Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Dongeng: TPA di Desa Antah Berantah Bag. 2

Episode yang lalu:

“Ustaz Ahmad : “Nah, hari ini kita belajar 3 dulu, besuk hari Kamis kita lanjutkan kembali. Siap?”

Santri :”Siaaap Ustadz…”

karena waktu sudah menunjukkan hampir menjelang shalat Maghrib, Ustad Ahmadpun mengakhiri kegiatan TPQ sore itu. Nah, ceritanya akan kita lanjutkan kembali esok. Insya’ Allah…”

—————————–xxx———————————–

Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, salam jumpa kembali dengan Kak Wall. Kita lanjutkan kembali ya kisah tentang cerita yang lalu?

“hari ini, ustadz ahmad berserta santri-santrinya telah kembali bersiap untuk belajar di TPQ mereka. Seperti di hari-hari sebelumnya, suasana antusiaspun tergambar jelas di wajah-wajah para santri, begitupun ustaz ahmad.

Ustazd Ahmad : “Assalamu’alaikum santri-santri…”

Santri :”Wa’alaikumussalam ustaaaaaaadz..”

Ustadz Ahmad :”Bagaimana? Sudah siap melanjutkan pelajaran kita tentang keistimewaan Al Qur’an yang kemarin?”

Santri : “Siaaaapppp”
Ustazd Ahmad :”Baik, kemarin kita sudah dapat tiga poin, yaitu Al Qur’an sebagai wahyu Allah, Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan Al Qur’an sebagai pembeda yang benar dan yang salah. Nah, sekarang yang ke empat… coba Mufli dibaca Qur’annya surah Asy Syu’ara ayat 196.”

Mufli :”Baik Ustadz. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab terdahulu.”

Ustadz :”Nah, itu dia, istimewanya Al Qur’an adalah telah tersebut dalam kitab-kitab terdahulu. lanjut ya?”

Santri :”Ya Ustadz…”

Ustadz Ahmad :”Selain tersebut dalam kitab-kitab sebelumnya, Al Qur’an juga membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Terdapat dalam surah Yusuf ayat 11. coba sekarang giliran Mail…”

Mail :”Kok Panjang Tadz?”

Ustadz Ahmad:”Kan jadi makin banyak pahalanya…”

Mail :”Oiya ya? Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukan cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Panjangnyaaaa…”

Ustadz Ahmad :”Ehhh, ndak boleh mengeluh…biar besar pahalanya. siapa yang bisa menyebutkan kitab-kita sebelum Al Qur’an?”

Santri :”Injil, Zabur, Injil, Taurat, Taurat, Zabur….” (saling bersahutan)

Ustadz Ahmad :”Betul sekali. Nah berikutnya, Al Qur’an itu juga tidak tertandingi, alias kitab yang tidak punya tandingan. yang ini terdapat dalam Al Qur’an surah Al Israa’ ayat 88. Siapa yang belum baca? emmm dika dulu..”

Dika :”Katakan : Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. Sudah Ustadz…

Ustadz ahmad :”Yak, bagus… berarti Qur’an itu hebat kan? Daaann, masih ada lagi lho, Al Qur’an itu selalu asli, murni, original. dari dulu ya seperti itu. mau tahu kenapa?”

Santri :”Mauuuuu…”

Ustadz Ahmad :”Mau aja apa mau bageettt?”

Santri :”Mau bageeeettttt…”

Ustadz Ahmad :”Karena,,, yang menjaga Al Qur’an itu Allah…”

Santri :”ooo…..ada ayatnya juga Tadz?”

Ustadz Ahmad :”Ada dong. Siapa yang mau baca? Rauf? Baik, buka Al Hijr ayat 9.”

Rauf :”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Ustadz Ahmad :”Baik, santri-santri semua. Pekan depan Ustadz mau mengadakan lomba. nanti, siapa yang bisa menyebutkan keistimewaan Al Qur’an yang sudah kita pelajari, ada hadiahnya. Setuju?”

Santri :”Setuju…”

Mufli :”Ayatnya juga ustadz?”

Ustadz Ahmad :”Boleh. yang hafal ayatnya hadiahnya lebih besar… Baik, karena hari sudah mau Adzan Maghrib, kita akhiri dengan berdo’a. Berdo’a Mulai…”

Merekapun berdo’a untuk mengakhiri kegiatan belajar hari ini. dan berakhir sudah cerita tentang Ustazd ahmad dan santri-santrinya yang belajar tentang keistimewaan Al Qur’an. semoga bermanfaat…”

Nah, sahabat pembaca yang baik hatinya, itulah akhir dari cerita kita hari ini, semoga menginspirasi. Aamiin…


Saya : 100% Kak Wall
Kamis, 13 Maret 2014
Posted by Kak Wall
Tag :

Dongeng: TPA di Desa Antah Berantah

Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya. Hari ini saya akan berbagi sedikit cerita dongeng untuk sahabat semua. Selamat membaca.

“Suatu sore, di sebuah Taman pendidikan Al Qur’an yang terdapat di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Taman pendidikan yang dibuat asri dengan mengutamakan suasana belajar seperti di alam terbuka, agar santri-santri lebih dekat dengan alam sekitarnya. Dengan saung-saung kecil beratapkan ijuk, mereka belajar setiap harinya. Beberapa saat sebelum waktu belajar tiba, semua santri telah siap dan tentunya sang Ustadzpun juga sudah datang. Di sana memang sangat diajarkan bagaimana harus disiplin waktu setiap harinya.

Ustadz Ahmad, itulah nama satu-satunya pengajar di TPQ itu. Beliau sudah banyak makan asam garam di dunia pendidikan TPQ. Nah sore itu, Ustadz Ahmad tidak mengajarkan santri-santrinya membaca, karena memang jadwalnya ternyata adalah pelajaran yang lain.

Ustad Ahmad : “Assalamu’alaiku wa rahmatullahi wa barakaatuh”

Santri : “Wa’alaikumusalam wa rahmatullahi wa barakaatuuh”

Ustadz Ahmad : “Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang kitab suci kita, apa nama kitab suci kita?”

Santri : “Al Qur’an…” (Santri-santripun serentak menjawab)

Ustad Ahmad : “Baik, ternyata kitab suci kita Al Qur’an itu banyaaaakkk sekali keistimewaannya lho. Hayo siapa yang tahu angkat tangan!”

Santri : “Al Qur’an hebat, Al Qur’an gak ada tangdingannya,,,Al Qur’an….” (saling bersahut santri satu dengan yang lainnya)

Ustad Ahmad : “bagus sekali. Nah, ustadz mulai dari yang pertama. Al Qur’an itu adalah wahyu Allah. Coba kamu Ihsan dibaca surah Al Haqqah ayat 40-41!”

Ihsan : “baik ustadz. Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan Al Qur’an bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.”

Ustazd Ahmad : “Benarkan anak-anak? Al Qur’an itu buatan Allah yang disampaikan ke Rasul Muhammad melalui Malaikat Jibril. Baik, yang ke dua sekarang. Al Qur’an petunjuk bagi manusia. Sekarang Aisy baca Surah Ali Imran ayat 138 coba!”

Aisy :”(Al Qur’an) ini adalah penerang bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Ustadz Ahmad :”Nah, kalau kita tidak mau tersesat, kita harus banyak-banyak belajar Al Qur’an. Yang ke tiga, Pemisah yang salah dan yang benar. Giliranmu Andi membaca surah Ath Thariq ayat 13″

Andi :”Yang depannya Sesunggunya Al Qur’an ini kan tadz?”

Ustazd Ahmad : “Iya betul, coba…”

Andi : “Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang haq dan yang batil.”

Ustazd Ahmad :”Nah, itu perkataan Allah yang membuktikan kalau Al Qur’an itu adalah pemisah yang benar dan yang salah. Baik, sudah berapa tadi keistimewaan Al Qur’an? Coba sebutkan!”

Santri : “Wahyu Allah…. Petunjuk bagi umat manusia… Pemisah yang benar dan salah…”

Ustaz Ahmad : “Nah, hari ini kita belajar 3 dulu, besuk hari Kamis kita lanjutkan kembali. Siap?”

Santri :”Siaaap Ustadz...”

karena waktu sudah menunjukkan hampir menjelang shalat Maghrib, Ustad Ahmadpun mengakhiri kegiatan TPQ sore itu. Nah, ceritanya akan kita lanjutkan kembali esok. Insya’ Allah…”

Baik sahabat, semoga belum puas dengan cerita di atas, karena kita akan sambung kembali. Insya’ Allah…


Saya : 100% Kak Wall
Senin, 10 Maret 2014
Posted by Kak Wall
Tag :

Pandawa Lima

Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik hatinya, salam jumpa penuh ceria di Kamis nan indah penuh berkah ini, Insya’ Allah. Sahabat-sahabat yang baik hatinya, adakah diantara sahabat sekalian yang pernah melihat pagelaran Wayang Kulit? Atau serial di Tipi-Tipi tentang kisah Mahabarata gitu? Atau minimal tau laahhh PANDAWA LIMA? Ya Kan? Yupz, tokoh pewayangan ini memang sangat terkenal dalam dunia pewayangan, 5 ksatria hebat dengan berbagai kelebihan masing-masing.
Nah, saya teringat cerita beberapa waktu yang lalu ketika saya mengikuti sebuah pelatihan. Dalam pelatihan itu, salah satu narasumber yang dihadirkan adalah seorang budayawan, terkhusus beliau piawai dalam seni Pedalangan atau Wayang. Dalam pelatihan itu, beliau menuturkan tentang filosofi Pandawa Lima yang dapat dikaitkan dengan dunia pendidikan. Kurang lebih seperti ini kutipan cerita beliau waktu itu :

“Pandawa Lima, sejatinya adalah satu kesatuan yang menggambarkan pribadi manusia. Lima Ksatria itu, sebenarnya hanyalah perlambang/symbol dari masing-masing sifat atau kelebihan yang ada pada diri manusia. Menanamkan sifat-sifat seperti watak kesatuan dari pandawa lima itu hendaklah dilakukan dari masa kecil seorang anak, karena jika demikian tentunya bukan hanya sekedar karbitan. Berikut ini akan saya gambarkan apa sih keistimewaan atau sifat apa yang digambarkan dari masing-masing tokoh.

Yang pertama, Puntadewa. Watak yang paling menonjol dari penggambaran tokoh ini adalah ketaatan kepada Tuhan YME. Makanya tokoh ini adalah tokoh tertua dalam pandawa, artinya tokoh yang pertama. Seperti dalam menanamkan kepada anak, tentu mengajarkan ketaatan kepada Allah haruslah yang pertama.

Yang kedua, Bima/Wrekudara dalam bahasa jawa. Watak utama tokoh ini adalah kekuatan. Kekuatan disini maksudnya adalah kemampuan untuk melakukan dan kerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Yang ketiga, Janaka/Arjuna. Tokoh ini symbol dari rasa cinta dan kasih sayang. Sifat ini sangatlah penting kita tanamkan sejak kecil, sekalipun itu dilakukan kepada makhlukNya yang terkecil sekalipun, misalnya semut, jangan liat semut dikit “Githes” atau apa bunuh dan lain sebagainya termasuk cinta kepada sesame manusia.

Yang ke empat dan kelima, yaitu Nakula Sadewa. Keselarasan, kerukunan dan keseimbangan adalah penggambaran dari karakter dua tokoh ini. Begitupun hidup ini juga harus seimbang, kita mendidik jangan melulu soal akhrirat semata, tetapi juga soal keduniaan. Tentunya dengan seimbang, tapi ingat, seimbang tidak selalu sama. Dan hidup juga harus rukun dengan sesame tentunya.

Jadi kesimpulannya adalah, kelima watak utama tokoh Pandawa itu adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Apalagi berdiri sendiri. Dan jika mampu kita tanamkan dalam kita mendidik anak-anak kita, Insya’ Allah anak-anak kita kelak akan menjadi anak yang baik. Dan jangan sampai hilang salah satu watak tersebut. Misalnya seperti ini, Taat ibadah kepada Allah, punya kekuatan untuk melakukan kebaikan, tapi tidak didasari dengan cinta, maka hasilnya juga tidak maksimal. Atau contoh lagi, dengan kiri kanan baik, cinta kepada sesama, tapi tidak punya ketaatan kepada Allah, tentu akan rusak juga. Oleh sebab itu, mari kita tanamkan watak-watak yang baik kepada anak-anak kita sejak kecil.”

Sahabat pembaca yang baik hatinya, itu tadi kutipan penjelasan dari seorang budayawan Wayang kulit yang bisa saya kutipkan untuk sahabat pembaca semuanya. Entah kebenaran dari cerita dalam Pewayangan itu nyata atau tidak. Tapi, setidaknya ada pelajaran yang dapat kita petik dalam penceritaan ataupun tokoh seperti yang digambarkan diatas. Semoga bermanfaat.

Saya : 100% Kak Wall
Kamis, 31 Oktober 2013
Posted by Kak Wall
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Artikel Menarik

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 100% Kak Wall -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -