Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Berita TV
Assalamu'alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Belakangan ini marak diperbincangkan
di media tentang kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi pada anak.
Seperti fenomena Gunung Es, terlihat kecil dari permukaan, namun begitu
banyak kasus-kasus yang tak sempat disorot media. Nanum, ketika yang
kecil itu terungkap, yang lain pun ikut mencair dan terkuak ke
permukaan.
Irinos memang. Entah siapa yang mulanya menjadi pemicu, entah para pelaku yang memang mengalami gangguan mental alias sudah gila, sehingga sudah tidak mampu menggunakan akal sehatnya. Atau justru dari para korban yang mungkin memiliki daya tarik tersendiri, yang barang kali menyebabkan ketika setan lewat di depan orang yang tak pernah punya niatan atau kecenderungan ke sana pun akhirnya tergiur. Atau mungkin bisa jadi kedua-duanya? Entahlah. Yang jelas, itu adalah kenyataan yang ada.
Sahabat pembaca yang baik hatinya. Kurang layak jika kita acuh dengan permasalahan-permasalahan tersebut semisal dengan mengatakan "Halah, itu cuma di Tipi-Tipi". Pasalnya, bukan tidak mungkin kasus serupa ternyata sudah ada di dekat kita dan hanya belum kita sadari. Sahabat pembaca yang baik hatinya, kira-kira bagaimana perasaan sahabat ketika salah satu nama korban yang disebut dalam sebuah kasus itu nama anak-anak sahabat? Hancur berkeping-keping? Remuk tak berbentuk? Saya rasa itu.
Nah, coba kita kaji sebenarnya dimana akar permasalahannya. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang bisa saja memicu terjadinya hal-hal tersebut. Pertama mari kita tilik dari pelaku. Dalam hal ini, saya yakin setiap pelaku yang tengah beraksi tentu saja kehilangan Imannya. Karena jelas mereka tidak bisa berpikir layaknya orang beriman. Sedangkan dari segi korban yang dalam hal ini anak-anak, bisa jadi karena memang belum sampainya ilmu mereka.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang tua? Yupz, tentunya kita memang harus membentengi anak-anak kita dengan kita didik tentang syariat Islam sejak dini. Contohnya dengan kita ajarkan anak-anak kita untuk menutup aurat dengan benar atau mengajarkan cara bergaul yang baik. Selain itu sahabat, ada hal-hal yang lain yang bisa kita lakukan misalnya dengan hal-hal berikut ini ; memilihkan sekolah yang disana kita bisa ikut berperan aktif dalam mengawasi dan mendidik anak kita, bukan berarti kita harus setiap saat kita berada di sekolah itu lho... Hal yang lain misalnya dengan kita mengawasi pergaulan anak-anak kita, juga termasuk tontonan-tontonan mereka di televisi. Dan masih banyak hal baik lainnya yang bisa kita lakukan untuk membentengi anak-anak kita dari tindakan kekarasan pada anak seperti kejahatan seksual seperti yang kita bicarakan sedari tadi. Sekian...
Saya : 100% Kak Wall
Irinos memang. Entah siapa yang mulanya menjadi pemicu, entah para pelaku yang memang mengalami gangguan mental alias sudah gila, sehingga sudah tidak mampu menggunakan akal sehatnya. Atau justru dari para korban yang mungkin memiliki daya tarik tersendiri, yang barang kali menyebabkan ketika setan lewat di depan orang yang tak pernah punya niatan atau kecenderungan ke sana pun akhirnya tergiur. Atau mungkin bisa jadi kedua-duanya? Entahlah. Yang jelas, itu adalah kenyataan yang ada.
Sahabat pembaca yang baik hatinya. Kurang layak jika kita acuh dengan permasalahan-permasalahan tersebut semisal dengan mengatakan "Halah, itu cuma di Tipi-Tipi". Pasalnya, bukan tidak mungkin kasus serupa ternyata sudah ada di dekat kita dan hanya belum kita sadari. Sahabat pembaca yang baik hatinya, kira-kira bagaimana perasaan sahabat ketika salah satu nama korban yang disebut dalam sebuah kasus itu nama anak-anak sahabat? Hancur berkeping-keping? Remuk tak berbentuk? Saya rasa itu.
Nah, coba kita kaji sebenarnya dimana akar permasalahannya. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang bisa saja memicu terjadinya hal-hal tersebut. Pertama mari kita tilik dari pelaku. Dalam hal ini, saya yakin setiap pelaku yang tengah beraksi tentu saja kehilangan Imannya. Karena jelas mereka tidak bisa berpikir layaknya orang beriman. Sedangkan dari segi korban yang dalam hal ini anak-anak, bisa jadi karena memang belum sampainya ilmu mereka.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang tua? Yupz, tentunya kita memang harus membentengi anak-anak kita dengan kita didik tentang syariat Islam sejak dini. Contohnya dengan kita ajarkan anak-anak kita untuk menutup aurat dengan benar atau mengajarkan cara bergaul yang baik. Selain itu sahabat, ada hal-hal yang lain yang bisa kita lakukan misalnya dengan hal-hal berikut ini ; memilihkan sekolah yang disana kita bisa ikut berperan aktif dalam mengawasi dan mendidik anak kita, bukan berarti kita harus setiap saat kita berada di sekolah itu lho... Hal yang lain misalnya dengan kita mengawasi pergaulan anak-anak kita, juga termasuk tontonan-tontonan mereka di televisi. Dan masih banyak hal baik lainnya yang bisa kita lakukan untuk membentengi anak-anak kita dari tindakan kekarasan pada anak seperti kejahatan seksual seperti yang kita bicarakan sedari tadi. Sekian...
Saya : 100% Kak Wall
Memilihkan Fasilitas
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya, bagaimana kabar sahabat hari ini?
Adakah yang sedang berbunga-bunga seperti yang saya rasakan? Atau
mungkin lebih dari itu? Berbunga-bunga, berdaun-daun, berpohon-pohon
sekalian akar-akarnya? (Ngomongin apaan sih?)
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pagi ini, saya baru saja berkunjung ke sebuah kantor yang ada di Kota Susu. Kota susu tahu kan? Yupz, Boyolali yang dalam bahasa Inggrisnya Crocodile Forget (yang ini ngawur tingkat tinggi.hehehe), maksud saya Kota yang punya Slogan Tersenyum. Kedatangan saya ke kantor itu bermaksud untuk menemui seorang petinggi di kantor itu. Maklum, yang namanya ketemu dengan orang yang berkesibukan tinggi tentunya bukan hal yang mudah, terlebih kalau belum janjian dan akhirnya saya pun harus menunggu cukup lama. Oleh salah seorang karyawan yang ada di kantor itu, saya diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu tamu yang cukup mewah lengkap dengan fasilitas yang cukup bagus. Sambil menunggu, di ruangan itu diputarkan sebuah video kajian untuk para orang tua di layar LCD TV yang lumayan besar. Saya pun menunggu ditemani ceramah oleh seorang ustadz dalam TV itu.
Nah, dalam kajian itu sang ustadz memberikan ceramah tentang fasilitas apa yang baik dan yang kurang baik untuk perkembangan anak. Sang ustadz mengawali dengan bertanya pada audiens “Ibu-ibu, pertemuan sebelumnya saya memberikan PR pada ibu-ibu untuk menanyai atau meminta nak-anak ibu menyebutkan 5 tokoh yang terkenal. Sekarang jawabannya apa bu? Lebih banyak yang menyebutkan Superman, Batman dan teman-temannya atau Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dan shahabat-shahabatnya?”. Peserta kajian pun menjawab dengan jujur agak malu-lamu dengan jawaban yang senada satu sama lain, yaitu tokoh-tokoh superhero. Kemudian sang ustadz mengatakan “Itulah hasil dari yang sudah kita lakukan selama ini.” Namun, ada seorang ibu dalam kajian itu sedikit mengelak dengan mengatakan “Tapi saya tidak pernah mengajarkan itu tadz.” Dengan bijak sang ustadz mengatakan “Ibu yang saya hormati, dalam kita mendidik anak, tentu kita harus pahami dulu bahwa pendidikan itu tidak hanya dalam keluarga saja, melainkan ada factor besar yang lainnya, sekolah dan lingkungan misalnya. Jika semua itu lepas dari control kita, tentu juga bisa membahayakan, terlebih jika kita tidak membentengi anak-anak kita dengan ilmu agama yang cukup, akan sangat mudah pengaruh-pengaruh negative masuk dalam diri anak kita. Nah, terkhusus kasus yang tadi, bagaimana anak-anak kita lebih hafal superhero daripada tokoh-tokoh Muslim, coba saya tanya pada ibu-ibu semuanya, Apakah ada diantara ibu-ibu di rumah ada yang tidak mempunyai TV?” Serentak ibu-ibu yang hadir sepakat mengatakan bahwa mereka semua mempunyai televisi. Kemudian ustadz pun melanjutkan “Nah, itulah ibu-ibu sekalian, barangkali itu yang belum kita sadari, kita memang tidak mengajarkan secara langsung, tapi kita memberikan fasilitas untuk anak-anak kita mengenal tokoh-tokoh itu. Dan mungkin yang belum kita lakukan adalah memberikan fasilitas juga bagi anak-anak kita untuk lebih mudah belajar tentang agama islam kita ini.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita bandingkan dengan kondisi di keluarga kita sahabat. Bagaimana anak-anak kita menikmati fasilitas yang kita berikan? Lebih banyak mana? Fasilitas yang mengarahkan anak-anak kita pada kebaikan (Islam) atau justru sebaliknya? So, sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita sudah terlanjur mengikuti tuntutan jaman dengan memberikan fasilitas seperti yang tercontoh di atas, ada baiknya kita juga membangunkan benteng pendidikan agama bagi anak-anak kita dengan porsi yang jauh lebih besar daripada saat-saat mereka bisa menikmati fasilitas-fasilitas itu.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pagi ini, saya baru saja berkunjung ke sebuah kantor yang ada di Kota Susu. Kota susu tahu kan? Yupz, Boyolali yang dalam bahasa Inggrisnya Crocodile Forget (yang ini ngawur tingkat tinggi.hehehe), maksud saya Kota yang punya Slogan Tersenyum. Kedatangan saya ke kantor itu bermaksud untuk menemui seorang petinggi di kantor itu. Maklum, yang namanya ketemu dengan orang yang berkesibukan tinggi tentunya bukan hal yang mudah, terlebih kalau belum janjian dan akhirnya saya pun harus menunggu cukup lama. Oleh salah seorang karyawan yang ada di kantor itu, saya diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu tamu yang cukup mewah lengkap dengan fasilitas yang cukup bagus. Sambil menunggu, di ruangan itu diputarkan sebuah video kajian untuk para orang tua di layar LCD TV yang lumayan besar. Saya pun menunggu ditemani ceramah oleh seorang ustadz dalam TV itu.
Nah, dalam kajian itu sang ustadz memberikan ceramah tentang fasilitas apa yang baik dan yang kurang baik untuk perkembangan anak. Sang ustadz mengawali dengan bertanya pada audiens “Ibu-ibu, pertemuan sebelumnya saya memberikan PR pada ibu-ibu untuk menanyai atau meminta nak-anak ibu menyebutkan 5 tokoh yang terkenal. Sekarang jawabannya apa bu? Lebih banyak yang menyebutkan Superman, Batman dan teman-temannya atau Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dan shahabat-shahabatnya?”. Peserta kajian pun menjawab dengan jujur agak malu-lamu dengan jawaban yang senada satu sama lain, yaitu tokoh-tokoh superhero. Kemudian sang ustadz mengatakan “Itulah hasil dari yang sudah kita lakukan selama ini.” Namun, ada seorang ibu dalam kajian itu sedikit mengelak dengan mengatakan “Tapi saya tidak pernah mengajarkan itu tadz.” Dengan bijak sang ustadz mengatakan “Ibu yang saya hormati, dalam kita mendidik anak, tentu kita harus pahami dulu bahwa pendidikan itu tidak hanya dalam keluarga saja, melainkan ada factor besar yang lainnya, sekolah dan lingkungan misalnya. Jika semua itu lepas dari control kita, tentu juga bisa membahayakan, terlebih jika kita tidak membentengi anak-anak kita dengan ilmu agama yang cukup, akan sangat mudah pengaruh-pengaruh negative masuk dalam diri anak kita. Nah, terkhusus kasus yang tadi, bagaimana anak-anak kita lebih hafal superhero daripada tokoh-tokoh Muslim, coba saya tanya pada ibu-ibu semuanya, Apakah ada diantara ibu-ibu di rumah ada yang tidak mempunyai TV?” Serentak ibu-ibu yang hadir sepakat mengatakan bahwa mereka semua mempunyai televisi. Kemudian ustadz pun melanjutkan “Nah, itulah ibu-ibu sekalian, barangkali itu yang belum kita sadari, kita memang tidak mengajarkan secara langsung, tapi kita memberikan fasilitas untuk anak-anak kita mengenal tokoh-tokoh itu. Dan mungkin yang belum kita lakukan adalah memberikan fasilitas juga bagi anak-anak kita untuk lebih mudah belajar tentang agama islam kita ini.”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba kita bandingkan dengan kondisi di keluarga kita sahabat. Bagaimana anak-anak kita menikmati fasilitas yang kita berikan? Lebih banyak mana? Fasilitas yang mengarahkan anak-anak kita pada kebaikan (Islam) atau justru sebaliknya? So, sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita sudah terlanjur mengikuti tuntutan jaman dengan memberikan fasilitas seperti yang tercontoh di atas, ada baiknya kita juga membangunkan benteng pendidikan agama bagi anak-anak kita dengan porsi yang jauh lebih besar daripada saat-saat mereka bisa menikmati fasilitas-fasilitas itu.
Saya : 100% Kak Wall
Senin, 28 April 2014
Posted by Kak Wall
Emansipasi di Negeri Kapital
Assalamu’alaikum
sahabat pembaca yang baik hatinya. Hampir saja hari ini saya lupa
menyapa sahabat lewat tulisan ini…waaaaahhhh bisa-bisa ada yang kangen
nih (pede dikit boleh kaannn? Hehehe)
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya menyaksikan siaran televisi yang sebenarnya acara humor. Lebih tepatnya dialog humor gitu lah. Kali itu tema yang diangkat tentang emansipasi wanita “Wanita karir atau Ibu rumah Tangga?” kurang lebih seperti itu judul pembahasannya. Entah memang sudah disetting atau benar-benar asli tanpa rekayasa, disana terjadi perdebatan yang cukup menarik. Salah seorang narasumber yang dia ini merupakan wanita yang boleh dibilang lebih sukses daripada suaminya secara materi, begitu ‘ngotot’ mengatakan bahwa wanita di jaman sekarang ini jangan mau kalah dengan laki-laki, wanita harus berkarir, toh buktinya hasilnya (materi) juga bisa lebih besar. Dia berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga saja merupakan pengekangan, lagi pula mengurus rumah tangga itu bukan tugas istri semata, tapi juga suami dan gampangnya sekarang bisa menggunakan jasa pembantu untuk mengurusi urusan rumah termasuk anak-anak.
Terlepas dari scenario atau bukan, ada hal yang cukup menarik disana, karena pada kenyataannya memang banyak kasus serupa yang terjadi di kanan-kiri kita. Suami istri semua bekerja diluar dan urusan rumah diserahkan pembantu. Katanya demi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apakah itu salah? Saya tidak akan membahas benar atau salahnya disini, karena kesemuanya itu akan memiliki kelebihan dan kekeurangan masing-masing, yang barang kali sahabat semua lebih bisa menerangkannya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, terkadang ada sudut pandang yang salah dalam memaknai bekerja dalam rumah tangga. Ketika seorang suami ditanya “Istrimu aktivitasnya apa?” terkadang menjawab dengan “Cuma dirumah, ndak kerja kok, Cuma jadi ibu rumah tangga.” Meremehkan, itu barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan bagi seorang suami yang menjawab dengan mengatakan “Cuma” seperti contoh tadi. Padahal, Kalau dihitung jenis dan jumlah pekerjaan yang dilakukan, barang kali apa yang dikerjakan seorang suami hanya sekian persen saja dari yang dilakukan seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Merasa tidak terima dengan diremehkan, tak sedikit istri yang akhirnya memilih untuk berkarir diluar, mencari penghasilan secara materi. Dengan dalih demi mencukupi kebutuhan karena hasil suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pada akhirnya, ketika semua egois seperti ilustrasi di atas, sering kali anak menjadi korban. Waktu untuk interaksi dengan orang tua menjadi langka. Belaian kasih sayang ibu menjadi mahal. Karena masing-masing sibuk hanya untuk mencari materi, materi dan materi yang ketika kembali ditanya akan menjawab “ini semua juga demi anak”.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba, kita renungkan kembali, kenapa ketika mendengar kata bekerja, yang terngiang pertama kali adalah penghasilan/uang/materi? Seorang ustadz dalam sebuah kajian menasehati saya bahwa “Ketika kamu bekerja, jangan hanya mencari materi (uang), carilah Allah. Insya’ Allah akan dicukupkan bagimu apa-apa yang kamu butuhkan, bukan hanya sekedar yang kamu inginkan.” Dalam Qur’an, tak banyak pula ayat yang mengajarkan kita untuk bekerja menumpuk-numpuk dunia. Bahkan kita hanya dianjurkan agar tidak melupakan bagian kita di dunia, seperti yang tertuang dalam QS. Al Qosos (28) ayat 77. “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia….”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita memaknai emansipasi hanya sebagai bentuk kebebasan seseorang (wanita) untuk dapat melakukan hal yang sama seperti laki-laki, termasuk dalam mencari nafkah, yang ujung-ujungnya bisa memicu persaingan dalam keluarga bahkan saling menyombongkan diri dengan penghasilannya masing-masing, maka alangkah meruginya diri kita. Sah-sah saja dalam rumah tangga semua bekerja yang menghasilkan uang, hanya saja tentu porsi dan cara serta tujuannya yang harus dikontrol agar tidak menimbulkan hal-hal yang justru jauh dari kata kebaikan. So, Emansipasi bukanlah sekedar materi.
Saya : 100% Kak Wall
Sahabat pembaca yang baik hatinya, beberapa hari yang lalu saya menyaksikan siaran televisi yang sebenarnya acara humor. Lebih tepatnya dialog humor gitu lah. Kali itu tema yang diangkat tentang emansipasi wanita “Wanita karir atau Ibu rumah Tangga?” kurang lebih seperti itu judul pembahasannya. Entah memang sudah disetting atau benar-benar asli tanpa rekayasa, disana terjadi perdebatan yang cukup menarik. Salah seorang narasumber yang dia ini merupakan wanita yang boleh dibilang lebih sukses daripada suaminya secara materi, begitu ‘ngotot’ mengatakan bahwa wanita di jaman sekarang ini jangan mau kalah dengan laki-laki, wanita harus berkarir, toh buktinya hasilnya (materi) juga bisa lebih besar. Dia berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga saja merupakan pengekangan, lagi pula mengurus rumah tangga itu bukan tugas istri semata, tapi juga suami dan gampangnya sekarang bisa menggunakan jasa pembantu untuk mengurusi urusan rumah termasuk anak-anak.
Terlepas dari scenario atau bukan, ada hal yang cukup menarik disana, karena pada kenyataannya memang banyak kasus serupa yang terjadi di kanan-kiri kita. Suami istri semua bekerja diluar dan urusan rumah diserahkan pembantu. Katanya demi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apakah itu salah? Saya tidak akan membahas benar atau salahnya disini, karena kesemuanya itu akan memiliki kelebihan dan kekeurangan masing-masing, yang barang kali sahabat semua lebih bisa menerangkannya.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, terkadang ada sudut pandang yang salah dalam memaknai bekerja dalam rumah tangga. Ketika seorang suami ditanya “Istrimu aktivitasnya apa?” terkadang menjawab dengan “Cuma dirumah, ndak kerja kok, Cuma jadi ibu rumah tangga.” Meremehkan, itu barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan bagi seorang suami yang menjawab dengan mengatakan “Cuma” seperti contoh tadi. Padahal, Kalau dihitung jenis dan jumlah pekerjaan yang dilakukan, barang kali apa yang dikerjakan seorang suami hanya sekian persen saja dari yang dilakukan seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Merasa tidak terima dengan diremehkan, tak sedikit istri yang akhirnya memilih untuk berkarir diluar, mencari penghasilan secara materi. Dengan dalih demi mencukupi kebutuhan karena hasil suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, pada akhirnya, ketika semua egois seperti ilustrasi di atas, sering kali anak menjadi korban. Waktu untuk interaksi dengan orang tua menjadi langka. Belaian kasih sayang ibu menjadi mahal. Karena masing-masing sibuk hanya untuk mencari materi, materi dan materi yang ketika kembali ditanya akan menjawab “ini semua juga demi anak”.
Sahabat pembaca yang baik hatinya, coba, kita renungkan kembali, kenapa ketika mendengar kata bekerja, yang terngiang pertama kali adalah penghasilan/uang/materi? Seorang ustadz dalam sebuah kajian menasehati saya bahwa “Ketika kamu bekerja, jangan hanya mencari materi (uang), carilah Allah. Insya’ Allah akan dicukupkan bagimu apa-apa yang kamu butuhkan, bukan hanya sekedar yang kamu inginkan.” Dalam Qur’an, tak banyak pula ayat yang mengajarkan kita untuk bekerja menumpuk-numpuk dunia. Bahkan kita hanya dianjurkan agar tidak melupakan bagian kita di dunia, seperti yang tertuang dalam QS. Al Qosos (28) ayat 77. “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia….”
Sahabat pembaca yang baik hatinya, jika kita memaknai emansipasi hanya sebagai bentuk kebebasan seseorang (wanita) untuk dapat melakukan hal yang sama seperti laki-laki, termasuk dalam mencari nafkah, yang ujung-ujungnya bisa memicu persaingan dalam keluarga bahkan saling menyombongkan diri dengan penghasilannya masing-masing, maka alangkah meruginya diri kita. Sah-sah saja dalam rumah tangga semua bekerja yang menghasilkan uang, hanya saja tentu porsi dan cara serta tujuannya yang harus dikontrol agar tidak menimbulkan hal-hal yang justru jauh dari kata kebaikan. So, Emansipasi bukanlah sekedar materi.
Saya : 100% Kak Wall


