Penyakit Kronis Kehidupan

Assalamu’alaikum, sahabat pembaca yang baik hatinya. Bagaimana kabar hari ini? Semoga senantiasa sehat ditengah cuaca yang mulai tak menentu ini. Aamiin…
“Kak, kenapa judul tulisannya kayak gitu? Kayak mau bahas soal penyakit aja?”
Barangkali itu pertanyaan yang terlintas di benak sahabat pembaca sekalian ketika melihat judul tulisan saya kali ini. Tapi tepat sekali, karena kali ini saya akan sedikit membahas tentang penyakit-penyakit yang berkembang sudah sejak lama bahkan hingga saat ini masih banyak kita jumpai di sekitar kita. Eit, tapi bukan penyakit secara fisik macam flu, batuk pilek dan sejenisnya lho, tapi ini penyakit yang menjangkit pelajar-pelajar atau anak didik khususnya dan kita semua pada umumnya.
“Penyakit apa sih?”

Baik, dari pada penasaran kita mulai saja dengan yang pertama.
ASMA. Ada yang pernah dengar sebelumnya tentang penyakit ini? Tapi bukan Bengek lho… Asma disini adalah singkatan dari ASAL MASUK. Banyak pelajar-pelajar kita yang sekolah itu “yang penting masuk kelas”, perkara ikuti pelajaran atau nyatet itu urusan belakangan. Istilahnya yang penting presensinya penuh.

Yang ke dua, KURAP. “Maaf tidak bermaksud menyidir kulit sahabat sekalian.” Hehehe maksudnya adalah KURANG RAPI. Coba kita tengok pelajar-pelajar kita, masih ada kagak yang sekolah itu asal pake’ bajunya? Baju dikeluarin, kaus kaki kumal, sepatunya ketika ada ibu hamil nyium langsung lahir anaknya (yang ini berlebihan. Hehehe) dan lainnya, tapi itu baru dari segi penampilan saja. Dan biasanya, kalo yang udak kayak gitu, sekolanyapun juga kurang rapi, catatan buku misalnya dan juga yang lainnya.

Yang ke tiga, KUDIS, yaitu KURANG DISIPLIN. Jadwal masuk jam 7, eh,,, setengah 8 baru berangkat. Yang lain pake’ OSIS e, dia pake Pramuka, dan masih banyak ketidak disiplinan yang lainnya yang bisa kita jumpai dilingkungan pelajar kita.

Yang ke empat, KUMAT. KURANG SEMANGAT. Lemes, loyo, tidak bergairah, itu profil-profil pelajar kita. Why? Salah satunya karena mereka tidak punya motivasi yang mendorong mereka berprestasi. Sebenarnya buka tidak ada, melainkan mereka belum menemukan atau belum menyadari saja, karena sebenarnya motivasi-motivasi itu bisa datang dari yang terdekat, misal orang tua, guru, teman dll.

MABUK yang ke lima, alias MALAS BUKA BUKU. Buku adalah Gudang Ilmu, atau Buku adalah Jendela Ilmu dan masih banyak istilah yang lainnya yang semua mengartikan betapa pentingnya buku atau begitu besar manfaat buku. Lalu apa jadinya jika pelajar-pelajar kita sudah malas membuka buku? “Ada PR yaudah biarin aja. Suruh menyalin tulisan, ah nanti aja.” Dan lain-lain.

BATUK, ini yang ke enam, yaitu BACA NGANTUK. Tidak sedikit pelajar kita yang menderita penyakit ini, ngantuk ketika baca buku pelajaran. Tapi, anehnya, ngantuk itu datangnya tidak secepat ketika membaca pelajaran jika ia sedang baca yang lain, misalnya SMS, Chatting dan sejenisnya. Heeemmmm…

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, sedikit yang bisa saya tulis kali ini, karena masih banyak penyakit-penyakit yang menyerang pelajar kita saat ini. Tapi, intinya adalah, mari, bagaimana kita berperan untuk memberantas penyakit-penyakit itu. Apa itu hanya tugas guru? Karena tentu saja tidak. Itu adalah tugas kita semua, yang menjadi guru, tentu untuk muridnya, yang jadi orang tua untuk anaknya, yang hidup bermasyarakat untuk lingkungannya.

“Bagaimana caranya?” Yupz, tentu saja dengan kita menanamkan kesadaran kepada anak-anak didik di lingkungan kita tentang begitu pentingnya belajar untuk masa depannya.
“Tapi mereka Ngeyel?” Itu hanya proses bagaimana ia akan memahami yang kita sampaikan. Sabar dan terus kita lakukan saja.
“Ah, cuek ajalah, saya kan masih muda, belum punya anak…?” Ingat, merekalah yang nantinya akan berganti mendidik anak-anak kita, tentu kita tidak mau kan anak-anak kita dididik dengan cara yang kurang baik?

Saya : 100% Kak Wall
Senin, 04 November 2013
Posted by Kak Wall

Pandawa Lima

Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, salam jumpa penuh ceria di Kamis nan indah penuh berkah ini, Insya’ Allah. Sahabat-sahabat yang baik hatinya, adakah diantara sahabat sekalian yang pernah melihat pagelaran Wayang Kulit? Atau serial di Tipi-Tipi tentang kisah Mahabarata gitu? Atau minimal tau laahhh PANDAWA LIMA? Ya Kan? Yupz, tokoh pewayangan ini memang sangat terkenal dalam dunia pewayangan, 5 ksatria hebat dengan berbagai kelebihan masing-masing.
Nah, saya teringat cerita beberapa waktu yang lalu ketika saya mengikuti sebuah pelatihan. Dalam pelatihan itu, salah satu narasumber yang dihadirkan adalah seorang budayawan, terkhusus beliau piawai dalam seni Pedalangan atau Wayang. Dalam pelatihan itu, beliau menuturkan tentang filosofi Pandawa Lima yang dapat dikaitkan dengan dunia pendidikan. Kurang lebih seperti ini kutipan cerita beliau waktu itu :

“Pandawa Lima, sejatinya adalah satu kesatuan yang menggambarkan pribadi manusia. Lima Ksatria itu, sebenarnya hanyalah perlambang/symbol dari masing-masing sifat atau kelebihan yang ada pada diri manusia. Menanamkan sifat-sifat seperti watak kesatuan dari pandawa lima itu hendaklah dilakukan dari masa kecil seorang anak, karena jika demikian tentunya bukan hanya sekedar karbitan. Berikut ini akan saya gambarkan apa sih keistimewaan atau sifat apa yang digambarkan dari masing-masing tokoh.

Yang pertama, Puntadewa. Watak yang paling menonjol dari penggambaran tokoh ini adalah ketaatan kepada Tuhan YME. Makanya tokoh ini adalah tokoh tertua dalam pandawa, artinya tokoh yang pertama. Seperti dalam menanamkan kepada anak, tentu mengajarkan ketaatan kepada Allah haruslah yang pertama.

Yang kedua, Bima/Wrekudara dalam bahasa jawa. Watak utama tokoh ini adalah kekuatan. Kekuatan disini maksudnya adalah kemampuan untuk melakukan dan kerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Yang ketiga, Janaka/Arjuna. Tokoh ini symbol dari rasa cinta dan kasih sayang. Sifat ini sangatlah penting kita tanamkan sejak kecil, sekalipun itu dilakukan kepada makhlukNya yang terkecil sekalipun, misalnya semut, jangan liat semut dikit “Githes” atau apa bunuh dan lain sebagainya termasuk cinta kepada sesame manusia.

Yang ke empat dan kelima, yaitu Nakula Sadewa. Keselarasan, kerukunan dan keseimbangan adalah penggambaran dari karakter dua tokoh ini. Begitupun hidup ini juga harus seimbang, kita mendidik jangan melulu soal akhrirat semata, tetapi juga soal keduniaan. Tentunya dengan seimbang, tapi ingat, seimbang tidak selalu sama. Dan hidup juga harus rukun dengan sesame tentunya.

Jadi kesimpulannya adalah, kelima watak utama tokoh Pandawa itu adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Apalagi berdiri sendiri. Dan jika mampu kita tanamkan dalam kita mendidik anak-anak kita, Insya’ Allah anak-anak kita kelak akan menjadi anak yang baik. Dan jangan sampai hilang salah satu watak tersebut. Misalnya seperti ini, Taat ibadah kepada Allah, punya kekuatan untuk melakukan kebaikan, tapi tidak didasari dengan cinta, maka hasilnya juga tidak maksimal. Atau contoh lagi, dengan kiri kanan baik, cinta kepada sesama, tapi tidak punya ketaatan kepada Allah, tentu akan rusak juga. Oleh sebab itu, mari kita tanamkan watak-watak yang baik kepada anak-anak kita sejak kecil.”

Sahabat pembaca yang baik hatinya, itu tadi kutipan penjelasan dari seorang budayawan Wayang kulit yang bisa saya kutipkan untuk sahabat pembaca semuanya. Entah kebenaran dari cerita dalam Pewayangan itu nyata atau tidak. Tapi, setidaknya ada pelajaran yang dapat kita petik dalam penceritaan ataupun tokoh seperti yang digambarkan diatas. Semoga bermanfaat.

Saya : 100% Kak Wall
Kamis, 31 Oktober 2013
Posted by Kak Wall

MANA TAHAAAANNNN???

Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, apa kabarnya hari ini? Sekedar mengingatkan, mari kita jaga kondisi fisik kita, terlebih dimusim pancaroba seperti ini, konon lebih rentan terhadap kondisi kesehatan kita, dari mulai flu, pilek dan lain-lain jadi sering mampir.

Well, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita mulai masuk ke tema hari ini Ada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak kecil di suatu Negara, penelitian itu cukup sederhana, menggunakan media permen. Seorang peneliti menginstruksikan kepada 20 anak dengan istruksi sebagai berikut “kamu akan saya tinggal diruangan ini sendiri selama 5 menit, di depan kamu ada 1buah permen, jika kamu mengambil permen itu dan memakannya sebelum saya datang, maka kamu tidak akan mendapat apa-apa, tapi, jika dalam waktu 5 menit sampai saya datang kembali permen-permen itu masih utuh, maka saya akan memberimu 50 permen.” Nah, dari kedua puluh anak yang diteliti, ternyata hanya satu saja yang mampu melewati batas waktu 5 menit untuk menahan dan tidak mengambil ataupun memakan permen yang ada di depannya.

Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, dari penelitian itu coba kita sedikit belajar tentang tingkah laku seorang anak kecil bahwa mereka (anak-anak kecil) itu lebih tertarik dengan apa-apa yang ada di depannya ketimbang apa yang kita janjikan, meskipun janji itu lebih besar ketimbang apa yang ada di depannya.

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, sesuai dengan fitrahnya, anak-anak kecil memang akan cenderung mengikuti keinginannya. Mereka juga tidak kuasa menahan keinginannya atas sesuatu yang ada di depannya. So, sahabat pembaca yang baik hatinya, mari kita control apa saja yang kita sugguhkan dihadapan anak kita, bukan Cuma soal makanan tentunya, melainkan hal-hal lain juga seperti tontonan, mainan dan apapun. Sebagai contoh, kita melarang anak kita makan coklat, tapi kita biarkan ada seonggok coklat didepannya, tentu ia akan sulit menahan diri. Missal lagi, kita melarang anak kita berkelahi dengan temannya, tapi kita biarkan anak kita nonton smackdown, tentu rasa ingin prektek muncul kan? dan masih banyak contoh-contoh yang lain tentunya. Nah, Sahabat pembaca sekalian, Jangan sampai apa yang kita berikan kepada anak kita jauh dari unsur mendidik terlebih jauh dari kebaikan, karena “Dari (Abu) Hurairah ra. Dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang anakpun kecuali ia dilahirkan menurut fitrah. kedua orang tua nyalah yang akan menjadikan yahudi, nasrani, dan majusi sebagaimana binatang melahirkan binatang dalam keadaan sempurna……” (HR Bukhari Muslim). Semoga bermanfaat

Saya : 100% Kak Wall
Senin, 28 Oktober 2013
Posted by Kak Wall

Cerita Hari ini : Binatang di Belantara

Assalamu’alaikum, salam ceria untuk sahabat pembaca semuanya. Siap untuk mebaca cerita hari ini? Baik, kita mulai ceritanya ya…? Kak_Wall kasih Judul BINATANG DI BELANTARA wwuuuuuusssssssshhhhhhh
“Dulu, disebuah hutan belantara yang sangat luas sekali, hiduplah berbagai macam binatang. Dari binatang kecil sampai yang besar… ada gajah dengan belalai dan gadingnya, ada singa, ada macan, ada ular, kambing, ada sapi. Ada pula dari kalangan unggas, ayam, bebek, dan juga binatang-binatang yang lain. Ketika itu hutan masih sangat lebat hijau dan rindang. Pada waktu itu semua binatang masih berbicara seperti bahasa manusia, maksudnya dengan bahasa manusia seperti kita saat ini.
Suatu ketika, malaikat pejaga hutan mengumumkan dihadapan seluruh binatang,
Malaikat : “Wahai sekalian para binatang, berkumpulah dihadapanku!”
Singa menjawab,
Singa :”Ya…ayo kalian semua berkumpul!” (perintah sang raja hutan kepada seluruh binatang yang ada, dan semua binatang pun berkumpul)
Binatang-binatang lain : “Ya,, ya,,, ya,,ya kami berkumpul” (riuh rendah alias ramai suara binatang saling bersahutan melaksanakan perintah.)
Malaikat :”Aku akan mengumumkan kepada kalian bahwa sebentar lagi akan diciptakan manusia.”
Binatang-binatang :”Hah, manusia? Manusia? Manusia? Manusia itu apa?” (suara binatang saling bersahutan bertanya-tanya apa itu manusia)
Malaikat :”Manusia itu makhluk yang diciptakan terakhir kali. Dan kalian akan hidup bersama mereka. Maka, hari ini aku perintahkan kalian untuk mencari bahasa dan suara dari masing-masing kalian, karena bahasa yang kalian pakai saat ini adalah bahasa manusia.”
Kuda bertanya,
Kuda :”Malaikat, apakah setiap jenis kami harus memiliki suara yang berbeda?”
Malaikat :”Ya, kalian harus mencari suara yang berbeda, karena itu yang akan membedakan masing-masing dari kalian.”
Binatang-binatang :”baik, baik, ya kami akan laksanakan.”
Malaikat :”Aku akan kembali setelah tujuh hari lagi, kalian harus mendapatkan suara itu.”
Malaikat pun meninggalkan kawanan binatang itu.
____x_____lhulhulhuppppp_____x______
Hari berganti hari, masing-masing binatang sibuk mempersiapkan suara apa yang harus mereka dapatkan dalam 7 hari. Dan mulailah mereka berlatih suara-suara itu.
Kambing :”Eemmmbbeeekkkk,,,emmmbbeeekkk, wah sepertinya ini bagus untukku.”(kata kambing)
Ayambetina :”kok kok kok petok, petok”
Singa :”uuuaaarrruuuuuggggkkkkk, ini pas sekali untukku sang raja hutan”
Ular :”ssstttt…ppssssstttt….ppssssttttt…..”
Begitulah sibuknya masing-masing binatang bersibuk diri mencari suara yang khas untuk diri mereka. Tak terasa 7 hari berlalu, semua binatang telah mempersiapkan suara mereka, kecuali seekor burung Beo yang hanya memperhatikan dan mengomentari saja suara-suara yang didapatkan binatang-binatang yang lainnya. Di hari ke delapan, Malaikat datang.
Malaikat :”Baik, ini sudah lewat dari hari yang bisa kalian pakai untuk mendapatkan suara kalian. Aku akan menanyai kalian satu per satu. Apa kalian siap?”
Binatang-binatang :”Ya, kami siaapppp” (Binatang-binatang menjawab serentak)
Malaikat :”Baik, akan ku mulai. Silakan Singa, kamu sang raja hutan, tunjukkan kepada binatang yang lain.”
Singa : “uuuaaarrruuuuuggggkkkk..uuuaaarrruuuuuggggkkkk , itu suaraku”
Beo :”hahaha…suara ko kayak gitu, seperti mau muntah saja”(Beo berkomentar)
Malaikat : “Bagus, itu suara cukup pantas untukmu. Sekarang kambing!”
Kambing : “Emmmbeeekkk…eemmbbeeekkk”
Beo : “hhhaaaa jelek sekali seperti mukamu mbing.” (Beo berkomentar lagi)
Malaikat : “itu juga pantas untukmu. Aku berikan suara itu untukmu . (Kata Malaikat kepada kambing) Silakan bebek!”
Bebek :”kweekkk kweekkk kweekkk”
Beo :”seperti sedang dicekik saja… huhuhu” (Beo terus berkomentar dan mengejek setiap binatang yang mengeluarkan suaranya)
Malaikat :”itu khas sekali, aku ijinkan kau memakai suara itu.kuda!”
Kuda : “iiiiiieeeehhhhhh”
Kucing :”Meeooonggg”
Ular :”ppsssttttt pppssstttttttttttt…”
Si Beo terus saja mengejek setiap binatang yang mengeluarkan suaranya. Tak terasa, semua binatang telah ditanya oleh malaikat, tinggalah Si Beo yang belum ditanya.
Malaikat :”Beo!!! Dari tadi kamu hanya berkomentar dan menjelek-jelekkan suara binatang yang lain saja. Sekarang tunjukkan seperti apa suarmu!!!” (Malaikat berkata kepada Beo dengan nada marah)
Beo :”Ini suaraku… eemmmbbbeeekk…”
Malaikat :”Itu suara kambing.”
Beo :”baik-baik akan ku ganti… Emmmhhhmmmooooouuuuuhhhhhhh”
Malaikat :”Tidak bisa!itu milik sapi”
Beo :”Baik akan ku ganti lagi, tunggu dulu …. Uu uu uukk aakk aa aakk uu uukk”
Malaikat :”Tidak bisa!Itu milik kera.”
Ternyata setelah sekian banyak suara dikeluarkan oleh si Beo, tidak ada satupun suara yang boleh digunakan. Karena semua suara telah dipakai oleh binatang yang lainnya.
Malaikat :”Beo! Dari tadi kamu hanya mengejek saja suara-suara yang dikeluarkan binatang-binatang yang lainnya, sampai kau tidak punya suara sendiri. Mulai hari ini, aku hukum kamu. Tidak akan ku berikan suara sendiri untukmu dan kamu hanya bisa menirukan suara-suara yang kamu dengarkan saja.”
Beo :”hiks hiks…” (Si Beo menangis menyesali apa yang telah dilakukannya)”
Begitulah kisah tentang binatang-binatang di hutan belantara itu. Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, ternyata, kalau kita terlalu sering disibukkan dengan kedengkian kepada orang lain, kita tidak akan sempat memikirkan diri kita sendiri kan? Samapai-sampai kita sendiri tidak punya sesuatu yang berharga dalam diri kita. Na’udzubillah…
Baik, sekian dulu ya cerita hari ini? Salam ceriaaaa…..

Saya : 100% Kak Wall
Kamis, 24 Oktober 2013
Posted by Kak Wall

Mendidik itu Cantik, Teladan itu Menawan

Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya. Siapa yang tau apa rahasia cantik itu apa? Apa yang menyebabkan cantik? Yupz… betul sekali, bagi sahabat yang merasa cantik berterimakasihlah pada huruf C, karena kalau tidak ada huruf C sahabat-sahabat semua akan menjadi barang yang layak untuk dimuseumkan. Hehehe just kidding lhooo..

Well, kenapa saya berikan judul mendidik itu cantik & teladan itu menawan? Begini ceritanya. Beberapa waktu yang lalu saya baru saja berbincang dengan seorang rekan yang belum lama saya kenal. Beliau adalah seorang pemilik sebuak Kelompok Bermain dan juga Taman Kanak-kanak. Kami berbincang “ngalor-ngidul” terkhusus soal pendidikan dan juga kondisi di Taman Bermain miliknya itu, dan memang saat itu kami berbincang sambil sesekali dikerubuti anak-anak yang sekedar salaman sampai ikut nimbrung kami ngobrol (meskipun kelihatannya anak-anak itu juga belum paham apa yang kami obrolkan). Nah, rekan saya itu bercerita tentang kondisi di tempat itu, terutama soal Guru-gurunya yang sering keluar masuk dengan berbagai macam alasan. Ada sepenggal pernyataan yang saya catat dalm pikiran saya “Tapi gini mas, mereka (guru) yang disini sejak awal atau lama cara mengajarnya tu benar-benar seperti dari hati, dan apa-apa yang dilakukan itu lebih diikuti anak-anak, dan saya malah kadang sampai berpikir gini : kalau dalam jangka waktu tertentu seorang guru baru tidak mampu membuat anak-anak tertarik kepadanya dan mengikuti instruksinya, hampir bisa dipastikan beberapa bulan kemudian dia akan mengundurkan diri. Dan itu sering mas. Apalagi disini kami belum bisa melebihi UMR.”

Sejenak, saya amati guru yang ditunjukkan rekan saya itu, guru-guru yang senior disana, dan memang benar, meskipun secara usia boleh dibilang masih ibu-ibu muda, tapi cara mereka berkomunikasi dengan anak benar-benar hangat, wajar saja anak-anak begitu dekat dan mendengarkan serta mengikuti perintah dari guru mereka. Saya tidak tahu apakah kata-kata yang mereka ucapkan itu sudah disusun sebelumnya, tapi saya rasa tidak. Teman saya juga bercerita : “kalau kadang guru-guru ini membersihkan kelas (nyapu) anak-anak sering berebut sapu untuk membantu menyapu, atau membantu menata sepatu di rak, (karena memang disana semua alas kaki harus dilepas), hal-hal kecil seperti itu mereka lakukan sendiri lho mas, ndak pernah diminta “Ayo Bunda dibantu nyapu” atau yang lainnya.”

Sahabat-sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita simpulkan dari cerita rekan saya itu, Pertama, mendidik dari hati, dengan cinta dan ketulusan tentu akan sangat jauh berbeda dengan hanya mengajar karena tuntutan pekerjaan semata. Seperti pepatah mengatakan Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerja Ikhlas. Kerja Keras itu bisa diupayakan, Kerja Cerdas bisa dipelajari, Tapi Kerja Ikhlas harus datang dari hati.

Kedua, perbuatan yang kita lakukan didepan anak-anak kita itu lebih mereka perhatikan ketimbang kita hanya menyuruh atau menerintahkan sesuatu. Nah, kalau anak-anak sudah mengikuti kebiasaan baik kita, itu artinya mereka sudah tertawan dengan keteladanan yang kita berikan, kalau sudah tertawan dengan keteladanan kita seperti itu, tinggal kita pilih-pilih aja keteladanan apa yang ingin kita masukkan. Semoga bermanfaat.

Saya : 100% Kak Wall
Senin, 21 Oktober 2013
Posted by Kak Wall
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Artikel Menarik

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 100% Kak Wall -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -