MANA TAHAAAANNNN???
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, apa kabarnya hari ini? Sekedar mengingatkan, mari kita jaga kondisi fisik kita, terlebih dimusim pancaroba seperti ini, konon lebih rentan terhadap kondisi kesehatan kita, dari mulai flu, pilek dan lain-lain jadi sering mampir.
Well, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita mulai masuk ke tema hari ini Ada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak kecil di suatu Negara, penelitian itu cukup sederhana, menggunakan media permen. Seorang peneliti menginstruksikan kepada 20 anak dengan istruksi sebagai berikut “kamu akan saya tinggal diruangan ini sendiri selama 5 menit, di depan kamu ada 1buah permen, jika kamu mengambil permen itu dan memakannya sebelum saya datang, maka kamu tidak akan mendapat apa-apa, tapi, jika dalam waktu 5 menit sampai saya datang kembali permen-permen itu masih utuh, maka saya akan memberimu 50 permen.” Nah, dari kedua puluh anak yang diteliti, ternyata hanya satu saja yang mampu melewati batas waktu 5 menit untuk menahan dan tidak mengambil ataupun memakan permen yang ada di depannya.
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, dari penelitian itu coba kita sedikit belajar tentang tingkah laku seorang anak kecil bahwa mereka (anak-anak kecil) itu lebih tertarik dengan apa-apa yang ada di depannya ketimbang apa yang kita janjikan, meskipun janji itu lebih besar ketimbang apa yang ada di depannya.
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, sesuai dengan fitrahnya, anak-anak kecil memang akan cenderung mengikuti keinginannya. Mereka juga tidak kuasa menahan keinginannya atas sesuatu yang ada di depannya. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita control apa saja yang kita sugguhkan dihadapan anak kita, bukan Cuma soal makanan tentunya, melainkan hal-hal lain juga seperti tontonan, mainan dan apapun. Sebagai contoh, kita melarang anak kita makan coklat, tapi kita biarkan ada seonggok coklat didepannya, tentu ia akan sulit menahan diri. Missal lagi, kita melarang anak kita berkelahi dengan temannya, tapi kita biarkan anak kita nonton smackdown, tentu rasa ingin prektek muncul kan? dan masih banyak contoh-contoh yang lain tentunya. Nah, Sahabat pembaca sekalian, Jangan sampai apa yang kita berikan kepada anak kita jauh dari unsur mendidik terlebih jauh dari kebaikan, karena “Dari (Abu) Hurairah ra. Dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang anakpun kecuali ia dilahirkan menurut fitrah. kedua orang tua nyalah yang akan menjadikan yahudi, nasrani, dan majusi sebagaimana binatang melahirkan binatang dalam keadaan sempurna……” (HR Bukhari Muslim). Semoga bermanfaat
Saya : 100% Kak Wall
Cerita Hari ini : Binatang di Belantara
Assalamu’alaikum, salam ceria untuk sahabat pembaca semuanya. Siap untuk mebaca cerita hari ini? Baik, kita mulai ceritanya ya…? Kak_Wall kasih Judul BINATANG DI BELANTARA wwuuuuuusssssssshhhhhhh
“Dulu, disebuah hutan belantara yang sangat luas sekali, hiduplah berbagai macam binatang. Dari binatang kecil sampai yang besar… ada gajah dengan belalai dan gadingnya, ada singa, ada macan, ada ular, kambing, ada sapi. Ada pula dari kalangan unggas, ayam, bebek, dan juga binatang-binatang yang lain. Ketika itu hutan masih sangat lebat hijau dan rindang. Pada waktu itu semua binatang masih berbicara seperti bahasa manusia, maksudnya dengan bahasa manusia seperti kita saat ini.
Suatu ketika, malaikat pejaga hutan mengumumkan dihadapan seluruh binatang,
Malaikat : “Wahai sekalian para binatang, berkumpulah dihadapanku!”
Singa menjawab,
Singa :”Ya…ayo kalian semua berkumpul!” (perintah sang raja hutan kepada seluruh binatang yang ada, dan semua binatang pun berkumpul)
Binatang-binatang lain : “Ya,, ya,,, ya,,ya kami berkumpul” (riuh rendah alias ramai suara binatang saling bersahutan melaksanakan perintah.)
Malaikat :”Aku akan mengumumkan kepada kalian bahwa sebentar lagi akan diciptakan manusia.”
Binatang-binatang :”Hah, manusia? Manusia? Manusia? Manusia itu apa?” (suara binatang saling bersahutan bertanya-tanya apa itu manusia)
Malaikat :”Manusia itu makhluk yang diciptakan terakhir kali. Dan kalian akan hidup bersama mereka. Maka, hari ini aku perintahkan kalian untuk mencari bahasa dan suara dari masing-masing kalian, karena bahasa yang kalian pakai saat ini adalah bahasa manusia.”
Kuda bertanya,
Kuda :”Malaikat, apakah setiap jenis kami harus memiliki suara yang berbeda?”
Malaikat :”Ya, kalian harus mencari suara yang berbeda, karena itu yang akan membedakan masing-masing dari kalian.”
Binatang-binatang :”baik, baik, ya kami akan laksanakan.”
Malaikat :”Aku akan kembali setelah tujuh hari lagi, kalian harus mendapatkan suara itu.”
Malaikat pun meninggalkan kawanan binatang itu.
____x_____lhulhulhuppppp_____x______
Hari berganti hari, masing-masing binatang sibuk mempersiapkan suara apa yang harus mereka dapatkan dalam 7 hari. Dan mulailah mereka berlatih suara-suara itu.
Kambing :”Eemmmbbeeekkkk,,,emmmbbeeekkk, wah sepertinya ini bagus untukku.”(kata kambing)
Ayambetina :”kok kok kok petok, petok”
Singa :”uuuaaarrruuuuuggggkkkkk, ini pas sekali untukku sang raja hutan”
Ular :”ssstttt…ppssssstttt….ppssssttttt…..”
Begitulah sibuknya masing-masing binatang bersibuk diri mencari suara yang khas untuk diri mereka. Tak terasa 7 hari berlalu, semua binatang telah mempersiapkan suara mereka, kecuali seekor burung Beo yang hanya memperhatikan dan mengomentari saja suara-suara yang didapatkan binatang-binatang yang lainnya. Di hari ke delapan, Malaikat datang.
Malaikat :”Baik, ini sudah lewat dari hari yang bisa kalian pakai untuk mendapatkan suara kalian. Aku akan menanyai kalian satu per satu. Apa kalian siap?”
Binatang-binatang :”Ya, kami siaapppp” (Binatang-binatang menjawab serentak)
Malaikat :”Baik, akan ku mulai. Silakan Singa, kamu sang raja hutan, tunjukkan kepada binatang yang lain.”
Singa : “uuuaaarrruuuuuggggkkkk..uuuaaarrruuuuuggggkkkk , itu suaraku”
Beo :”hahaha…suara ko kayak gitu, seperti mau muntah saja”(Beo berkomentar)
Malaikat : “Bagus, itu suara cukup pantas untukmu. Sekarang kambing!”
Kambing : “Emmmbeeekkk…eemmbbeeekkk”
Beo : “hhhaaaa jelek sekali seperti mukamu mbing.” (Beo berkomentar lagi)
Malaikat : “itu juga pantas untukmu. Aku berikan suara itu untukmu . (Kata Malaikat kepada kambing) Silakan bebek!”
Bebek :”kweekkk kweekkk kweekkk”
Beo :”seperti sedang dicekik saja… huhuhu” (Beo terus berkomentar dan mengejek setiap binatang yang mengeluarkan suaranya)
Malaikat :”itu khas sekali, aku ijinkan kau memakai suara itu.kuda!”
Kuda : “iiiiiieeeehhhhhh”
Kucing :”Meeooonggg”
Ular :”ppsssttttt pppssstttttttttttt…”
Si Beo terus saja mengejek setiap binatang yang mengeluarkan suaranya. Tak terasa, semua binatang telah ditanya oleh malaikat, tinggalah Si Beo yang belum ditanya.
Malaikat :”Beo!!! Dari tadi kamu hanya berkomentar dan menjelek-jelekkan suara binatang yang lain saja. Sekarang tunjukkan seperti apa suarmu!!!” (Malaikat berkata kepada Beo dengan nada marah)
Beo :”Ini suaraku… eemmmbbbeeekk…”
Malaikat :”Itu suara kambing.”
Beo :”baik-baik akan ku ganti… Emmmhhhmmmooooouuuuuhhhhhhh”
Malaikat :”Tidak bisa!itu milik sapi”
Beo :”Baik akan ku ganti lagi, tunggu dulu …. Uu uu uukk aakk aa aakk uu uukk”
Malaikat :”Tidak bisa!Itu milik kera.”
Ternyata setelah sekian banyak suara dikeluarkan oleh si Beo, tidak ada satupun suara yang boleh digunakan. Karena semua suara telah dipakai oleh binatang yang lainnya.
Malaikat :”Beo! Dari tadi kamu hanya mengejek saja suara-suara yang dikeluarkan binatang-binatang yang lainnya, sampai kau tidak punya suara sendiri. Mulai hari ini, aku hukum kamu. Tidak akan ku berikan suara sendiri untukmu dan kamu hanya bisa menirukan suara-suara yang kamu dengarkan saja.”
Beo :”hiks hiks…” (Si Beo menangis menyesali apa yang telah dilakukannya)”
Begitulah kisah tentang binatang-binatang di hutan belantara itu. Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata, kalau kita terlalu sering disibukkan dengan kedengkian kepada orang lain, kita tidak akan sempat memikirkan diri kita sendiri kan? Samapai-sampai kita sendiri tidak punya sesuatu yang berharga dalam diri kita. Na’udzubillah…
Baik, sekian dulu ya cerita hari ini? Salam ceriaaaa…..
Saya : 100% Kak Wall
Mendidik itu Cantik, Teladan itu Menawan
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya. Siapa yang tau apa rahasia cantik itu apa? Apa yang menyebabkan cantik? Yupz… betul sekali, bagi sahabat yang merasa cantik berterimakasihlah pada huruf C, karena kalau tidak ada huruf C sahabat-sahabat semua akan menjadi barang yang layak untuk dimuseumkan. Hehehe just kidding lhooo..
Well, kenapa saya berikan judul mendidik itu cantik & teladan itu menawan? Begini ceritanya. Beberapa waktu yang lalu saya baru saja berbincang dengan seorang rekan yang belum lama saya kenal. Beliau adalah seorang pemilik sebuak Kelompok Bermain dan juga Taman Kanak-kanak. Kami berbincang “ngalor-ngidul” terkhusus soal pendidikan dan juga kondisi di Taman Bermain miliknya itu, dan memang saat itu kami berbincang sambil sesekali dikerubuti anak-anak yang sekedar salaman sampai ikut nimbrung kami ngobrol (meskipun kelihatannya anak-anak itu juga belum paham apa yang kami obrolkan). Nah, rekan saya itu bercerita tentang kondisi di tempat itu, terutama soal Guru-gurunya yang sering keluar masuk dengan berbagai macam alasan. Ada sepenggal pernyataan yang saya catat dalm pikiran saya “Tapi gini mas, mereka (guru) yang disini sejak awal atau lama cara mengajarnya tu benar-benar seperti dari hati, dan apa-apa yang dilakukan itu lebih diikuti anak-anak, dan saya malah kadang sampai berpikir gini : kalau dalam jangka waktu tertentu seorang guru baru tidak mampu membuat anak-anak tertarik kepadanya dan mengikuti instruksinya, hampir bisa dipastikan beberapa bulan kemudian dia akan mengundurkan diri. Dan itu sering mas. Apalagi disini kami belum bisa melebihi UMR.”
Sejenak, saya amati guru yang ditunjukkan rekan saya itu, guru-guru yang senior disana, dan memang benar, meskipun secara usia boleh dibilang masih ibu-ibu muda, tapi cara mereka berkomunikasi dengan anak benar-benar hangat, wajar saja anak-anak begitu dekat dan mendengarkan serta mengikuti perintah dari guru mereka. Saya tidak tahu apakah kata-kata yang mereka ucapkan itu sudah disusun sebelumnya, tapi saya rasa tidak. Teman saya juga bercerita : “kalau kadang guru-guru ini membersihkan kelas (nyapu) anak-anak sering berebut sapu untuk membantu menyapu, atau membantu menata sepatu di rak, (karena memang disana semua alas kaki harus dilepas), hal-hal kecil seperti itu mereka lakukan sendiri lho mas, ndak pernah diminta “Ayo Bunda dibantu nyapu” atau yang lainnya.”
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita simpulkan dari cerita rekan saya itu, Pertama, mendidik dari hati, dengan cinta dan ketulusan tentu akan sangat jauh berbeda dengan hanya mengajar karena tuntutan pekerjaan semata. Seperti pepatah mengatakan Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerja Ikhlas. Kerja Keras itu bisa diupayakan, Kerja Cerdas bisa dipelajari, Tapi Kerja Ikhlas harus datang dari hati.
Kedua, perbuatan yang kita lakukan didepan anak-anak kita itu lebih mereka perhatikan ketimbang kita hanya menyuruh atau menerintahkan sesuatu. Nah, kalau anak-anak sudah mengikuti kebiasaan baik kita, itu artinya mereka sudah tertawan dengan keteladanan yang kita berikan, kalau sudah tertawan dengan keteladanan kita seperti itu, tinggal kita pilih-pilih aja keteladanan apa yang ingin kita masukkan. Semoga bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall
Jadi Teladan Yang Menemani, Bukan Memerintah
Assalamu’alaikum, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, teringat sepenggal kalimat yang diucapkan seorang teman di milad (ulang tahun) saya beberapa bulan yang lalu. Meskipun sebenarnya saya bukan penganut orang-orang yang merayakan hari seperti itu, tapi Alhamdulillah banyak yang mengucapkan dan mendo’akan saya. Yang salah satunya saya kutib menjadi judul di atas…
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, sejenak saya renungi kata-kata itu, apa sih maksudnya? Dan setelah daun saya bolak-balik, berbagai tabir saya singkap dan setiap pojok saya perhatikan (wah hiperbol banget ini), saya menemukan sesuatu yang luaarrrr biasa yang akan saya bagi untuk sahabat-sahabat semua Gratis tanpa dipungut biaya, tapi kalo maksa mau ngasih ya gak papa… banyak yang maksa lebih bagus. Xixixi
Sahabat pembaca yang baik hatinya, dalam beberapa pelatihan yang saya ikuti tentang mendidik anak dengan berbagai macam metode, saya menemukan sebuah kesamaan metode mendidik yang baik dari berbagai pelatihan tersebut, apa itu? Yupz, keteladanan. Tentu sahabat sekalian sudah sangat paham semisal kita menyuruh anak kita shalat, akan berbeda hasilnya jika kita juga shalat dengan kita tidak shalat kan? Nah, itulah salah satu sisi dari keteladanan.
Trus, apa dong maksudnya teladan yang menemani dan bukan teladan yang memerintah? Yupz, pertanyaan yang bagus (padahal yang tanya yang nulis). Sebagai contoh sederhana seperti ini, kembali lagi contohnya shalat ajalah yang gampang&wajib. Kita sudah shalat dengan baik setiap harinya, maksudnya rajin dan sudah tidak bolong-bolong. Nah, kita bermaksud menyuruh anak kita untuk ikut shalat juga, kira-kira pilih kata-kata yang mana ya?
A. Nak, sana shalat dulu!
B. Nak, sudah shalat belum? Ayo shalat dulu…!
Dua aja ah pilihannya. Yang pertama perintah dan yang kedua ajakan. Tentu akan lebih terasa hangat sebuah ajakan bukan? Dan Insya’ Allah sahabat-sahabat semua punya kata-kata yang lebih hangat untuk anak-anak sahabat semuanya.
Nah itu tadi sahabat-sahabat yang baik hatinya, pilihan pertama adalah yang saya maksud dengan teladan yang memerintah dan pilihan ke dua adalah teladan yang menemani. Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, anak-anak kita atau bahkan kita sendiri tentu akan merasakan sesuatu yang berbeda jika kita diminta melakukan sesuatu kebaikan dengan perintah dibanding dengan ajakan, bahkan meskipun yang mengajak itu tidak melakukan. So, sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, anak-anak kita pun juga seperti itu kurang lebih, jadi kesimpulannya menjadi teladan yang baik saja belum cukup, tapi harus ditambah dengan sikap peduli dan perhatian.
Saya : 100% Kak Wall
Sebijak Ibrahim, Sesabar Ismail, Seikhlas Keduanya
Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, esok hari Insya’ allah kita akan sambut Hari Raya ‘Idul Adha, sudah siapkan baju baru? Sarung baru? Peci baru? Sajadah baru? Haduuuhhh gak seribet itu juga kaleeee….
Seperti yang kita tahu, setelah kita mengerjakan Shalat ‘Ied, biasanya akan terjadi pembunuhan masal dimana-mana. Eits, jangan negative dulu, pembunuhannya berpahala kok. Yups, tepat sekali, Qurban. ‘Idul Ahda juga sering disebul ‘Idul Qurban kan? Siapa yang gak doyang daging kambing angkat tangan? Besok boleh dianter kerumah yak? (modus.hehehe).
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, tentu sudah hafal kan cerita tentang asal muasal alias awal mula Qurban? Yupz, tentu saja kita akan teringat Nabi Ibrahim as dan puteranya Ismail. Tapi saya tidak akan menceritakan itu semua di sini, hanya sepenggal saja. Dalam sejarah, ketika Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih puteranya, beliau tidal lantas serta-merta melaksanakannya, melainkan beliau bertanya pendapat Ismail. Kurang lebih dalam sejarah diceritakan Ibrahim as bertanya kepada Ismail : “Dalam tidurku, aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana pendapatmumu?” dan Ismail pun yang sadar bahwa mimpi seorang Nabi adalah wahyu dengan tegas ia menjawab “Wahai ayahku, laksanakah Allah kepadamu. Engkau akan menemiuiku Insya’ Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. ……….” Kemudian Ismail mengajukan beberapa permintaan antara lain agar diikat kuat, agar ditanggalkan pakaiannya dan agar sang ayah menggunakan pedang yang tajam. Yah kurang lebih seperti itu penggalan cerita yang saya ambil.
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, begitu luar biasa bukan hikmah dari cerita di atas. misal saat ini anak-anak yang ada saat ini yang ditanya demikian, barangkali akan muncul beberapa pilihan jawaban :
A. Mau nyembelih Gue? Langkahi dulu Jurang blakang rumah.
B. Mau nyembelih Gue? Wani Pira?
C. Mau nyembelih Gue? Gue Gibeng Juga Loe.
Haduuuhhh,,, Horooooorrrrrrrrrrr…
Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita kembalikan pada diri kita, bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Apakah masih sering kita memaksakan kehendak? Atau sudah kita sering berdiskusi dengan anak-anak kita? Misal kita punya anak laki-laki yang sudah waktunnya sunat, apa yang kita lakukan?
A. Langsung antar ke tukang sunat langsung potong.
B. Menunggu anak minta sendiri.
C. Membicarakan dengan si anak.
Pilihan A tentu sangat beresiko jika anak mempunyai ketakutan yang besar. Pilihan B bisa jadi yang baik tatkala si anak merasa sudah waktunya atau sudah berani, tapi jika si anak mempunyai ketakutan besar juga, maka akan jadi masalah juga, bisa-bisa lulus SMA baru mau sunat. Nah, pilihan C barangkali bisa jadi pilihan yang baik. Berdiskusi dengan anak akan membuat kita tau seperti apa anak yang anak kita mau. Dengan menyampaikan kenapa sunat dan berbagai manfaat dari sunat bisa membuat anak mengerti dan menghilangkan rasa takut.
Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, bersikap bijak kepada anak tentu lebih baik ketimbang kita selalu memaksakan apa-apa yang kita harapkan dari anak kita. Dan anak akan menjadi lebih nyaman menerima dengan merasa pendapatnya didengarkan. Nah, kalau sudah seperti kita bisa mengambil jalan tengah dari apa yang kita harapkan dan dengan pendapat anak-anak kita, tentu setelah itu keikhlasan yang akan muncul bukan? Semoga bermanfaat.
Saya : 100% Kak Wall




