Yang Menemani, Bukan Memerintah

Assalamu’alaikum, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, teringat sepenggal kalimat yang diucapkan seorang teman di milad (ulang tahun) saya beberapa bulan yang lalu. Meskipun sebenarnya saya bukan penganut orang-orang yang merayakan hari seperti itu, tapi Alhamdulillah banyak yang mengucapkan dan mendo’akan saya. Yang salah satunya saya kutib menjadi judul di atas…

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, sejenak saya renungi kata-kata itu, apa sih maksudnya? Dan setelah daun saya bolak-balik, berbagai tabir saya singkap dan setiap pojok saya perhatikan (wah hiperbol banget ini), saya menemukan sesuatu yang luaarrrr biasa yang akan saya bagi untuk sahabat-sahabat semua Gratis tanpa dipungut biaya, tapi kalo maksa mau ngasih ya gak papa… banyak yang maksa lebih bagus. Xixixi

Sahabat pembaca yang baik hatinya, dalam beberapa pelatihan yang saya ikuti tentang mendidik anak dengan berbagai macam metode, saya menemukan sebuah kesamaan metode mendidik yang baik dari berbagai pelatihan tersebut, apa itu? Yupz, keteladanan. Tentu sahabat sekalian sudah sangat paham semisal kita menyuruh anak kita shalat, akan berbeda hasilnya jika kita juga shalat dengan kita tidak shalat kan? Nah, itulah salah satu sisi dari keteladanan.

Trus, apa dong maksudnya teladan yang menemani dan bukan teladan yang memerintah? Yupz, pertanyaan yang bagus (padahal yang tanya yang nulis). Sebagai contoh sederhana seperti ini, kembali lagi contohnya shalat ajalah yang gampang&wajib. Kita sudah shalat dengan baik setiap harinya, maksudnya rajin dan sudah tidak bolong-bolong. Nah, kita bermaksud menyuruh anak kita untuk ikut shalat juga, kira-kira pilih kata-kata yang mana ya?

A. Nak, sana shalat dulu!
B. Nak, sudah shalat belum? Ayo shalat dulu…!

Dua aja ah pilihannya. Yang pertama perintah dan yang kedua ajakan. Tentu akan lebih terasa hangat sebuah ajakan bukan? Dan Insya’ Allah sahabat-sahabat semua punya kata-kata yang lebih hangat untuk anak-anak sahabat semuanya.

Nah itu tadi sahabat-sahabat yang baik hatinya, pilihan pertama adalah yang saya maksud dengan teladan yang memerintah dan pilihan ke dua adalah teladan yang menemani. Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, anak-anak kita atau bahkan kita sendiri tentu akan merasakan sesuatu yang berbeda jika kita diminta melakukan sesuatu kebaikan dengan perintah dibanding dengan ajakan, bahkan meskipun yang mengajak itu tidak melakukan. So, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, anak-anak kita pun juga seperti itu kurang lebih, jadi kesimpulannya menjadi teladan yang baik saja belum cukup, tapi harus ditambah dengan sikap peduli dan perhatian.

Saya : 100% Kak Wall
Kamis, 17 Oktober 2013
Posted by Kak Wall

Sebijak Ibrahim, Sesabar Ismail, Seikhlas Keduanya

Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, esok hari Insya’ allah kita akan sambut Hari Raya ‘Idul Adha, sudah siapkan baju baru? Sarung baru? Peci baru? Sajadah baru? Haduuuhhh gak seribet itu juga kaleeee….

Seperti yang kita tahu, setelah kita mengerjakan Shalat ‘Ied, biasanya akan terjadi pembunuhan masal dimana-mana. Eits, jangan negative dulu, pembunuhannya berpahala kok. Yups, tepat sekali, Qurban. ‘Idul Ahda juga sering disebul ‘Idul Qurban kan? Siapa yang gak doyang daging kambing angkat tangan? Besok boleh dianter kerumah yak? (modus.hehehe).

Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, tentu sudah hafal kan cerita tentang asal muasal alias awal mula Qurban? Yupz, tentu saja kita akan teringat Nabi Ibrahim as dan puteranya Ismail. Tapi saya tidak akan menceritakan itu semua di sini, hanya sepenggal saja. Dalam sejarah, ketika Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih puteranya, beliau tidal lantas serta-merta melaksanakannya, melainkan beliau bertanya pendapat Ismail. Kurang lebih dalam sejarah diceritakan Ibrahim as bertanya kepada Ismail : “Dalam tidurku, aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana pendapatmumu?” dan Ismail pun yang sadar bahwa mimpi seorang Nabi adalah wahyu dengan tegas ia menjawab “Wahai ayahku, laksanakah Allah kepadamu. Engkau akan menemiuiku Insya’ Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. ……….” Kemudian Ismail mengajukan beberapa permintaan antara lain agar diikat kuat, agar ditanggalkan pakaiannya dan agar sang ayah menggunakan pedang yang tajam. Yah kurang lebih seperti itu penggalan cerita yang saya ambil.

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, begitu luar biasa bukan hikmah dari cerita di atas. misal saat ini anak-anak yang ada saat ini yang ditanya demikian, barangkali akan muncul beberapa pilihan jawaban :

A. Mau nyembelih Gue? Langkahi dulu Jurang blakang rumah.
B. Mau nyembelih Gue? Wani Pira?
C. Mau nyembelih Gue? Gue Gibeng Juga Loe.

Haduuuhhh,,, Horooooorrrrrrrrrrr…

Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita kembalikan pada diri kita, bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Apakah masih sering kita memaksakan kehendak? Atau sudah kita sering berdiskusi dengan anak-anak kita? Misal kita punya anak laki-laki yang sudah waktunnya sunat, apa yang kita lakukan?

A. Langsung antar ke tukang sunat langsung potong.
B. Menunggu anak minta sendiri.
C. Membicarakan dengan si anak.

Pilihan A tentu sangat beresiko jika anak mempunyai ketakutan yang besar. Pilihan B bisa jadi yang baik tatkala si anak merasa sudah waktunya atau sudah berani, tapi jika si anak mempunyai ketakutan besar juga, maka akan jadi masalah juga, bisa-bisa lulus SMA baru mau sunat. Nah, pilihan C barangkali bisa jadi pilihan yang baik. Berdiskusi dengan anak akan membuat kita tau seperti apa anak yang anak kita mau. Dengan menyampaikan kenapa sunat dan berbagai manfaat dari sunat bisa membuat anak mengerti dan menghilangkan rasa takut.

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, bersikap bijak kepada anak tentu lebih baik ketimbang kita selalu memaksakan apa-apa yang kita harapkan dari anak kita. Dan anak akan menjadi lebih nyaman menerima dengan merasa pendapatnya didengarkan. Nah, kalau sudah seperti kita bisa mengambil jalan tengah dari apa yang kita harapkan dan dengan pendapat anak-anak kita, tentu setelah itu keikhlasan yang akan muncul bukan? Semoga bermanfaat.

Saya : 100% Kak Wall
Senin, 14 Oktober 2013
Posted by Kak Wall

Orang Tua Sibuk, Anak Lupa Ayah Ibu

Assalamu’alaikum, sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaiman kabar sahabat hari ini? Tetap sehat? Tetap semangat? Salam Olah Raga. (Lho…hehehe)
Kalo lihat judulnya serem yah? Wuis,,,apa-apaan itu judul??? Eits, tunggu dulu, barang kali perlu disimak dulu ilustrasi yang akan saya sampaikan dalam cerita singkat berikut ini.

”Ada sebuah keluarga dimana di dalamnya terdapat sepasang orang tua dan seorang anak laki-laki dan juga seorang pembantu. Sepasang orang tua dalam keluarga itu masing-masing adalah pengusaha yang sangat sibuk. Sang ayah pengusaha di luar Pulau yang hanya pulang setahun sekali. Dan sang ibu pengusaha butik yang setiap harinya bekerja sedari pagi petang dan pulang malam hari. Tak jarang sang ibu tidak pulang ke rumah karena harus mengurusi outlet-outletnya yang ada di luar kota. Sehingga si anak jarang sekali bertemu dengan kedua orang tuanya, dan kesehariannya di rumah, si anak hanya tinggal dengan seorang pembantu yang juga mengasuhnya sejak kecil. Sang ibu ketika hendak berangkat kerja hanya berpesan “Mbak, nanti tolong Kiki (nama si anak) diurusi ya? Sama tolong nanti kalo sudah saatnya siap-siap ke sekolah dibangunin” dan kalo sepulang kerja hanya kalimat “Kiki sudah tidur kan mbak?” yang sering diucapkan.

Suatu ketika, si anak sedang mengikuti pelajaran di sekolahnya. Waktu itu hari pertama masuk sekolah SD setelah sebelumnya baru saja lulus dari TK. Adalah Bu Ratna, Guru kelas itu.
Bu Ratna : “Anak-anak, sekarang ibu akan memanggil satu persatu dari kalian, dan tugas kalian di depan adalah menceritakan diri kalian dan kedua orang tua kalian. Kalian paham?”
Murid : “Ya bu,,, kami paham…”
Bu Ratna : “Baik, sekarang siapa yang namanya Andien, maju ke depan!”
Andien : “Namaku Andien, orang Pak Adi dan Bu Ayu…………” (Andien menceritakan panjang lebar tentang keluarganya)
Bu Ratna : “Bagus Sekali. Sekarang Kiki. Mana Kiki? Majulah Nak…”
Kiki : “Saya Bu.”
Bu Ratna : “Baik Silakan”
Kiki : “Namaku Radika Al Farizki, dipanggil Kiki. Kata Mbak Mimin Pembatu dirumahku, Ayahku seorang pengusaha di Kalimantan, dan Ibuku pengusaha pakaian. Nama Ayahku Tuan dan Ibuku Nyonya, itu kata Mbak Mimin Juga. Terus Mbak Mimin bilang Ayahku itu pulangnya setiap lebaran dan aku sudah lupa wajahnya dan aku juga jarang bertemu ibu, soalnya ibuku perginya pagi-pagiii sekali dan kalau pulang pasti aku sudah tidur. Aku ingiin sekali bertemu mereka, aku ingi seperti Andien tadi, diajak bermain, dipeluk, diajak jalan-jalan, pasti menyenangkan. Tapi kapan? Aku ingin sekali…(si anak ini terus bercerita sambil menangis)”
Bu Ratna : “Terimah kasih Nak…duduklah kembali. (sambil mengusap air mata) Apakah kamu sudah bisa menulis?”
Kiki : “Sudah Bu.”
Bu Ratna : “Baik, Tulislah keinginanmu-keinginanmu itu sekarang, nanti Ibu akan kirim surat ke orang tuamu.”
Kiki :”Ya Bu…”

Singkat cerita, usaha Bu Ratna ternyata berhasil, Kedua orang tua Kiki tersadar. Tapi, apa yang terjadi ketika pertama kali Ayah dan Ibu Kiki menemui Kiki secara bersamaan? “Mah, Ohm ini siapa? Suaminya Mbak Mimin ya?” Itu pertanyaan yang terlontar pertama kali. Hemmmm…

Ilustrasi di atas ironis memang, tak seperti kebanyakan anak yang pada kewajarannya sudah bisa mengenali siapa orang tuanya, bahkan anak BATITA pun sudah bisa membedakan mana orang tuanya dan mana yang bukan. Tapi tidak dengan Kiki, karena tak pernah bertemu dengan orang tua, sampai-sampai tidak mengenali siapa Ayahnya. Ayah dan Ibu Kiki ini hanya mengutamakan pekerjaan dan berprinsip “Kebutuhan keluarga (uang) harus dinomor satukan” dan terlihat akibatnya.

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, mungkin di sekeliling kita atau bahkan diri kita sendiri mempunyai permasalahan yang hampir sama, meskipun tak seekstrim itu. Tapi pada dasarnya, kesibukan duniawi yang kita jalani terkadang bahkan sering merampas hak-hak anak kita. Tak jarang anak merasa haus kasih sayang dari orang tuanya karena kesibukan itu, yang akibatnya si anak mencari pelampiasan yang lain yang tak jarang pula ke arah yang negative dan berakibat fatal. Kalau sudah seperti itu, biasanya orang tua akan saling menyalahkan (kayak di tipi-tipi).

Nah, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, Apa kita harus menunggu sampai terjadi seperti itu? Insya’ Allah semua sepakat untuk menjawab TIDAK bukan? Yupz, sesibuk apapun kekiatan kita, amanah kita, tapi jangan sampai kita melupakan hak-hak anak, terlebih sampai anak kita kehilangan kasih sayang kita. Mau ditaruh di mana muka kita di Akhirat?

Saya : 100% Kak Wall
Kamis, 10 Oktober 2013
Posted by Kak Wall

Tegas dan Konsisten

Assalamu’alaikum sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya. Menyapa hari yang indah ini, saya akan sedikit bercerita untuk sahabat semuanya. Begini ceritanya,
“Suatu hari seorang ayah menasehati anaknya untuk belajar. Memang kesehariannya si anak kurang senang belajar, sehingga sang bapak harus tiap hari menyuruh untuk belajar. Tak jarang sang bapak harus memarahi si anak agar mau belajar.
Bapak : “Nak, kamu itu harus rajin belajar, mau jadi apa nanti? Lihat! Bapak sering dipanggil ke sekolah sama guru kamu gara-gara nilai kamu jelek semua.”
Anak : “Iya..iya..nanti juga belajar. (dengan nada ketus)”
Bapak : “Sekarang gini, bapak akan kurangi jam nonton TVmu, mulai jam 6 sore, sudah tidak boleh lagi ada TV nyala dan kamu harus belar. Titik.”
Anak : “Iyaaaaa…(sedikit ngambeg)”
Suatu sore si anak nonton TV sejak siang pulang sekolah, lewat jam 6 sore TV masih menyala dan sang bapak yang mengetahui hanya membiarkan saja. Lewat ‘Isya’ juga masih nonton TV si anak ini, tapi lagi-lagi sang bapak tidak menegurnya, sampai sia anak ini sendiri mematikannya karena sudah mengantuk dan akan tidur. Si anak menggumam,
Anak : “O…ternyata bapak hanya menggertakku, buktinya masih bisa nonton TV sampai malam.”
Pikiran itu semakin mendorong si anak untuk semakin rajin (nonton TV), bahkan ketika sang ayah marah dan mengatakan yang lain,
Bapak : “Kalau kamu tidak mau belajar, TVnya akan bapak jual.”
Anak :”Iya… (paling Cuma gertak lagi, pikir si anak)”
Dan benar saja, larangan itu tak pernah jadi kenyataan meskipun berkali-kali si anak melanggarnya. Dan semakin hari si anak semakin kebal dengan gertakan-gertakan seperti itu tanpa pernah mengindahkan.”

Nah, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, Sebagai orang tua, kadang ketika kita merasa tidak didengar, kita sering mengeluarkan gertakan-gertakan seperti halnya cerita di atas. Apa tidak boleh? Pada dasarnya boleh saja kalau itu jalan trakhir yang harus ditempuh ketika iming-iming mainan, liburan, sepeda baru atau yang lain sudah tidak digubris lagi. Asaaaalllll, kita juga konsisten dengan gertakan itu. Kalo memang melanggar, ya seharusnya apa yang dijanjikan juga dilakukan. Misal, cerita di atas, harusnya sang bapak benar-benar menjual TVnya agar anak tidak berpikir itu hanya gertak sambal dan kebohongan semata. Tapi, dalam memberikan hal seperti itu juga haruslah hal-hal yang tidak melanggar Syar’I dan juga tidak merugikan tetapi berkesan. Misal, seperti tadi, TV benar-benar dijual. Sehingga anak akan berpikir “O…berarti kalau bapak/ibuku ngomong gitu tu beneran” kurang lebih seperti itu.

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, sering kita memberikan nasehat tegas untuk anak-anak kita, tapi, kita tidak pernah konsisten dengan teguran itu, sehingga sering menjadikan anak tidak mengindahkan lagi meskipun kita tegas menasehatinya. Maka dari itu sahabat pembaca yang baik hatinya, TEGAS saja tidak cukup KONSISTEN akan melengkapinya. Sekian semoga bermanfaat.

Saya : 100% Kak Wall
Senin, 07 Oktober 2013
Posted by Kak Wall

Menanamkan Ethos Pada Anak

Assalamu’alaikum, sahabat-sahabat pembaca yang baik haitinya, bagaimana kabar hari ini? Masih selalu semangat? Semoga tetap dan selalu serta senantiasa menjaga semangat dalam diri untuk terus mengoptimalkan segala anugerah potensi yang telah diberikan Allah untuk memakmurkan Bumi-Nya ini. Aamiin…

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, kenapa saya menanyakan semangat? Yupz, sesuai judul di atas, yaitu tentang Ethos. Apa sih ethos itu? Yupz, ethos bisa diartikan sebagai Spirit atau semangat dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku hidup yang khas dan unggul, seperti : rajin, semangat, teliti, tekun, kerja keras, ulet, bertanggung jawab, menghargai waktu, hemat, efisien dll.

Nah, bagaimana kita menanamkan ethos untuk anak-anak kita? Sudah sejauh apakah? Sebenarnya tulisan ini masih berkaitan erat dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, yaitu tentang Mendidik dengan Cerita. Nah, salah salah satu cara membentuk ethos atau mendidik dan menanamkan ethos pada anak yaitu dengan bercerita.

Di berbagai Negara, berkembang ethos yang sampai saat ini sangat terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia bahkan ketika istilah itu disebut, maka yang mendengar langsung dapat mengetahui Negara mana yang dimaksud. Sebagai contoh :

1. Ethos Panzer
Ethos ini mengajarkan Berpikir Ilmiah, Bertindak Rasional, Berdisiplin Tinggi, Rajin Tekun Bekerja Keras, Berorientasi Kepada Sukses Material, Tidak Umbar Kesenangan, Anti Pemborosan, Hemat Bersahaja, Menabung dan Investasi.

2. Ethos Ginseng
Ethos ini mengajarkan Rajin bekerja, Hemat, Menabung, Mandiri Berdikari, Kerjasama, Mengutamakan Pendidikan

3. Ethos Samurai
Untuk ini ada beberapa istilah, GI : Bersikap Benar dan Bertanggung Jawab, YU : Berani dan Ksatria, JIN : Murah Hati dan Mencintai, REI : Bersikap Santun dan Hormat, MAKOTO : Tulus dan Bersungguh-Sungguh, MELYO : Menjaga Martabat dan Kehormatan, CHUGO : Mengabdi dan Loyal.

Nah, itu tadi sahabat pembaca yang baik hatinya, berbagai contoh istilah ethos yang terbangun di berbagai Negara. Pertanyaannya ethos apa yang terbagun di negeri ini? Atau minimal ethos apa yang sudah kita tanamkan kepada anak-anak kita? Hemmm,,,mari kita jawab dalam diri kita masing-masing. Semoga ethos-ethos Qur’ani dan Nabawi yang sudah kita tanamkan dalan diri anak-anak kita, dan semoga terhindar dari ethos-ethos Syaithoni. Aamiin… Sekian, semoga Bermanfaat.

Saya : 100% Kak Wall. Salam Semangat.
Kamis, 03 Oktober 2013
Posted by Kak Wall
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Artikel Menarik

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 100% Kak Wall -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -